II. Stargazing

154 16 2
                                        

New York malam hari masih ramai dan bersahabat bagi Melanie. Langit sembur jingga-keunguan begitu cantik menghias hiruk pikuk New York. Tepat dua jam setelah penyelenggaraan press conference diikuti dengan penayangan pertama film Stargazing, kini para pemain serta kru mengadakan pesta kecil-kecilan di aula hotel berbintang lima sebagai bentuk rasa syukur bahwa kerja mereka berbuah manis ditandai dengan tingginya antusias media dan penonton menunggu penayangan di seluruh bioskop New York. Akan lebih bagus lagi jika film yang dibintangi Melanie tembus hingga Box Office. Setidaknya, itu harapan semua orang yang ada di ruangan ini.

"Baru kali ini sebuah pertanyaan membuatku keringat dingin." ujar sang sutradara pada tiga orang di depannya, Melanie, Odille-manajer Melanie, dan Mike.

"Untung saja mereka bisa dialihkan." imbuhnya.

Bahkan para pemain serta tim Stargazing tahu betul tabiat buruk cemburunya Sergio itu. Lagipula, masih menjadi pertanyaan di kepala mereka masing-masing soal bagaimana awal mula Melanie dan Sergio bertemu. "tadinya aku mau mengatakan sekalian pada media."

Seketika ruangan sunyi senyap. Seolah sepakat menunggu Melanie mengatakan sesuatu. Dengan santai dan senyum yang masih lebar, siapapun pasti tahu bahwa itu adalah senyum kemenangan. "Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Sergio."

Seluruh mata yang tadinya tertuju kepada penuturan Melanie, terkejut. Tidak percaya. Menganggap apa yang Melanie sampaikan mustahil dilakukan terutama kepada model berambut keriting yang menjadi kekasihnya selama empat bulan belakangan. Bahkan hal itu membuat Odille sama terkejutnya dengan penuturan sang aktris. Meski begitu, ia ikut senang. Itu artinya tidak ada lagi yang menyulitkan pekerjaannya untuk membuat nama Melanie jauh dari pemberitaan gosip recehan.

"Itu baru benar, My Star." sahut Mike.

"Bukankah panggilanmu untuk Melanie terlalu manis? Aku khawatir nanti berbuntut panjang." Bagai tameng baja, Odille tidak bisa santai begitu saja walaupun Melanie sudah tidak bersama Sergio. Mike yang terkenal suka menebar pesonanya itu patut dijauhkan dari aktrisnya. Bagaimana tidak, sebelum bertunangan dengan Laura saja ia kerap masuk berita gosip karena selalu berkencan dengan lawan mainnya dalam film.

"Pencemburu seperti Sergio sangat tidak cocok denganmu." diikuti dengan gelengan kepala dan jari telunjuknya yang bebas untuk menggenggam gelas sampanyenya.

"Aku sangat menghargai keputusanmu, Mel. Jujur saja, setiap kau ke set dengan kulit membiru itu aku tidak terima dan sedih disaat yang bersamaan." timpal sang sutradara.

Bagaimana pun, sulit untuk menyudahi hubungan dengan pria pencemburu. Ia tidak akan terima dan tidak akan pernah menerima keputusan sepihak Melanie. Melanie paham itu. Terbukti dengan hadirnya Sergio di acara press conference siang tadi. Namun, bukan Melanie namanya jika ia mengalah dengan keadaan.

Sepulang dari hotel, Odille berniat menginterogasi Melanie perihal yang baru saja ia katakan di muka umum. Namun sayang seribu sayang, lelaki dengan tinggi hampir menyentuh angka dua meter itu tengah menunggu Melanie selesai urusannya bersama rekanan Stargazing di lobi hotel. Dengan senyum sumringah, ia berjalan menghampiri sang terkasih dan memberikan buket bunga yang seharusnya ia berikan tepat setelah press conference usai.

Odille yang menyaksikan hal itu mendengus pelan. Bahkan Melanie berhenti dan berusaha merenggangkan pelukan Sergio.

"Bukannya aku sudah bilang selesai, ya?" tanya Melanie yang masih dalam dekapan Sergio.

"Ayo kita selesaikan di rumah. Aku sudah meyiapkan yang kau suka sebagai hadiah atas perilisan film terbarumu." ujarnya antusias.

Baik Melanie maupun Odille mengembuskan napas kasar. "Aku kira kau sudah pulang, ini kacamatamu terselip di bawah piringku, My Star." dalam situasi seperti ini, Mike masih saja memanggil Melanie dengan nama panggilannya di film Stargazing.

"Oh, hai man!" sapa Mike pada Sergio. Ia mengalungkan satu lengannya di bahu sang model, seolah mereka kawan lama yang jarang bertemu.

"Singkirkan lenganmu karena kita tidak sedekat itu." desis Sergio dengan senyum mematikan terpatri di wajahnya.

"Akan lebih baik lagi jika kau meninggalkannya sendiri. Bukan begitu, Tuan Antonio?" balas Mike.

Tatapan menyalang dari Sergio menunjukkan tanda bahaya untuk Melanie. "Sayang, kau pasti lelah. Biar aku antar ke apartemen."

📸 blitz

Kilatan dari kamera seseorang menyala dan sudah bisa dipastikan bahwa mereka bertiga menjadi pembicaraan hangat setelah ini. Apa boleh buat, Sergio tidak peduli akan pemberitaan soal dia. Namun berbeda jika itu tentang Melanie, kesayangannya. Maka, dengan sigap ia menarik Melanie dan merengkuh pinggangnya posesif. Semakin erat, semakin baik, pikirnya. Berbeda dengan Melanie yang tersiksa sebab ingin menghirup oksigen saja butuh usaha ekstra.

Di depan mobil dua pintu milik sang model, Melanie mendorong Sergio guna menciptakan jarak sejauh yang dia bisa. "Aku tidak bercanda soal semalam. Ayo kita akhiri saja." sorot matanya lemas. Pertama kalinya, Melanie memohon kepada lelaki posesif dihadapannya.

Detik itu juga, kedua rona si perempuan dicakup dalam satu tangannya yang besar. Kilatan kemarahan masih tersisa dari sorot kecokelatan sang model "Aku tidak mendengar apapun semalam." Sergio menunduk, mengambil napas kasar.

"Aku. Tidak. Mau. Berpisah. Denganmu. Melanie Rosewood." Kalimat penuh penekanan terdengar putus asa dan menyiksa disaat yang bersamaan.

"Terserah. Aku ingin fokus dengan karirku." cengkraman pada pipi masih tidak seberapa dibandingkan dengan biru lebam yang kerap ia dapatkan sehabis mengambil adegan mesra dengan Mike. Tidak ingin munafik, Melanie menyukai Sergio yang memberikan cintanya begitu besar. Namun selama jiwa dan akal sehatnya masih berfungsi, ia lebih memilih nyawanya untuk tidak mati konyol di tangan pria berdarah Italia itu.

"Oh begitu? Setelah semua keberhasilan yang kau dapat, kau langsung membuang ku begitu saja?!" dan sikap tempramental yang bisa meledak sewaktu-waktu semakin meyakinkan Melanie untuk segera lepas dari Sergio.

"Oke. Mungkin hari ini kita sama-sama lelah. Kita bicarakan besok dalam kondisi yang lebih baik. Kau pulang dengan Odille, ya." intonasinya melunak ketika meminta Melanie untuk pulang bersama si manajer.

Odille masih setia di lobi. Ia benar-benar menunggu sampai Melanie naik ke mobil Sergio atau dia yang mengantar Melanie ke apartemen sang aktris.

"Sudah ku duga tidak akan semudah memadamkan api pada kompor. Melihatmu menjadi diam begini, entah kenapa aku merasa bersalah."

"Hei, memangnya aku kenapa? Kau melihatku dengan tato baru? Tidak, kan? Sudahlah ayo kita pulang."

Selama perjalanan pulang, Melanie tidak berhenti menatap cahaya-cahaya dari gedung pencakar langit yang ia lalui. Tatapannya menerawang, pikirannya penuh, fisiknya lelah, tapi jiwa pejuangnya menolak kalah. Ia meyakini bahwa setiap kesuksesan ada hal yang dipertaruhkan dan itu mutlak. Tidak ada keberhasilan yang instan. Salah satu yang ia pertaruhkan adalah nyawanya sendiri.

Sejak menjadi terkenal, Melanie sering mendapat teror dari orang tak dikenal. Tak jarang mengkritik dengan pedas bagaimana kemampuannya dalam berakting. Belum lagi kisah asmaranya dengan Sergio. Tidak sedikit penggemar Sergio yang menyerangnya, menganggapnya hanya ingin menggunakan ketenaran Sergio sebagai batu loncatan supaya lebih terkenal. Sayangnya, hal itu tidak benar. Ia telah mengenal Sergio sejak berada dalam satu sekolah teater meski baru menyadari fakta itu saat telah menjadi sepasang kekasih dan ia memulai karirnya sendiri setelah video klip band indie menggunakan kemampuan aktingnya.

Disamping itu, ia turut berbangga diri. Inilah yang ia inginkan. Bermain peran, menjadi apapun yang penulis skenario inginkan, membawakan pesan lewat karakter yang ia bawakan. Jadi, sama sekali tidak merugi atas apa yang sudah korbankan selama ini. Kecuali satu hal yang ia sesali, berkencan dengan Sergio.

Keputusannya yang gegabah menjebak dirinya dalam lingkup hubungan tidak sehat. Mungkin bagi sebagian orang yang melihat perlakuan Sergio pada Melanie, mereka adalah pasangan yang serasi dan romantis. Sergio yang selalu melindungi Melanie dari serangan warga net, Sergio yang selalu membuat Melanie bersemu merah dihadapan media, Sergio yang selalu ada dimana pun Melanie berada. Sergio yang selalu mencurahkan segala rasa dan bentuk cintanya pada Melanie tanpa mengerti yang sebenarnya diinginkan oleh Melanie.

🎬🎬🎬



-bersambung-





(guys!!! Kalau ada typo let me know yaa, lubyu 🦭💋)

Trading the Spotlight [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang