🔞
🐺🐮
"maaf pak, saya gak bisa."
Mendengar penolakan singkat itu, Jeongwoo dengan berat hati menurunkan sebuket bunga yang ia sodorkan didepan Junghwan.
"kenapa?"
Junghwan menggeleng. "gak niat pacaran. lagipula setau saya bapak lebih tua belasan tahun dari saya"
"tapi umur bukan penghalang"
"udah ya pak, bentar lagi jam kelima mulai. saya mau ke kelas"
"Junghwan, tunggu dulu!"
Panggilan Jeongwoo barusan tidak digubris Junghwan, yang melengos berjalan kedalam gedung. Ya, ia baru saja menyatakan cinta pada salah satu muridnya, So Junghwan. Anak itu memiliki wajah yang manis, kulit putih bersih, tinggi, ceria, juga badan yang cukup sekal. Siapa yang tak jatuh cinta, bahkan seorang guru seperti Jeongwoo pun terpikat.
Jeongwoo melempar buket bunga tersebut kedalam tong sampah, lalu duduk pasrah di kursi kerja. Sia-sia saja seluruh persen keberaniannya hari ini, lagi-lagi ia gagal soal cinta. Asal kalian tau, belum ada orang yang membuat Jeongwoo tertarik seperti ia tertarik pada Junghwan, setidaknya selama 10 tahun terakhir. Dan apakah masih tak cukup alasan untuk memaklumi rasa kecewa yang sangat ini?
"pak, gak makan siang? ini udah mau jam masuk loh" tegur Karina, menepuk pundak Jeongwoo.
"gak bu, duluan aja"
"ini tadi ada bu Eunbi yang bagi-bagi lauk buat guru, yakin gak mau pak?"
Jeongwoo hanya bergeming, menyandarkan kepala di meja. Ia jadi lemas, masih teringat ekspresi abai Junghwan barusan saat ia mengutarakan perasaan. Ah, dada Jeongwoo jadi berdenyut sakit.
"minta tolong beritahu kelas 12-1 kalau saya izin tidak mengajar hari ini ya, bu Karina"
"oh..oke pak, silakan istirahat"
🐺🐮
"hwan, lo beli ini dimana?" tanya Sunoo, menyentuh dompet yang baru saja keluar dari tas Junghwan.
"papa gue beliin waktu trip business ke Amrik, yaudah gue pake"
"wah, Amrik? kalo diimpor ke Korea pasti mahal tuh, untung papa lo beli disana jadi murah"
"mahalan juga tiket kesananya" celetuk Jungwon.
"ya juga sih. eh, pulang sekolah makan tteokbokki yuk, minggu depan kan udah ulangan harian"
Jungwon mendecih. "gak ada duit. ibu gue ngancem gak bakal ngasih jajan lagi kalo nilai gue masih segitu-gitu aja"
"hwan, lo kan biasanya bayarin. jangan bilang lo juga bokek?"
"hah, gue?? bokek?? enak aja, lo semua ngeraguin gue nih ceritanya?" Junghwan kesal, menunjukkan dompetnya yang terisi penuh lembaran uang dan beberapa kartu. "makan tuh duit"
"gilaaa bro yang satu ini gak kenal akhir bulan, emang ya semua masalah itu penyelesaiannya cuma ortu tajir"
Junghwan mengulum senyum sombong, lalu menegakkan duduknya ketika guru masuk kedalam kelas. Begitulah, teman-temannya hanya tau Junghwan mempunyai orangtua yang kaya raya, terlihat ketika ia sering menceritakan atau memakai barang-barang mahal. Bahkan teman-temannya juga tau betapa mewah rumah yang pernah Junghwan tunjukkan, tersedia kolam renang dengan lapangan basket pula.
Namun yang terjadi sebenarnya, itu semua bukan milik Junghwan.
Ayahnya sudah tiada, dan Joohyun, ibunya adalah pelayan salah satu tuan tanah terkaya di daerah sana. Junghwan dan Joohyun kebetulan diperbolehkan untuk tinggal di paviliun lantai bawah di rumah tuan tanah tersebut, membuat dirinya merasa bahwa apa yang ada didalam rumah itu adalah miliknya juga. Dompet, tas, sepatu, uang, hal mewah lainnya, Junghwan curi dari kamar-kamar utama. Selama belum ketahuan, Junghwan sepertinya tidak akan berhenti melakukan hal itu demi pujian dan tatapan terpukau teman-teman.
YOU ARE READING
Vehement [WooHwan]
FanfictionWooHwan Oneshot. 🔞 Jeongwoo, Dom Junghwan, Sub bakwanseember, 2024.
![Vehement [WooHwan]](https://img.wattpad.com/cover/353559691-64-k361822.jpg)