13 : Bertemu.
"Morning." Sapaku saat melihat Kelark yang sudah ada di meja barku.
"Morning sunshine." Sapanya.
"Kamu kok belum siap siap?" Tanyanya bingung.
Aku menaikkan satu alisku, "siap siap?"
"Kita kan mau ke rumah mama." Ucap Kelark.
Aku menepuk jidatku, kok bisa aku lupa? "Ah iya, aku siap siap dulu." Ucapku lalu berjalan ke kamarku.
Sudah seminggu setelah pertunangan aku dengan Kelark, aku bersikap baik kepadanya. Mungkin Kelark harus berterima kasih kepada Aubree karena Aubree sempat memarahiku karena aku yang terlalu ketus.
Aubree selalu bilang kalau aku harus terima jika Kelark merangkulku atau mencium kening dan pipiku. Yang terpenting, Kelark tidak keterlaluan. Sejak saat itu aku jadi membiarkan jika Kelark merangkul pingganku, mencium dahi dan pipiku. Aku hanya ingin menjadi pasangan yang baik.
Menjadi pasangan yang baik tanpa cinta?
Pertanyaan itu muncul di benakku. Sejauh ini aku memang belum merasakan cinta seperti dulu aku merasakan cinta ke Raikan. Aku juga belum sepenuhnya percaya kepada Kelark, mengingat track recordnya yang suka bermain dengan wanita.
Entahlah, itu masih bisa di pikirkan nanti.
Aku keluar kamar setelah aku mengecek bahwa pakaianku rapi.
"Makan dulu, aku buatin cah kangkung sama tempe. Kamu belum ke supermarket ya?" Tanya Kelark.
Aku memberinya cengiran lalu mengangguk, "mimpi apa aku semalam sampai sampai punya calon istri seperti ini?" tanyanya seperti orang berdua.
Aku memukul lengannya, "menyebalkan dasar." Balasku lalu memakan makanan yang dia masak.
Aku akui dia cukup mahir dalam memasak. Lelaki idaman sih, namun tidak untuk playboynya.
"Mami!" Teriakku saat melihat mami yang baru saja keluar dari mobil.
Sekarang aku dan Kelark sudah berada di rumah mamanya Kelark. Kelark merangkul pinggangku lalu kita berjalan menghampiri mami.
"Ah aku kangen banget! Mami jarang main ke apartment aku, padahal mami janji mau ngunjungin aku seminggu sekali. Tahu gitu mah, aku mending gausa tinggal di apartment." Protesku.
Papi menghampiri aku lalu mengusap rambutku, "Clark, kamu kasih makan apa anak ini? Sampai sampai dia mau di rangkul gitu." Tanya papi.
Aku melotot ke arah papi, enak aja dia ngomong kayak gitu. "Aku kasih racun, om." Jawab Kelark dengan cengiran.
"Apa nama racunnya?" Tanya papi.
"Racun cinta." Jawab Kelark dengan cengiran.
"Oh jadi anak mami ada yang mulai jatuh cinta, padahal dulu mah bilangnya gamau jatuh cinta. Ya kan pi?" Tanya mami mencari dukungan.
"Stop! Aku ga cinta sama Kelark! Dan apa coba racun cinta, mana ada?!" Tanyaku memandang mereka bertiga horror.
"Udah ah masuk aja." Tambahku lalu berjalan sambil menghentakkan kaki. Sedangkan mami, papi dan Kelark masih tertawa. Menyebalkan.
Aku berjalan masuk dan melihat tante yang baru saja turun dari tangga. Eh om nya mana? Ditinggal lagi? Ck kasian.
"Tante!" Panggilku.
"Hai mantu tante yang paling cantik." Sapa tante sambil menghampiri aku.
Aku mengerucutkan bibirku, "iya lah, aku mantu tante yang paling cantik. Orang mantu tante itu cuman satu, jadi aku mantu tersayang tante deh." Ucapku sambil melompat lompat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bitter than Sugar
Teen Fiction[Cerita di PRIVATE, hanya followers yang bisa baca] Klise. Kedua insan dipertemukan dengan cara perjodohan. Kedua insan dipaksakan untuk saling mencintai. Kedua insan berpura-pura untuk berbahagia disaat hatinya masih meraung-raung, masih menolak me...