XII. Hanya Teman

71 4 0
                                        

Dering suara telepon berbunyi nyaring mengisi keheningan kamar yang ditempati dua wanita asal New York. Membuat salah satu dari mereka menggeliat dan berusaha membuka mata, Melanie. Merasa terganggu dengan suara bising dari ponsel yang diyakini bukan miliknya, Melanie menyenggol kaki perempuan yang masih terlelap dalam tidurnya agar Odille segera mematikan suara mengganggu itu.

"Bukan punyaku." kata Odille setelah mengecek ponselnya yang tenang. Jadwal hari ini hanya keberangkatan ke New York. Jadi, ia sengaja tidak membuat ponselnya sibuk sebelum perjalanan panjangnya ke bandara.

"Ah yang benar saja! Aku tidak menggunakan nada dering ini." Mengumpulkan sisa kesadaran yang ia punya dari tipsy semalam, Melanie bangkit dari tidurnya dan mencari sumber suara ponsel itu berada.

Langkah kakinya terhenti di depan single couch yang ada di samping lampu berdiri. Di atasnya ia temukan jas yang diyakini bukan miliknya. Dering ponsel yang tak kunjung berhenti berasal dari bawah tumpukan jas itu. Tertera nama Nigel dengan foto seorang pria tan mengenakan topi baseball. Detik berikutnya, Melanie segera mengangkat panggilan tersebut.

"Kau mau sampai jam berapa disini?" terdengar suara keluhan dari Nigel.

"Maaf, kau yang punya ponsel?'

"Kau sebegitu marahnya denganku sampai mengubah suara segala? Bermurah hatilah sedikit, ya? Aku lapaaar."

"Maaf, Nigel. Tapi sepertinya Fabian meninggalkan ponselnya di saku jas."

"OH! Melanie?"

"Ya. Ini aku."

"Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam sampai bisa mendengar suara Melanie dari telepon? Bukankah kau akan ke New York hari ini?"

Dengan kemampuan mengingatnya yang minim, ia mencoba untuk memastikan keberangkatannya ke New York. "Aku rasa masih bisa memberikan secara langsung. Dimana aku bisa menemuinya?"

Secepat kilat Melanie bergegas mandi dan membangunkan Odille. Meminta wanita berkacamata itu untuk memanggil layanan cuci kering kilat untuk jas Fabian.

"Jadi kita ke sirkuit hanya untuk mengembalikan ini?" tanya Odille sembari mengangkat hanger dengan jas yang akan ia antar ke layanan cuci kering. Disetujui dengan gerakan naik turun alis sang aktris.

Raut jengkel yang ditunjukkan oleh Odille dipahami Melanie. Enggan berdebat karena masalah yang belum ia ceritakan pada manajernya itu, Melanie buru-buru menyatakan, " aku tau. Akan aku bayar di taksi kesana."

"Yeah, sebaiknya begitu." kemudian Odille melenggang ke kamar mandi untuk bersiap sembari menunggu jas Fabian selesai dikerjakan.

Pandangan Melanie jatuh pada ponsel Fabian yang kembali berdering. Ia melirik sekilas nama penelepon yang tertera, berpikir bahwa Nigel kembali menelepon untuk pindah tempat. Namun tebakannya salah. Wajah wanita paruh baya menghiasi profil yang menelepon. Nama 'Madre' mengungkapkan siapa yang menelepon. Ibu Fabian.

"Apa menurutmu aku harus mengangkatnya?" tanya Melanie pada Odille.

"Jangan."

"Huh?"

"Karena kau tidak tahu seperti apa ibunya."

"Oke aku angkat. Barangkali butuh pertolongan." Ponsel Fabian sudah ada dalam genggamnya. Hanya sekali sentuh, maka akan tersambung pada sang penelepon.

Tidak terwujud sebab Odille yang memperhatikan tingkah impulsive Melanie cukup geram. "Kemana otakmu, Mel? Dia bukan urusanmu." hardik Odille.

Melanie semakin bimbang hingga panggilan tersebut berakhir dengan sendirinya. Keduanya melempar tatap, merasa lega sebab tidak perlu berdebat soal mengangkat telepon.

Trading the Spotlight [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang