Terik matahari menyinari penduduk Milan. Berkat pemberitahuan mendadak oleh Nigel semalam bahwa keberangkatannya ke Canada diundur hingga mobilnya selesai diperbaiki. Fabian memutuskan untuk latihan mandiri di sirkuit Monza dengan mobil sport pribadinya. Tentu, ditemani Nigel yang cerewet, "aku tahu kau kesal padaku, tapi kenapa harus menyeret ku kemari sementara cuaca panas begini?!"
"Baiklah, baik. Karena biaya sewa sirkuit ini tidak murah, seharusnya kau sekalian evaluasi kesalahanmu kemarin." lanjutnya.
Memang itu tujuannya. Selain kesal terhadap Nigel, ia memang tidak ingin liburnya bagai anjing di musim panas. Hanya berdiam diri dan bermalas-malasan. Bagaimanapun, ia adalah elang yang mengudara. Dari atas tribun, kedua matanya memicing untuk mempelajari kembali tiap tikungan yang berkelok. Tidak terlalu tajam, namun memperhitungkan setiap hal yang bisa memberikan kesempatan untuknya mengambil alih posisi yang lebih bagus dari sebelumnya. Mendadak ego dan harga dirinya mengambil alih untuk mempertahankan profesi yang dicintainya itu.
Pandangannya fokus pada lahan berkelok warna abu-abu sambil sesekali memperhatikan spidometer untuk memantau kecepatan yang ia gunakan. Satu putaran ia tempuh dalam waktu kurang dari tiga menit. Ia lanjutkan hingga sang surya menjadi lebih teduh. Menyadari hal itu, Fabian segera menepikan mobilnya dekat dengan tempat masuk tribun. Mengganti pakaian balap dengan kemeja longgar biru navy. Ia merasa hidup kembali.
Hidupnya terasa damai sampai ia menemukan Nigel memandang dirinya dengan tatapan tidak bersahabat. Melipat kedua tangannya, membuang napas kasar berkali-kali. "Sudah puas belum balas dendamnya?" tanya Nigel dengan nada sarkas.
"Sudah."
"Oh, kau sungguh balas dendam?!" sungut Nigel. Alih-alih menjawab, Fabian memberikan tatapan bagai isyarat agar NIgel diam sejenak.
Suasana hatinya sudah membaik, harap Fabian sederhana. Agar tidak ada yang merusak suasana hati dan pikirnya yang kacau akan beberapa hal yang terjadi belakangan. Seiring dengan ia mengemudikan mobil sport di lintasan sirkuit tadi, ia menyadari satu hal yang pasti bahwa setiap manusia hidup untuk belajar. Apa yang terjadi padanya belakangan adalah sarana agar dia belajar lebih baik. Selain belajar, ia juga sadar bahwa menjadi terkenal seperti saat ini merupakan bagian dari hasil yang telah ia pelajari. Seakan ia berkaca pada dirinya di masa lalu, apa yang terjadi padanya saat ini memiliki maksud yang tidak ia mengerti.
"Mana ponselmu?"
Rupanya selain suasana hatinya membaik karena tidak mendengarkan omelan Nigel, pengaruh dari tidak adanya ponsel sangat membantu. Bukan tanpa sebab, benda serba bisa itu juga bisa menjadi pembawa berita yang tidak ingin ia dengar dari kedua orangtuanya pun dari media yang kini selalu menyebut namanya.
Sementara Fabian sibuk mengingat dan mencari dimana ia letakkan ponsel terakhir kali, Nigel dengan raut kesalnya mengatakan, "sudahlah. Lupakan. Mau kau cari seluruh sirkuit juga tidak akan ada."
"Kau tahu dimana ponselku?" tanya Fabian. Meski begitu, tanpa ponsel satu-satunya ia juga tidak bisa membayar apapun yang ia inginkan.
Nigel menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia tahu dimana ponsel Fabian berada saat ini. "Ponselmu ada di Melanie."
Mendengar hal itu, Fabian merasa sekitarnya berhenti bergerak. Bahkan untuk bernapas selayaknya manusia, ia masih berusaha.
"Bagaimana bisa?"
"Kau benar-benar tidak ingat?"
"Kalau aku ingat-" kata-katanya menguap di udara, ingatannya baru kembali.
"Ah! Tidak mungkin...?"
Dijawab oleh Nigel dengan anggukan mantap sementara mimik keraguan melekat pada Fabian. "Dia baru saja mengangkat telepon dariku."
Bak kesetanan, Fabian menggeleng ribut. Menolak fakta bahwa kini ponselnya ada pada Melanie. Ia juga menepuk pelan dahinya, merutuki diri atas kecerobohannya. Bagaimana bisa ponselnya tertinggal di saku jas yang ia berikan untuk menutupi bahu Melanie semalam sungguh di luar perilakunya.
"Lalu bagaimana?"
"Penerbangannya beberapa jam lagi. Dia harus ke New York malam nanti. Harusnya bisa bertemu." jawab Nigel santai. Sontak hal itu membuat Fabian melirik tajam pada manajernya. Rupanya Nigel sengaja melakukannya.
"Bukankah aku bilang ini kesempatan yang bagus, Fab? Kau bisa menggunakan ini untuk memperkuat batalnya perjodohan kekanakan itu."
"Sudahlah. Sekarang dimana aku harus menemuinya?"
"Tidak jauh. Karena tadi dia menanyakan hal yang sama denganmu."
"Lalu kau jawab disini?"
Tanpa butuh waktu lama, Fabian dapat melihat sosok Melanie yang tengah berjalan kearahnya. Angin yang berhembus dari ketinggian tempat mereka berada membuat surai keemasan milik Melanie bergelombang, mengikuti kemana arah angin membawanya. Perpaduan blouse panjang dan mini tartan skirt membuat kesan dirinya lebih tinggi. Pada masing-masing tangannya dipenuhi dengan tas belanja dan tas makanan. Pemandangan yang mampu membuat Fabian merasa gugup lebih dari pengumuman waktu dimulainya pertandingan.
"Hai, maaf ya sudah membuat kekacauan." ujar wanita yang ia akui sebagai 'wanita'nya beberapa hari lalu. Diikuti dengan kedua tangannya yang memberikan kedua bingkisan itu kepada Fabian.
Tentu hal tersebut mengundang tanya di benak Fabian. Sepengetahuannya, kedatangan Melanie kemari untuk memberikan ponselnya kembali. "Itu jas yang kemarin. Sudah dicuci, tenang saja."
Fabian seolah bertemu dengan orang lain, ia tidak mengenal siapa wanita yang berdiri di hadapannya kini. Sungguh berbeda dari Melanie yang ia temui baik di bandara, di tangga darurat, dan di acara makan malam bersama Gilda. Melanie yang dilihat kali ini penuh dengan energi hangat dan ceria. "Dan tas yang satunya, itu tadi aku beli croissant di perjalanan kemari."
Fabian bergeming, tidak tahu harus merespon bagaimana. Sementara kedua manajer yang mendampingi mereka, Fabian tidak melihat mereka ada di sekitar.
"Aku harap kau suka."
"Satu lagi, hampir lupa. Ini, ponselmu. Kemarin ada dalam saku jasmu." ucapnya seraya memberikan ponsel Fabian yang dikeluarkan dari tasnya.
"Terima kasih." Bak tersihir, Fabian baru bicara setelah jari-jari manis sang puan melayang dihadapannya. Jauh dalam benaknya, ia menaruh rasa kagum yang dibalut dengan prihatin pada wanita berambut pirang itu.
"Bukan masalah. Lagipula memang aku dan Odille berencana untuk berkunjung kemari." pernyataan Melanie berhasil membuat Fabian mengerutkan dahi, penuh tanya.
Benar, untuk apa Melanie dan manajernya berkunjung ke sirkuit sepi seperti kuburan? Seakan terhubung dengan pikiran Fabian, Melanie langsung menyahuti, "kebutuhan konten. Instagram."
Fabian yang baru saja merasa sudah berdamai dengan pembicaraan orang-orang akan dirinya mendadak kembali kesal. Pikirannya kini kembali penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan dilakukan oleh Melanie. Sirna sudah gambaran akan kagum yang ia sematkan diam-diam untuk Melanie.
"Apa jas itu juga salah satunya?"
"Hah?"
-bersambung
Note:
Aku tidak berani menyapa kalian karena aku tahu aku salah :(
Maafkan aku yaaa...
Diri ini khilaf dah bisa-bisanya jajan di akhir bulan padahal lagi stuck mepet ke burn out
huaaaa
Aku juga baru baca hasil votingnya.
Aku mulai dari besok aja yaa..
Thingkyu and Lubyuu 💋
Selamat bermalam minggyuuu 🦭
KAMU SEDANG MEMBACA
Trading the Spotlight [TERBIT]
ChickLitDari sekian banyak potensi, aku rasa potensi terbesarku adalah hidup dalam bayang-bayang hutang atas kemewahan hidup kekuargaku. Hidup bagai layang-layang terbawa angin tanpa tuju, masih beruntung kait benang tidak putus. Atau barangkali, sebentar l...
![Trading the Spotlight [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/370374616-64-k540838.jpg)