III. Pioretti's Clan

122 12 2
                                        

Balapan yang diadakan di Sirkuit Monza begitu meriah hingga tiga hari berturut. Terutama kalangan inti keluarga Pioretti yang akhirnya melihat kesungguhan cucu, keponakan, dan putra semata wayang mereka di arena balap. Mereka berkumpul di rumah besar keluarga Pioretti untuk merayakan pencapaian Fabian. Seperti yang dikatakan oleh pelatih sekaligus pimpinan timnya bahwa, "akhirnya aku melihat sisi lain dari dirimu yang jauh lebih keren. Tingkatkan lagi dan aku yakin kau akan menandingi Jonathan dengan begitu, perjanjian awal bisa ditanda-tangan ulang." Keluarganya pun mulai membuka diri untuk mendukung Fabian dan kegiatannya, tidak ketinggalan perihal asmaranya yang melekat dengan kemajuan karirnya.

Jika menjadi anak tunggal adalah sebuah anugerah bagi mereka yang lahir dan dimanja, Fabian punya pendapatnya sendiri bahwa menjadi anak tunggal bukanlah anugerah yang patut dibanggakan, sebab seluruh tanggungjawab dikerahkan pada pundaknya. Tidak bisa diserahkan atau dititipkan kepada siapapun selain dirinya.

"Nana bangga sekali. Seandainya dada-mu masih ada, dia akan membuat sirkuit dengan namamu." ujar tetua Pioretti, nenek Fabian.

Tawa bahagia dan gembira mengisi separuh kekosongan ruangan kediaman keluarga besar Pioretti. "Itu yang aku harapkan, Nak." imbuh sang papa.

Sebenarnya yang terjadi saat itu adalah amarah yang ia luapkan atas kekesalannya pada papanya. Ia marah jika harus meninggalkan jiwanya pada dunia yang tidak begitu ia kuasai. Dunia mode dan retail sama sekali dua hal yang rumit dan terlalu dinamis untuk Fabian yang menyukai hal-hal sederhana. Singkat dan langsung merujuk pada intinya.

"Nigel, apa ada wanita yang dekat dengan dia?" meski berbisik pun, Fabian masih bisa mendengar dengan jelas pertanyaan dari sang mama.

Netranya terbelalak dengan garang, seakan tidak setuju penuturan sang mama, berbanding terbalik dengan suara protesnya yang terdengar seperti rengekan anak kecil, "Ma!"

"Biar aku yang menjelaskan, Tante." ujar Diana, sepupunya yang kebetulan melewati tiga orang yang sedang berkumpul itu.

"Tunggu apa lagi? Usiamu sudah cukup, karirmu mulai cemerlang, kau tampan dan-" Diana mengendus wangi parfum Fabian kemudian melanjutkan, "kau wangi! Wanita mana yang tidak mau menjadi kekasihmu? Ha? Bilang padaku."

"Kenapa harus bilang padamu? Merepotkan."

"Ya agar aku bisa menceritakan semua keburukanmu." Kemudian diiringi dengan tawa menggelegar dari sepupu usilnya itu. Namun tidak bertahan lama, sebab detik berikutnya kedua kelopak mata secantik milik rusa itu memicing curiga.

"Atau jangan-jangan kau ini tidak suka wanita, ya?"

"HEI! DIAM KAU!" gertak Fabian. Diikuti dengan langkah seribu kaki Diana, membebaskan diri dari amukan lelaki bermata cokelat madu itu.

Sejenak suasana di kediaman keluarga Pioretti bak potret keluarga bahagia di luar sana. Nigel pun setuju hal itu. Ia yang kini hidup sendiri, jauh dari keluarganya bisa merasakan bahwa sebenarnya keluarga bosnya adalah keluarga impian. Saling mendukung meski caranya sedikit unik. Saling menjaga satu sama lain agar bisa hidup dalam kesejahteraan bersama. Tidak ada yang boleh tertinggal atau sampai merasakan kesulitan hidup.

"Bagaimana, Nigel?" Nigel yang tersadar belum menjawab pertanyaan dari mama Fabian sedikit tersentak dari lamunannya.

"Ah, Tante. Seperti tidak tahu Fabi saja."

Ya, sebagai mama yang melahirkan Fabian tentu paham karakter sang putra melebihi siapapun. Putra semata wayangnya memang pemilih sejak kecil. Jika dia tidak suka, seumur hidupnya ia tidak akan suka. Hal-hal kecil yang mengganggu bisa merusak mood-nya seharian bahkan beberapa hari berikutnya. Sangat kaku dan berprinsip. Begitu pula sebaliknya. Jika ia suka dengan sesuatu, ia akan mengusahakan bahkan sampai bumi terlipat sekalipun.

