Papa juga terlihat masih bingung, namun perlahan senyumnya mulai muncul. "Makasih, Ma," katanya dengan suara lembut, menatap Mama dengan penuh rasa terima kasih. "Maaf ya, kalau Papa nggak cerita semuanya tadi."
Mama tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. "Nggak apa-apa, Papa," ujarnya dengan penuh keyakinan. "Yang penting, sekarang kita jujur satu sama lain."
Aku mengangguk pelan, mencoba untuk mengatasi perasaan canggung yang masih tersisa. Namun, suasana hati Mama tampaknya lebih santai dan nyaman, seolah-olah ini adalah percakapan biasa di antara kami.
Mama tiba-tiba memasang senyum nakal dan menatap Papa dengan tatapan menggoda. "Terus gimana, Pa, enak nggak isapannya Lina?" tanyanya, membuat suasana kembali berubah canggung. Pipiku langsung memerah mendengar pertanyaan Mama yang begitu blak-blakan.
"Ihhh, Mama... udah deh," kataku, mencoba menghentikan percakapan yang membuatku semakin malu. Aku merasa panas di wajahku, dan aku yakin pipiku sekarang berwarna merah seperti tomat.
Mama hanya tertawa kecil, melihat reaksiku yang begitu malu. "Iya, iya, maaf ya, Sayang," katanya sambil mengelus rambutku dengan lembut. Sentuhan tangannya terasa menenangkan, memberikan perasaan aman yang selalu berhasil menghapus kegugupanku. "Mama cuma bercanda kok," tambahnya, suaranya penuh dengan kehangatan yang selalu membuatku merasa nyaman, seperti pelukan yang tidak terlihat tetapi selalu terasa.
Namun, tepat ketika aku merasa suasana mulai kembali normal, Mama menambahkan sesuatu yang membuatku bingung. "Lain kali kita main bertiga ya," katanya dengan nada santai.
Baca selengkapnya di https://karyakarsa.com/auliashara atau klik link di bio.
KAMU SEDANG MEMBACA
Menjadi Mama
General FictionDimas, seorang siswa kelas dua SMP, menjalani masa pubertas dengan banyak perubahan dan rasa penasaran tentang tubuh wanita, terutama mamanya yang cantik. Suatu hari, Dimas jatuh sakit dan didiagnosis dengan penyakit darah langka yang menghentikan r...
