XXI. Breaking News!

74 3 0
                                        

Malam itu, kondisi jalanan New York padat merayap. Banyak taksi yang berhenti di depan toko dan hotel di pinggir jalan. Berhias lampu lalu lintas dan penerangan jalan, mobil Fabian melaju pelan. Tidak jauh berbeda dari suasana meja makan, mereka masih diam. Hanya terdengar suara riuh hilir mudik dari luar. Melanie menatap lurus kearah jalanan sementara Fabian sibuk mencari kata dalam kepalanya untuk disampaikan pada Melanie.

Fabian mulai terbiasa dengan kehadiran Melanie dalam hidupnya. Rasanya aneh ketika wanita yang biasanya menimbulkan kehebohan dan dalam sekejap menjadi diam membisu. Baru jalan dua bulan dan Melanie dengan mudah mengikuti kebiasaan Fabian. Dalam waktu singkat Melanie mampu membuat Fabian sadar akan cinta hanya dengan mengajaknya makan malam keluarga.

"Terima kasih." Hanya itu kata yang sanggup Fabian keluarkan dari bilah bibirnya setelah tiba di depan apartemen Melanie.

Keduanya kembali membisu. Di parkiran dengan temaram cahaya dari lampu penerangan jalan, enggan ada yang ingin bersuara namun sang puan masih ingin mendengar penjelasan di balik kata terima kasih yang ia dengar. Apakah satu kata ajaib itu bisa membuatnya melupakan bagian tidak menyenangkan dari makan malam ini atau justru membuatnya terjaga hingga fajar menyingsing?

"Terima kasih sudah membantuku hari ini."

Melanie tersenyum miring. Ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Menjadi diri sendiri justru membuatnya susah melupakan hal yang tidak ingin ia kenang. Kenaifan menyiksanya. Ia jadi tidak bisa leluasa membuat kehebohan. "Aku yang terlalu naif, menganggap kau dijodohkan hanya perkara usia."

Tidak ada yang tahu sudah berapa lama mereka berada di dalam mobil sedan itu. Sama-sama menunggu siapakah yang akan mengakhiri kecanggungan diantara mereka sementara perjanjian mereka masih tersisa empat bulan lagi. Empat bulan, seperti de javu bagi Melanie. Berakhir dengan tidak baik sama sekali bukan harapan bagi siapa saja. Begitu pula Melanie. Cukup sudah dengan Sergio saja ia memiliki percintaan yang tidak sehat.

Atau seharusnya ia mendengar nasihat Fabian malam itu dengan baik. Jangan dekat dengan pria Italia. "Atas nama orangtuaku, aku minta maaf."

"Jadi, bagaimana? Masih ingin berkenalan denganku?"

Sepersekian detik, mencerna maksud Melanie. "Senang bertemu denganmu, Melanie."

Ucapan Fabian jauh lebih mengejutkan Melanie. Melanie tahu Fabian tidak pernah bercanda dengan apa yang ia ucapkan. Sekarang Melanie yang tidak bisa menanggapi ucapan Fabian. Orang lain penasaran dengan dirinya yang dulu, sementara ia sangat ingin mengubur dirinya yang dulu.

"Waktu terus berjalan, Fabian. Aku tidak bisa menghentikannya dan terus menerus di waktu yang sama. Sama seperti bumi, aku yakin kau juga. Kita semua berevolusi, Fabian. Jangan senang bertemu denganku yang dulu."

Apa yang dikatakan Melanie masuk akal. Lagipula Fabian tidak punya kehendak atas Melanie, namun bagian dari dirinya mengakui bahwa Melanie yang apa adanya lebih menarik. Tanpa topeng 'baik-baik saja' yang justru mengundang belas kasih Fabian.

"Menjadi dirimu sendiri bukan suatu kesalahan, Mel."

"Maaf Fabian. Aku rasa tidak bisa melanjutkan sandiwara kalau terus begini."

Berikut dengan Melanie yang berusaha membuka pintu mobil, namun usahanya sia-sia karena Fabian justru mengunci pintu dengan satu tombol yang ada pada kemudinya. Tatapan Melanie berubah nyalang. Baginya, yang dilakukan Fabian sudah terlalu jauh dari perjanjian. Hanya ada dua misi sejak awal, menjauhkan Sergio dari Melanie dan menggagalkan perjodohan Fabian.

Tidak ada misi mengembalikan jati diri dan lain hal diluar pekerjaan. Beda halnya dengan Fabian. Pria itu melihat Melanie bisa kembali menjadi dirinya sendiri tanpa perlu berkecil hati dan merasa bersalah. Fabian bukan ahlinya, entah darimana datangnya keyakinan demi melihat senyum Melanie yang ia sukai.

Trading the Spotlight [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang