Menjadi Mama | Part 23 | Masalah Bertubi-tubi

2.1K 3 0
                                        

Aku, yang dulu tidak pernah membayangkan akan menjalani hidup seperti ini, sekarang justru menemukan ketenangan di dalamnya. Aku tidak menyangka akan menjadi istri dari Papa ku sendiri—sesuatu yang tak pernah terlintas di benakku, namun kini menjadi kenyataan yang aku jalani setiap hari. Ada saat-saat di mana aku masih merasa heran dengan semua yang telah terjadi, tetapi di balik itu, ada penerimaan yang perlahan tumbuh.

Aku tidak hanya mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi, tanpa kusadari, aku mulai menikmatinya. Aktivitas yang dulu kupikir membosankan, seperti mencuci piring atau merapikan tempat tidur, kini memberiku rasa kepuasan tersendiri. Ada rasa damai yang kurasakan setiap kali melihat rumah yang rapi dan bersih, seperti segalanya berada di tempat yang seharusnya. Setiap pakaian yang kucuci, setiap lantai yang ku sapu, semuanya seolah menjadi bagian dari rutinitas yang menenangkan, membawa kebahagiaan kecil dalam kesederhanaan.

Sambil menjemur pakaian di bawah sinar matahari yang hangat, aku sering merenung tentang peran baruku sebagai istri Papa. Kehidupan yang kujalani sekarang jauh berbeda dari yang pernah kubayangkan, tapi entah bagaimana, di dalam ketenangan rumah yang kutata dengan tanganku sendiri, aku menemukan diriku berubah.

Perubahan ini tak hanya kurasakan dalam diriku sendiri, tapi juga dalam hubungan kami. Ketika Papa bersiap berangkat kerja, aku memperhatikan kebiasaan lamanya yang kini terasa berbeda. Biasanya, dia hanya mencium pipi Mama sebelum pergi, tapi sekarang, perhatiannya juga diarahkan padaku.

"Masa Mama aja yang dicium," goda Mama suatu pagi ketika Papa hendak pergi. "Lina, istri muda kamu juga harus dicium dong, Pa" lanjutnya dengan senyum menggoda, menatap Papa dengan tatapan yang nakal.

Papa tertawa kecil dan, tanpa ragu, mendekat padaku. Ciumannya lembut di bibirku, membuatku sedikit terkejut dalam dinamika yang baru ini. Awalnya, momen seperti ini terasa canggung, terutama ketika Mama ada di sana, menyaksikan setiap gerakan kami dengan senyum nakal. Tetapi seiring berjalannya waktu, kecanggungan itu perlahan memudar, digantikan dengan perasaan nyaman dan hangat.

Setiap pagi, ketika Papa berpamitan dan menciumku sebelum pergi kerja, aku mulai terbiasa dengan kebiasaan baru ini. Perasaannya berbeda—ada kehangatan yang tumbuh, semacam keintiman yang semakin kuat. Perlahan-lahan, semua ini menjadi rutinitas yang tidak lagi canggung, bahkan di depan Mama.


Baca selengkapnya di https://karyakarsa.com/auliashara atau klik link di bio. 

Menjadi MamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang