Olympic

5.7K 190 42
                                        

🔞

🐺🐮







Sekolah. Cinta pertama semua orang berada di bangku sekolah. Mungkin itu termasuk aku, kamu, atau orang lain yang diberi kesempatan untuk merasakan debaran cepat dalam dada dan ujung hela napas seakan tercekat saat melihat pujaan hati.

Agak aneh jika harus kubilang bahwa hal yang terdengar klise tersebut justru sebuah anugerah, karena tidak semua pengalaman di bangku sekolah terasa seperti itu bagi murid-murid yang hanya mengejar ego dan ambisinya dalam akademik.

Apapun akan mereka lakukan, demi menjadi yang nomor satu.

"bapak masih inget kan, saya pembawa piala pertama kali buat sekolah? harusnya saya yang paling berhak dapet kesempatan itu dong, pak!"

"oh, jadi sekarang main soal piala? saya bisa dapet medali IESO cuma dalam 10 bulan pertama bersekolah disini! bapak pasti lebih inget saya!"

Jeongwoo menggebrak meja. "lo gak tau apa apa soal olim gue, gak usah bandingin sama medali kecil lo itu!"

"yang duluan mulai siapa, yang marah siapa! piala lo gak sebanding ama medali inter gue!"

"alah percuma, kecil begitu diganti koin kerokan juga bisa!"

"muka lo gue kerok! belagu banget, piala lo aja sekecil titit lo!"

"stoooop stop stop stop! kok bisa bisanya kalian berantem didepan saya, didepan kepala sekolah?!" pekik Hanbin, menghela napas. "melihat kelakuan kalian yang selalu ribut setiap ada perlombaan, bisa bisa bapak coret nama kalian berdua sekaligus. masih banyak murid lain yang mungkin bisa di latih"

"ya gara gara dia! bapak kan tau 2 bulan lalu kan dia udah!" rengek Junghwan lagi.

"karena saya lebih unggul! pak Daesung aja ngakuin kecepatan saya, pak!"

Hanbin mengambil rotan panjangnya, langsung berdiri dan memukul bokong masing masing kedua murid cerewet itu. Ia mengusir Jeongwoo dan Junghwan dari kantornya, memberi peringatan terakhir kali.

"pengang kuping saya cuma denger suara kalian berdua protes satu sama lain tiap semester! waktu tinggal beberapa minggu lagi, pokoknya saya hanya akan mengirim satu murid, entah itu kamu, atau kamu untuk perlombaan besok melalui laporan tutor masing masing dan seleksi. kalau masih tidak bisa terima, tidak usah diwakili sekalian! paham?!"

Hanbin sedikit membanting pintu, menarik perhatian murid-murid yang ada di lorong.

"gue colok mata lo nyet, apa liat liat?!" tanya Jeongwoo galak, berkacak pinggang.

"colok aja, gue jambak sampe botak rambut jabrik lo tar, anjing!"

Sekilas ada aliran listrik dalam tatapan mata benci diantara, sebelum masing masing pergi berlawanan arah. Junghwan menuju taman, dan Jeongwoo menuju perpustakaan. Yup, selera belajar mereka pun berkebalikan. Jadi peluang keduanya untuk akur dan satu pendapat kemungkinannya hanya 0,01%. Tak perlu berharap apa apa lagi, bukan?

🐺🐮

10 hari tersisa sebelum penentuan dari Hanbin tentang siapa yang akan maju mewakili olimpiade kali ini. Seperti biasa setelah bel istirahat, Jeongwoo sangat sangat biasa ditemukan di perpustakaan. Tangan kiri sibuk menulis jawaban, tangan kanan memegang sandwich telur. Saking sibuknya belajar dan merasa tak ada waktu lagi untuk bersantai, saat jam makan pun Jeongwoo lebih memilih sambil berkutat pada buku.

"gue cuma tinggal ngapal cara bab ini sama bab 7, itu aja. lo pasti bisa Jeongwoo, inget kalo olim ini penting banget buat babak selanjutnya" gumam Jeongwoo menyemangati diri sendiri, membetulkan kacamata yang sudah turun.

Vehement [WooHwan]Where stories live. Discover now