[FULL] Menjadi Mama | Part 19 | Main Bertiga (21+)

3.5K 7 0
                                        

Mama tampak sama sekali tidak terganggu oleh kebingunganku. Tatapannya masih tertuju pada cermin, melihat bayangan kami berdua yang tampak begitu mirip. Ada keheningan singkat yang menyelimuti ruangan, hanya suara napas kami berdua yang terdengar samar. Mama menyunggingkan senyum kecil di bibirnya, senyum yang entah mengapa membuatku semakin resah. Ada perasaan puas di wajahnya, seolah-olah melihat kami berdua yang kini terlihat identik adalah hal yang benar-benar ia rencanakan sejak awal.

"Kita benar-benar mirip, ya," katanya dengan nada lembut namun penuh keyakinan, tanpa sedikit pun keraguan di suaranya.

Aku tak bisa lagi menahan diriku. "Apa sih, Ma? Kenapa kita harus kaya gini?" tanyaku akhirnya, suaraku keluar dengan campuran bingung dan frustasi. Aku menatap bayangan kami di cermin lagi, masih tidak bisa mengerti mengapa mama begitu ingin kami terlihat sama, dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Mama tidak segera menjawab. Dia membiarkan pertanyaanku menggantung di udara untuk beberapa saat sebelum akhirnya, dengan gerakan perlahan, dia mengalihkan pandangannya dari cermin dan menatapku langsung. "Ini tuh kado spesial buat papa," jawabnya tenang, seolah itu adalah jawaban yang cukup untuk menjelaskan segalanya.

Aku mengerutkan kening, semakin bingung. "Maksud Mama?" tanyaku dengan suara pelan, masih mencoba mencari kepastian dari semua ini. Apa maksud mama dengan "kado"? Dan kenapa harus dalam bentuk seperti ini—dengan kami berdua mengenakan lingerie yang identik dan terlihat seperti anak kembar?

Mama mendekat sedikit, tangannya menyentuh pundakku dengan lembut, seperti memberikan rasa tenang yang tak kunjung kurasakan. "Ini juga pelajaran dari mama untuk kamu," lanjutnya, suaranya terdengar lembut namun tegas, seolah-olah ada pesan penting yang ingin ia sampaikan kepadaku.

"Pelajaran? Tentang apa, Ma?" desakku lagi, kali ini dengan nada yang lebih mendesak. Mataku tak beranjak dari wajah mama, penuh harap agar dia memberikan jawaban yang bisa menjelaskan kebingungan yang terus menggelayut di pikiranku. Namun, mama hanya menghela napas pelan, tatapannya tenang, dan ia tersenyum tipis lagi.

"Udah, nanti kamu juga tahu," ucapnya dengan nada yang penuh kepastian, namun sekaligus meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Seolah semua ini hanyalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang harus aku pelajari dengan sendirinya, dengan waktu.

Sebelum aku sempat membalas atau bertanya lebih jauh, mama berbalik, melangkah ke arah saklar lampu di dekat pintu kamar. Dengan satu gerakan cepat, dia mematikan lampu, dan ruangan pun mendadak menjadi gelap. Hanya ada sedikit cahaya redup dari jendela yang masuk ke dalam, menambah kesan misterius pada suasana yang sudah terasa tidak nyaman sejak awal.

Jantungku berdebar kencang, lebih karena ketidakpastian yang menyelimuti setiap detik yang berlalu. Dalam kegelapan, aku mendengar langkah kaki mama yang kembali mendekat. Aku merasakan sentuhan halusnya di lenganku, membimbingku ke arah tempat tidur, tetapi aku masih tak mampu memahami maksud dari semua ini.

Kemudian, Mama memanggil papa dengan nada lembut yang menggema di tengah keheningan kamar, "Pa, sini sebentar." Suara itu terdengar biasa saja, seolah tidak ada sesuatu yang aneh dalam situasi yang sebenarnya begitu membingungkan bagiku. Aku langsung merasa jantungku berdetak lebih kencang, dada terasa sesak dengan berbagai perasaan yang sulit dijelaskan. Kenapa mama memanggil papa ke kamar, dalam keadaan seperti ini?

"Hah, kok manggil papa sih, Ma?" tanyaku dengan nada panik, suaraku nyaris bergetar karena kebingungan yang semakin memuncak.

Namun, mama hanya diam. Tatapannya tetap lurus ke arah pintu kamar, seolah tidak mendengarkan pertanyaanku. Ada sesuatu yang tidak kuketahui, dan sepertinya mama memang tidak berniat menjelaskan. Dia tetap tenang, sementara aku semakin diliputi kegelisahan.

Menjadi MamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang