Stuck In Another

9K 222 34
                                        

🔞

🐺🐮





Semua orang memiliki bayangan akan sebuah rumah tangga impian. Memang hal itu tak bisa disamakan untuk setiap kepala, tetapi tak jarang mereka akan melakukan berbagai cara untuk meraihnya, berapapun waktu dan kesempatan yang mereka punya.

Termasuk menyakiti satu sama lain.

Tidak tidak, tampaknya hal itu tidak terjadi pada rumah tangga "hangat" milik Junghwan dan Haruto. Pasangan muda yang sebentar lagi akan menginjak usia pernikahan kedua itu masih sama romantisnya seperti hari pertama mereka bertemu. Diawali dengan Junghwan yang tengah berkutat dengan riuhnya alat-alat dapur untuk menyiapkan sarapan, sementara Haruto sendiri baru saja keluar dari kamar seusai memakai kaus kaki hitamnya.

"happy anniversary~"

Junghwan hanya bisa mengulum senyum, merasakan Haruto merengkuh dari belakang pinggang kecilnya yang dihias apron bunga, meletakkan dagu dibahu sempit sang istri. Meski akhir-akhir ini pria jangkung tersebut sering bolak balik keluar kota bahkan negri untuk menyelesaikan permintaan klien, tetapi tidak lupa akan kesempatannya untuk tetap berhubungan dengan yang ada dirumah.

"udah aku duga, kamu gak mungkin lupa" jawab Junghwan, menaruh omelet di sisi kotak bekal.

"emang ada hal yang lebih penting minggu ini daripada ulangtahun pernikahan kita?"

"ada"

"apa tuh?"

"kado"

Haruto tertawa, mengecup pipi gembil milik Junghwan kesukaannya sambil merogoh sesuatu dari kantong. Junghwan yang sudah kesenangan seketika menukikkan alis bingung, ketika melihat tangan besar itu ternyata tidak menggenggam apapun.

"hands, your majesty."

Junghwan mengangguk paham, menyambut uluran tangan Haruto. Terdengar suara musik klasik mengalun entah dari mana, entah siapa yang menyalakannya, yang pasti irama Le Nozze di Figaro milik Mozart itu kini terasa merasuk menghidupi liukan dansa ditengah dapur itu. Tidak pernah ada yang lebih indah dari keduanya yang memiliki keahlian dan latar belakang yang sama, dibesarkan penuh dengan lagu-lagu klasik Jerman sejak belia.

"eine kleine nachtmusik?"

"willst es?"

"hmph, kok malah dijawab. aku mau lagu itu maksudnya"

"tapi aku udah harus berangkat, pesawatnya jam 8 sayang"

Junghwan tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya mendengar tolakan itu. "I thought you really cancel it for our anniv"

"ada proyek di Daegu yang harus disegerakan, mau gak mau aku yang harus kesana─"

Perkataan Haruto terhenti karena sekilas bibirnya dikecup Junghwan. Ia membalas, menarik pinggang lelaki manis itu mendekat dan melumat mesra. Junghwan bahkan tidak menolak, mengerjap sensual ketika ciuman itu juga mendarat dan membasahi dilehernya. Entah sejak kapan terakhir mereka berakhir di ranjang sebagai sepasang suami istri, bahkan untuk sekedar berada dalam satu selimut saja bisa dihitung dengan jari dalam setahun.

"I'm so sorry, dear. aku pastiin pulang bawa hadiah cantik, ya. bye sayang, love you" kata Haruto melepas penyatuannya, mengambil kotak bekal yang sudah siap di meja. Ia tidak sempat untuk makan pagi sekarang,  jadi membawanya untuk disantap di jalan nanti.

Junghwan berdadah-dadah lesu, ekor matanya mengikuti Haruto yang akhirnya keluar dari apartemen sembari mengikuti supir yang membawakan koper. Ia menghela napas berat, melepas apron dan duduk dimeja makan. Rasanya sangat tidak adil penantian selama hampir 4 bulan hanya dibalas dengan 3 hari, dengan fakta bahkan ulangtahun pernikahan mereka pun tidak mampu menahan Haruto untuk berdiam sekejap mengabaikan pekerjaannya.

Vehement [WooHwan]Where stories live. Discover now