XXIII. Badai Telah Usai

71 3 0
                                        

Di tengah hingar bingar pub, Melanie tertawa bahagia bersama tim produksi film untuk merayakan berakhirnya proses syuting film dengan baik. Gelas-gelas berdenting tatkala mereka bersulang tinggi-tinggi. Tanpa menyadari sudah habis berapa botol dan makanan pendamping hanya untuk satu malam. Melanie tidak mau ambil pusing. Ia merasa sepadan dengan pekerjaan yang sudah ia jalani selama ini. Ia juga ingin bersenang-senang tanpa mempedulikan apapun yang menghambatnya.

Beruntung masih ada Odille yang setia menemaninya meski satu persatu anggota tim produksi mulai tak sadarkan diri dan sebagian telah meninggalkan pub. Dalam ambang batas kesadarannya, Melanie meracau tidak jelas sebab tertutup dengan suara musik yang sangat keras. Membuat Odille sedikit kesal saat memapahnya menuju mobil. Telinganya sudah hampir kebas mendengar suara begitu kencang ditambah dengan racauan Melanie yang tepat disamping telinganya.

Ajaibnya, ketika tiba di dalam mobil Melanie tidak lagi meracau dan jauh lebih tenang. Rupanya ia sudah sepenuhnya hilang kesadaran. Kini giliran Odille yang bersyukur sebab telinganya selamat dari tanda-tanda menjadi tuli. Belum pernah sekalipun ia menyaksikan Melanie tenggelam dalam minuman yang memabukkan itu hingga tidak sadarkan diri seperti saat ini. Meski saat menghadiri pesta ulang tahun rekan sesama aktrisnya, Melanie hanya minum beberapa gelas dan tidak membiarkan dirinya mabuk hingga sepenuhnya pingsan.

"Kenapa diam saja?" Odille terkejut sebab Melanie tiba-tiba menegurnya.

"Kau mau kemana?" Barulah Odille menyadari bahwa Melanie masih meracau. Melanie tidak sepenuhnya merujukkan pertanyaan itu padanya.

"Manusia selalu berubah, kau tahu? Kita berevolusi."

"Aku tidak suka melihat diriku yang dulu. Aku tidak suka terlihat lemah." Odille melihat Melanie bergerak gusar menggeliat ke bagian jok yang lebih luas.

"Aneh ya? Kau ingin bertemu denganku yang dulu, sementara aku tidak ingin bertemu dengannya lagi." lanjutnya, diiringi dengan tawa hambar.

"Aku bahagia menjadi diriku yang sekarang ..." terdengar helaan napas panjang, kemudian ia melanjutkan, "... namun kadang aku juga rindu diriku yang dulu." cicitnya.

"Sudah kuingatkan ..." ucapnya menggantung.

"Kau ..."

"Kau jangan jatuh cinta dengan aku yang dulu."

Sehingga Odille tahu kepada siapa semua racauan itu ditujukan. Meski Melanie sosok yang pandai bergaul dan menempatkan diri dalam lingkungan baru, hanya dalam hitungan yang menjadi teman dekatnya. Untuk saat ini, kemungkinan yang ada dalam benak Odille adalah Fabian. Ia tahu sebab dua hari yang lalu, keduanya tengah mengadakan makan malam bersama keluarga Fabian. Odille juga jadi tahu bahwa Melanie sedang tidak baik-baik saja.

Samar-samar, Odille mendengar suara isak tangis dari arah Melanie meringkuk. Bahkan Odille yang sudah lama bersama Melanie masih terkejut melihat aktrisnya itu menangis sesegukan. "Jangan mencintai aku yang dulu. Kumohon jangan."

"Aku tidak ingin orang lain mengasihani diriku lebih dari aku."

Diam-diam Odille paham bahwa Melanie yang sebelum kenal dengan Sergio begitu naif dan mudah terperdaya oleh kata cinta. Itu sebabnya Melanie jatuh kedalam obsesi Sergio dan susah membedakan mana cinta dan mana obsesi semata. Hingga dirinya dapat perlakuan yang kasar dari Sergio hanya perkara tidak mengangkat telepon, pulang tengah malam tanpa berkabar, bahkan sekedar pergi bersama rekan aktris dan aktor akan menjadi mala petaka bagi Melanie. Mengingat itu membuat Odille turut merasa sedih.

🎬🎬🎬

Sengaja ia tidak mengantar kepergian Fabian dari New York dan kembali pada rutinitas masing-masing seperti biasanya. Seperti tidak terjadi apapun diantara mereka. Sebisa mungkin ia menghindar dari media dan memberikan pernyataan-pernyataan yang wajar untuk dilakukan sebagai sepasang kekasih. Jawaban paling aman andalannya adalah 'kami saling mengerti pekerjaan satu sama lain dan itu hal yang lumrah."

Trading the Spotlight [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang