Beberapa hari setelah percakapan dengan Mama, aku mulai merasa canggung setiap kali berhadapan dengan Papa. Kata-kata Mama terus terngiang di kepalaku, terutama bagian di mana Papa sering menghisap ASI dari payudara Mama saat penuh. Bayangan itu membuatku merasa aneh dan tidak nyaman. Namun, aku tahu Papa selalu bersikap penuh hormat dan perhatian terhadapku.
Setiap kali kami berpapasan atau duduk bersama di ruang tamu, aku tidak bisa mengabaikan perasaan canggung yang muncul. Terkadang aku menangkap Papa melirik ke arahku, terutama ketika aku tidak mengenakan bra dan hanya memakai kaos tipis. Aku bisa merasakan tatapan-tatapan singkatnya, meskipun Papa selalu berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan ketertarikannya.
Saat kami duduk bersama untuk makan malam, suasana meja makan terasa berbeda. Papa dan Mama berbicara seperti biasa, tetapi aku merasa ada ketegangan yang tidak terlihat di antara kami. Aku mencoba bersikap biasa, tetapi setiap kali Papa berbicara langsung kepadaku, aku merasakan jantungku berdetak lebih kencang.
Suatu hari, ketika Mama sedang keluar untuk belanja, aku dan Papa tinggal berdua di rumah. Aku duduk di sofa, mengenakan kaos longgar tanpa bra dan celana pendek. Aku bisa merasakan tatapan Papa sesekali melirik ke arahku, terutama ketika aku bergerak atau tertawa. Aku tahu Papa tidak bermaksud apa-apa dan berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan ketertarikannya, tetapi aku masih merasa canggung.
Kami duduk dalam keheningan selama beberapa menit, hanya suara televisi yang mengisi ruangan. Aku berusaha mengalihkan perhatian dengan fokus pada acara televisi, tetapi pikiranku terus kembali pada percakapan dengan Mama. Setiap kali Papa menghisap ASI dari payudara Mama, gambar itu terpampang jelas di benakku, membuatku merasa semakin aneh. Aku mencoba untuk tetap tenang dan tidak memperlihatkan perasaanku, tetapi sulit untuk sepenuhnya mengabaikan rasa itu.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Aku tahu bahwa Papa tidak bermaksud membuatku merasa tidak nyaman. Dia selalu bersikap penuh kasih dan perhatian terhadapku, tetapi perasaan canggung ini sulit diabaikan. Aku harus mencari cara untuk mengatasi perasaan ini dan kembali merasa nyaman di rumah bersama Papa.
Ketika akhirnya Mama pulang, aku merasa lega dan suasana kembali normal. Namun, perasaan canggung itu tidak sepenuhnya hilang. Setiap kali aku berada dekat dengan Papa, aku tetap merasa sedikit tegang, terutama ketika aku tidak mengenakan bra. Aku tahu bahwa ini adalah bagian dari penyesuaian dengan perubahan besar dalam hidupku, tetapi tidak bisa menghilangkan perasaan aneh yang kadang muncul.
Malamnya, sebelum tidur, aku memutuskan untuk berbicara dengan Mama lagi. Aku tahu bahwa percakapan ini penting untuk membantu mengatasi perasaanku dan mencari solusi agar bisa merasa lebih nyaman di rumah.
Aku mengetuk pintu kamar Mama dan Papa dengan lembut. "Mama, aku mau bicara sebentar," kataku dengan suara pelan.
Mama membuka pintu dan mengangguk. "Ada apa, Sayang? Masuk sini," katanya sambil menutup pintu di belakangku.
Kebetulan cuma ada Mama di sana. Aku duduk di tepi tempat tidur mereka, merasa sedikit gugup. "Ma, aku masih merasa canggung setiap kali dekat sama Papa. Aku tahu Papa nggak bermaksud apa-apa, tapi aku tetap merasa aneh," kataku, berusaha mengekspresikan perasaanku.
Mama menatapku dengan penuh perhatian, duduk di sampingku dan meraih tanganku. "Sayang, Mama ngerti perasaan kamu. Ini perubahan besar, dan wajar kalau kamu merasa kayak gitu," katanya dengan suara lembut.
Aku menghela napas, merasa sedikit lega mendengar kata-kata Mama. "Aku tahu, Ma. Tapi rasanya susah buat ngilangin perasaan aneh ini. Apalagi kalau aku nggak pakai bra, aku merasa tatapan Papa selalu tertuju ke sana," kataku, sedikit malu.
Mama tersenyum lembut. "Mama paham, Sayang. Mungkin sebaiknya kamu coba buat selalu pakai bra saat di rumah, setidaknya sampai kamu merasa lebih nyaman dengan perubahan ini. Kita semua sedang beradaptasi, dan butuh waktu buat bisa merasa normal lagi," sarannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Menjadi Mama
General FictionDimas, seorang siswa kelas dua SMP, menjalani masa pubertas dengan banyak perubahan dan rasa penasaran tentang tubuh wanita, terutama mamanya yang cantik. Suatu hari, Dimas jatuh sakit dan didiagnosis dengan penyakit darah langka yang menghentikan r...
