6 : Menyebalkan.
"Pak Kelark, saya cancel jadwal meeting sama Pak Ackley ya karena tadi tante sama om katanya mau datang. Tadi Om yang minta saya untuk cancel." Ucap Ama tanpa basa basi.
Kalau dia bukan anak sahabat papa pasti udah aku pecat. Selama dua bulan dia kerja disini, sama sekali tidak menghormati aku sebagai bosnya. Menyebalkan.
Aku juga mengaku bahwa Ama merupakan orang yang sulit mencintai. Entah apa yang buatnya susah luluh kepada pria tampan sepertiku. Sudah dua bulan ini aku selalu menggodanya, biasanya wanita lain pasti sudah terpesona. Lah ini, aku malah di hina hina sama dia. Ck.
Tapi bukan Clark Averill jika tidak bisa membuat wanita mana pun bertekuk lutut.
"Pak ngelamun aja sih elah." Ucapnya.
"Iya sana keluar."
"Cih, songong." Gerutunya yang masih bisa aku dengar.
Lihat kan betapa menyebalkannya dia?
"Clark." Panggil mama yang tiba tiba ada di ruanganku.
Aku mengangkat kepalaku dan melihat mama yang sedang berkacak pinggang.
"Apa ma?" Tanyaku.
"Sampai kapan kamu mau menyendiri terus? Kalau kamu ga laku, mama yang akan carikan buat kamu." Jawabnya.
Bukan ga laku ma, tapi belum ada yang cocok.
"Belum ada yang cocok ma."
"Memang, kamu kan sukanya bermain dengan wanita doang. Tidak pernah komitmen dalam cinta."
Iya tidak pernah berkomitmen karena rasa sayang aku yang sepenuhnya telah aku berikan malah di sia siakan oleh wanita lain dulu.
"Sampai kapan kamu tungguin Bianca? Dia itu murahan, Clark. Mama tahu sifat aslinya, dia itu munafik. Dia hanya mau uangmu saja!" Ucap mama.
Memang sih, aku tahu Bianca merupakan wanita murahan. Tapj entah kenapa bodohnya aku dulu malah menyayanginya. Dan sekarang Bianca entah pergi kemana, dan aku juga tidak peduli. Rasa sayang aku sudah pudar untuknya.
"Percayalah sama cinta Clark, jangan main main terus sama wanita. Sudah cukup, sekarang kamu harus melepas masa lajangmu." Tegas mama lalu keluar dari ruangan.
Aku hanya bisa mengacak rambut frustasi. Aku hanya takut memulai mencintai jika pada akhirnya aku harus di tinggal lagi.
"Pak Kelark, tante sama om ngajak bapak makan siang." Ucap Ama yang tiba tiba masuk ke ruanganku.
"Kapan?"
"Tahun depan. Ya sekarang lah!"
Aku mendengus lalu mulai berdiri.
"Kamu ikut makan siang Am?" Tanyaku kepada Ama yang masih sibuk berkutik di depan laptopnya.
"Hari ini engga." Jawabnya.
Memang selama dua bulan ini, jika mama dan papa datang untuk ngajak makan siang pasti Ama selalu ikut. Dan pasalnya, mama dan papa menyukai Ama yang memang mudah di ajak bergaul.
Aku ingat saat ketiga kalinya Ama di ajak makan siang bersama, Ama mulai bawel dan ngerocos terus seperti dia dekat dengan mami dan papinya sendiri.
Aku salut sih sama Ama, mama dan papa bukan tipe orang yang gampang bergaul. Tapi Ama malah bisa. Mungkin akibat kegilaannya.
"Pak melamun terus sih, nanti kalau kerasukkan saya gatau cara mengeluarkannya gimana. Udah cepetan, di tunggu sama om dan tante di bawah. Kasian nungguin." Cerocos Ama datar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter than Sugar
Teen Fiction[Cerita di PRIVATE, hanya followers yang bisa baca] Klise. Kedua insan dipertemukan dengan cara perjodohan. Kedua insan dipaksakan untuk saling mencintai. Kedua insan berpura-pura untuk berbahagia disaat hatinya masih meraung-raung, masih menolak me...