🔞
🐺🐮
Malam ini langit terlihat cerah dengan bintang, sama seperti raut wajah Junghwan. Sudah dua jam lamanya ia bahkan tak menutup kaca jendela mobil agar bisa merasakan segar udara dari sawah dan ladang diluar selama memasuki area pedesaan sang nenek. Siapa yang tak senang, satu semester kuliah yang gila dan melelahkan itu kini dibayar dengan pemandangan menakjubkan yang sangat berbeda dari Seoul.
"nenekkk!!!"
Junghwan melompat dari duduknya di mobil, sesaat setelah mobil itu parkir di sebuah pekarangan rumah sederhana. Junghwan memeluk erat sang nenek dan kakek, karena sudah terlalu rindu.
"aduh, Junghwanie udah besar banget. nenek pikir kalian nyampenya besok!"
"gak yah, dari sore dia ribut terus mau buru-buru kesini. yaudah kami berangkat malam ini juga" jawab sang papa, Jaehyun, yang tengah menurunkan barang-barang dari bagasi mobil.
"Junghwan udah makan nak? mau makan lagi?"
Ah, kesalahan besar sang nenek untuk bertanya tentang makanan pada cucu besarnya itu, karena tanpa menjawab pun Junghwan sudah mengiyakan duluan dan langsung mengajak neneknya kedalam rumah.
Sejak kecil, Junghwan dibesarkan oleh nenek dan kakek hingga lulus sekolah. Alasannya karena sang ayah, Jaehyun, punya pekerjaan yang kerap berpindah-pindah, dan si kecil Junghwan enggan banyak beradaptasi. Satu-satunya cara adalah tinggal bersama nenek dan kakek, hingga akhirnya Jaehyun mutasi kerja dan menetap di Seoul untuk tinggal bersama istri dan anaknya kembali. Junghwan sempat stress menetap di kota besar untuk kuliah, tetapi sudah terlanjur dan Jaehyun berjanji untuk membawanya kembali ke desa setiap liburan panjang tiba.
"aku jarang masak aja badannya gendut bu, apalagi ibu yang masakkin dia disini" ucap Rosé, melirik Junghwan yang sedang menyantap makanan didepan tv sambil tengkurap di karpet.
"gak papa, anak umur 20 awal itu masih butuh makan banyak, Rosé. lagian itu bukan gendut, tapi montok. enak dipandang"
"aduh, harusnya aku punya anak satu lagi yang bisa diatur. udah nyerah ngatur Junghwan soalnya"
Rosé beranjak dari kursi, menepuk punggung Junghwan. "jangan tengkurep gini, nanti badannya sakit. duduk yang bener"
"apaan sih mami, orang lagi enak-enak gini. gak ada senderan soalnya"
"ya tinggal duduk di kursi meja makan"
"gak mau, jauh dari tv"
Benar kan? Junghwan itu terlalu susah diatur. Ia bisa tahan berjam-jam sepanjang waktu dengan posisi tengkurapnya itu. Ia lebih memilih pegal mengangkat kepala daripada harus memilih posisi berbaring yang lain.
"Junghwan, mami sama nenek pergi sebentar ya. papi lagi liat-liat ladang, kamu dirumah aja kan?"
Junghwan mengangguk, pandangannya mengekor Rosé dan neneknya keluar dari pintu. Baguslah, artinya untuk satu atau dua jam kedepan, Junghwan bebas melakukan apa yang ia mau di rumah ini, sebagai tuan rumah sementara. Ia buru-buru ke dapur, mencomot makanan apa saja yang tersedia disana dan segera membawa piring-piring itu ke depan tv.
🐺🐮
Tut tut
Jeongwoo melempar hp nya ke lantai bambu pondok, kembali menyesap rokok dengan kesal.
"gak diangkat lagi?"
Jihoon memindahkan cangkulnya ke sudut tiang setelah melihat gelengan Jeongwoo. Lalu ia duduk disamping lelaki itu, sesama rekannya setiap hari bekerja di sawah.
YOU ARE READING
Vehement [WooHwan]
FanfictionWooHwan Oneshot. 🔞 Jeongwoo, Dom Junghwan, Sub bakwanseember, 2024.
![Vehement [WooHwan]](https://img.wattpad.com/cover/353559691-64-k361822.jpg)