18

1.2K 136 14
                                        

Selamat Membaca...
.
.
.

***

Naruto dan Hinata saling pandang satu sama lain. Mereka takut jika Khusina tidak merestui Menma dengan Hanabi. Mengingat Hanabi masih berstatus mahasiswa, juga rentang umur mereka yang lumayan jauh.

"Maksudmu apa Menma?" Tanya Khusina.

Menma menghela nafas, sebelum ia menceritakan semuanya pada sang Ibu. Sepanjang Menma bercerita, jantung Hinata berdetak kencang. Ia harap-harap cemas dengan respon ibu mertuanya.

"Selesai," ujar Menma.

"Kau ingin menikahi Hanabi sekarang?"

"Apa boleh, Bu?"

"Kenapa tidak? Kau sudah tua juga." Menma menatap Khusina datar, dengan tawa pelan Khusina mengelus bahu Menma.

"Tapi Hanabi masih kuliah, kau yakin dia mau diajak menikah?"

"Hanabi mau Bu," melirik pada Hinata yang masih menatap Menma intens, "tapi syaratnya kami harus menunda momongan dulu," lanjut Menma.

"Benar. Jika kalian menikah sekarang dan punya anak kasihan Hanabi. Perannya jadi ganda, mahasiswa dan seorang Ibu. Menjadi Ibu itu tidak mudah, kau sebagai suaminya harus siap mendampingi. Jangan hanya suka meminta jatah saja tiap malam,"

"Itu kan enak, Bu,"

"Kau ya...!" Khusina, menarik telinga Menma. Naruto senang sekali melihat pemandangan keluarga nya seperti ini. Tidak lagi hening yang mencekam sanubari Naruto. Minato pun merasakan hal yang sama dengan Naruto.

"Sayang," mendengar seruan itu, Khusina dan Hinata menoleh. Wajah Hinata memerah ternyata ia salah tanggap. Suara tadi itu suara ayah mertuanya.

"Maaf." Naruto puas sekali melihat wajah istrinya yang memerah malu. Minato juga turut tertawa.

"Ambilkan aku sarapan," titah Minato pada Khusina.

"Hinata, aku juga. Tolong ambilkan,"

"Ckkk, kalian, hargailah aku yang jomblo ini,"

"Kasian..." Ujar Minato, Naruto, Hinata dan Khusina bebarengan mengejek Menma. Tak apa jika Menma harus menjadi bahan guyonan asalkan semua itu diganti dengan suasana keluarga yang seperti ini, hangat, ramai dan bahagia.

***

Sudah dua bulan berlalu, Naruto dan Hinata tetap menetap di mansion Namikaze atas permintaan Khusina. Ibu Naruto itu berkata jika ia tidak mau sendirian dimasa tuanya. Mau tidak mau, Naruto dan Hinata menuruti kemauan Khusina. Rumah pemberian Minato Naruto anggap sebagai investasi jangka panjang.

"Hinata, lihat ini, menurutmu bagaimana?"tanya Khusina yang sedang memegang katalog desain undangan.

"Bagus, Bu."

"Menurutmu Menma suka tidak ya?"

"Menma-nii pasti setuju saja, Bu. Apalagi ini sesuai juga dengan style adikku,"

Jadi, setelah Menma menceritakan jika ia jatuh cinta pada adik Hinata. Khusina dan Minato tidak menunda lagi melamar Hanabi. Sesuai kesepakatan bersama, Menma dan Hanabi akan menikah tiga bulan lagi berarti jatuh di bulan depan. Hiashi dan Hikari untuk pertama kalinya bertemu dengan besan mereka yang ternyata masih terlihat muda. Uang memang mampu mengubah apapun. Fakta.

"Ibu hubungi Menma
saja bagaimana?"

"Boleh saja, tapi apa Menma-nii tidak sibuk Bu? Akhir-akhir ini Menma-nii sering lembur bersama Naruto-kun,"

"Benar juga, tapi dicoba sajalah dulu,"

Khusina merogoh tas mahalnya, meraih benda pipih lalu menekan tombol hijau. Tak berapa lama sambungan telponnya diangkat oleh Menma. Khusina menjelaskan semuanya pada Menma tentang desain undangan dan Menma memasrahkan semuanya pada sang Ibu.

Bear The BurdenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang