XX. Confession Conference

65 6 0
                                        

Syuting telah berakhir satu jam yang lalu. Kini Melanie tengah bersiap untuk menghadiri acara makan malam bersama keluarga Fabian. Ada kalanya, rasa gugup itu menghantui. Belum pernah sekalipun ia menghadiri makan malam keluarga seperti ini. Bahkan ia sudah lupa kapan terakhir kali makan bersama keluarganya. Melalui pesan singkat, Fabian akan menjemputnya pukul 7.00 malam.

Dalam balutan dress maroon selutut berkerah kotak dan riasan tipis pada wajahnya, ia berjalan mendekati mobil Fabian. Melanie sempat berpikir bahwa harga sewa mobil di New York tidak murah dan Fabian menyewa mobil keluaran terbaru hanya untuk membawanya makan malam bersama keluarga Fabian. Hanya selama Fabian berada di New York. Tiba tepat waktu, Fabian membukakan pintu untuk Melanie diiringi dengan tatapan terpukau akan tampilan Melanie yang lebih feminin dari hari biasanya.

"Ibuku akan langsung mengumumkan hari pernikahan jika melihatmu begini."

"Aku yakin mantan kekasihmu sangat menyesal sekarang." celetuk Melanie, sesaat setelah ia masuk ke dalam mobil.

"Sayangnya, aku sudah tidak berharap itu terjadi." bersamaan dengan itu, Fabian memindahkan gigi kemudian tancap gas meninggalkan pelataran gedung apartemen Melanie tinggal.

"Kenapa tidak? Membuatnya menyesal dan mengemis kembali padamu jauh lebih menyenangkan, bukan?"

"Kau cemburu?" Sontak tuduhan Fabian mengundang tawa hambar dari Melanie.

"Untuk apa jika kini aku yang selalu ada bersamamu?" Lantas keduanya tersenyum penuh arti.

Sejak mereka mengumumkan pada media tentang status hubungan saat pemotretan Melanie di Milan, keduanya jadi lebih dekat dan bersahabat dibanding saat pertama kali bertemu. Tidak jarang mereka melempar canda satu sama lain untuk terlihat lebih nyata baik di depan sorotan kamera hingga hal itu sudah menjadi kebiasaan. Bahkan Melanie sudah tidak ragu lagi untuk bergelayut mesra pada lengan Fabian. Kesempatan sekecil apapun, Melanie manfaatkan untuk membuat media heboh dan selalu diakhiri dengan Fabian yang memberi afeksi yang tidak berlebihan untuk menghindari kecurigaan publik.

Semakin dekat dengan hotel tempat keluarga Fabian mengadakan makan malam, semakin bergetar hebat kaki Melanie. Sekalipun ia berusaha keras untuk tidak menampakkan kegugupannya, tubuhnya tidak bisa diperdaya. Alam bawah sadarnya berkata bahwa ini hanya acara makan malam biasa. Sama seperti acara makan malam dengan kolega tim produksi dan agensi. Namun tidak bisa ia pungkiri ketika mengetahui siapa orang tua Fabian, mendadak nyalinya ciut. Terlebih, kedua orang tua Fabian sempat mendekatkan Louisiana sebagai calon pendamping Fabian.

Mengingat Louisiana membuat rasa percaya diri Melanie sedikit menurun. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tua Fabian nanti. Akankah mencerca atau lebih parahnya membuat masa lalunya yang kelam kembali kepermukaan? Masa dimana Melanie berjuang melawan rasa takut akibat menjadi bahan ejekan teman-teman satu akademinya. Karena tubuhnya yang kurus kering, rambutnya yang kusam dan freckles hampir menutupi seluruh wajah. Sudah lama ia mengubur kenangan itu dengan rentetan kesibukannya untuk membiayai hidupnya.

Ditengah kekalutan yang menyelimuti pikirannya, Melanie disadarkan oleh telapak tangan yang menggenggam erat jemarinya. Menyalurkan hangat yang menenangkan dirinya, "jangan terlalu dipikirkan. Mereka hanya ingin makan malam dan berbincang saja. Tidak akan lama." 

Rupanya, Fabian menyadari kegugupannya. Perlahan, Melanie menarik tangannya dari genggaman Fabian kemudian menepuk pelan tangan yang dua kali lipat besarnya itu. "Apa aku boleh membuat kehebohan seperti biasanya?"

Fabian tidak tahan untuk tidak tertawa mendengar permohonan izin dari Melanie. Padahal sebelumnya Melanie akan tetap membuat kehebohan tanpa meminta persetujuannya. "Kau tenang saja, aku pandai merayu orang tua." lanjutnya, diiringi dengan kerlingan mata.

Trading the Spotlight [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang