Tiba-tiba, Papa mendekatkan wajahnya ke wajahku, seolah-olah ingin menciumku. Aku merasa terkejut dan gemetar, tapi bukannya menghindar, aku malah menutup mataku, merasakan getaran emosional yang tidak bisa kujelaskan. Setiap detik yang berlalu, rasa cemas dan rasa penasaran bercampur dalam hatiku, membuatku semakin sulit untuk bernapas dengan tenang.
Saat Papa semakin mendekat, kehangatan hembusan napasnya terasa jelas di kulitku, membuat momen ini semakin intens. Suasana di sekitar kami terasa menyesakkan, dengan ketegangan yang begitu kental sehingga seolah-olah waktu berhenti sejenak. Aku hanya bisa menunggu dengan jantung berdebar, terjebak dalam perasaan campur aduk antara kegembiraan dan kekhawatiran.
Saat jarak antara kami semakin menipis, aku merasakan hembusan napas Papa yang hangat menyapu lembut kulit wajahku, seolah-olah memberikan isyarat yang penuh misteri. Setiap detik yang berlalu terasa seperti berjam-jam, dengan ketegangan di udara yang semakin pekat, membuatku tak mampu berpikir jernih. Suara detak jantungku semakin menggema di telinga, menyatu dengan keheningan yang menyelimuti kami.
Pikiranku dipenuhi dengan berbagai perasaan yang berkecamuk—campuran antara rasa cemas dan rasa penasaran yang kian menguat. Aku tak tahu apa yang harus kuharapkan atau bagaimana aku harus merespons. Tubuhku terasa kaku, namun entah bagaimana, aku tak bisa memaksakan diri untuk bergerak atau membuka mata. Dalam kegelapan yang diciptakan oleh kelopak mataku yang terpejam, aku hanya bisa merasakan kehadiran Papa yang begitu dekat, begitu nyata.
Semua yang ada di sekelilingku perlahan memudar, hanya menyisakan detik-detik yang terus bergulir dalam keheningan yang memekakkan telinga. Di dalam hatiku, ada perasaan yang asing, sebuah getaran yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kegembiraan, ketakutan, dan rasa penasaran bercampur menjadi satu, menciptakan sensasi yang aneh dan sulit dijelaskan.
Ketika jarak di antara kami tinggal sejengkal, aku bisa merasakan betapa intensnya momen ini. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, namun di saat yang sama, aku merasa tak ingin momen ini berakhir. Aku menunggu dengan hati yang berdebar kencang, seolah-olah setiap hembusan napas Papa menambah ketegangan yang ada. Meskipun rasa takut dan ragu mulai merayap di benakku, ada juga perasaan yang tak ingin melepaskan momen ini begitu saja.
Baca selengkapnya di https://karyakarsa.com/auliashara atau klik link di bio.
KAMU SEDANG MEMBACA
Menjadi Mama
Narrativa generaleDimas, seorang siswa kelas dua SMP, menjalani masa pubertas dengan banyak perubahan dan rasa penasaran tentang tubuh wanita, terutama mamanya yang cantik. Suatu hari, Dimas jatuh sakit dan didiagnosis dengan penyakit darah langka yang menghentikan r...