Itu pernah Fabian lakukan saat ia kasmaran dan masih bisa dikelabui oleh kata 'cinta'. Saking memabukkannya ia tidak sadar bahwa itu juga yang menyiksanya. Mencintai seseorang jauh dari kata sederhana yang selalu ia pegang. Terlebih, seseorang yang pernah ada dalam hidupnya itu telah menyalahgunakan kepercayaannya. Hal mendasar dan klasik. Itu juga yang membuatnya sulit mempercayai perempuan yang ingin mengenalnya lebih dekat.

"Berapa lama kau di Milan?"

"Lusa harus terbang ke Canada, Om." Melihat Fabian yang enggan menjawab, Nigel mengambil alih mewakili bosnya untuk menjawab.

"Hmm ..." Pria paruh baya yang duduk di hadapan Fabian mengangguk sambil tetap melanjutkan kegiatan memutar spaghetti pada garpunya.

"Kalau begitu, besok makan malam lah di rumah sebelum berangkat ke Canada."

"Ini sudah makan malam bersama. Ada apa lagi?" Fabian tau, akan ada sesuatu yang menurut papanya penting untuk ia ketahui.

Pria dengan uban yang menyebar tidak merata itu membersihkan tenggorokannya sebelum melanjutkan ucapannya, "Papa berencana untuk memperkenalkan mu kepada Louisiana, putri pemilik majalah mode bulanan." Baru ingin menyanggah dan menolak mentah-mentah usulan sang papa, Fabian kembali dibuat terdiam, "atau kau sesekali berkunjunglah ke kantornya. Siapa tahu kau jadi ikut tertarik di dunia mode."

Lelah. Telinga Fabian sungguh lelah mendengar keinginan sang papa yang tidak juga menyerah. Sejatinya, pemikiran kedua orang tua Fabian sudah benar. Meminta anak satu-satunya itu untuk meneruskan bisnis di dunia mode dan retail agar tidak mati sia-sia. Namun prinsip tetaplah prinsip. Bagai hutan bambu yang sempat ia kunjungi saat di China, prinsipnya mengakar dan pantang goyah.

"Nigel, apa kau tidak salah mengingat jadwal? seingat ku besok ada technical meeting sebelum ke Canada."

Sementara itu, sang papa hanya tersenyum samar menanggapi pengalihan topik putra semata wayangnya. Fabian melihat itu, sorot mata elangnya menatap "aku tidak mau, Pa. Tidak untuk waktu dekat. Tidak untuk selamanya." Keputusannya bulat. Ia berdiri dan membiarkan meja makan neneknya berlubang karena kepergiannya bersama Nigel.

"Tidakkah kau keterlaluan meninggalkan nana-mu ditengah makan malam?"

"Tidakkah mereka yang keterlaluan memintaku harus begini harus begitu tanpa tahu apa yang aku mau?"

Nigel yang mendengar keluh kesah bosnya mengusak wajahnya kasar, "ayolah kawan. Itu karena mereka ingin yang terbaik untukmu. Jangan kekanakan."

Dipimpin oleh Fabian, langkah keduanya berhenti. Tepat di halaman rumah sang nenek. "Ya, aku memang kekanakan. Jadi anak tunggal membuatku kekanakan memang begitu dari dulu. Kau baru menyadarinya sekarang?!" Suasana hatinya sudah buruk, diperparah dengan ocehan manajer yang sama sekali tidak membantu.

'Mampus saja kau Nigel.' batin sang manajer, menyesali ucapannya beberapa detik lalu.

"Bukan begitu, maksudku ..."

"Apa?!"

Ting!

Sebuah notifikasi masuk dari ponsel Nigel. Membiarkan ketegangan sedikit menguar dari keduanya. Dirasa sang manajer butuh tempat privasi, Fabian meninggalkan halaman rumah menuju ke mobilnya yang terparkir di seberang taman bunga neneknya.

"Hei bos! Aku tahu suasana hatimu sedang buruk malam ini, tapi aku baru saja menerima pesan dari papamu untuk mengirimkan jadwal mu padanya selama satu bulan ke depan. Aku paham kau pasti tidak mengizinkanku mengirimnya, tapi bagaimana pun ibuku selalu berpesan untuk selalu menghormati orang tua..." cerocos Nigel semakin membuat Fabian naik pitam. Jika bisa keluar dari tempatnya, netra cokelat madu itu keluar saking geramnya terhadap kelakuan sang manajer. Apa boleh buat, manajernya yang sangat patuh dan penurut itu tidak bisa dihentikan.

Suka atau tidak, Fabian hanya akan menyiapkan mentalnya untuk satu bulan mendatang. Entah kejutan apa lagi yang orang tuanya beri kepada putra semata wayangnya.









-bersambung-

Hai-hai! Trading the Spotlight akan up setiap jam 7 ya. Terima kasih banyak untuk yang sudah vote dan komen. Sebagai ucapan terima kasih, aku akan membalas satu persatu di hari Minggu.
Lubyu 🦭💋







Trading the Spotlight [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang