1. masalah

64 1 0
                                    

VOTE DULU BARU BACA!!!


....

Tama baru saja pulang dari sekolahnya. Remaja yang baru saja menginjak delapan belas tahun itu sudah berada di semester dua kelas dua belas. Hanya beberapa bulan lagi ia akan lulus sekolah.

Berusaha pulang secepat yang ia bisa. Tapi tetap saja ia sampai di rumah pukul lima sore. Itu lebih baik, daripada jam lima sore baru dari sekolah.

Persiapan ujian praktik yang akan dilaksaksanakan minggu depan, membuat banyak sekali hal yang perlu Tama persiapkan. Ujian ini bahkan yang paling banyak memakan tenaga daripada ujian biasa yang hanya memerlukan fokus belajar dan memahami materi. Karena ujian praktik mereka perlu mempersiapkan segalanya, barang yang dibutuhkan, tenaga, pikiran untuk ide, materi, bahkan juga finansial untuk membeli ini itunya.

Jarak lima meter dari tempat kejadian, ia melihat dua orang yang sangat ia kenal terlibat dalam masalah dengan dua orang lainnya.

Tama berlari menghampiri mereka.

"Maaf, Tante. Ini kenapa ya?"

"Tolong ajarin adik kamu ya! Dia ngelempar anak saya pake batu, sampe anak saya jatuh dari sepeda. Liat! Anak saya luka gara-gara adik kamu ini!" ucap seorang ibu-ibu pada Tama yang baru saja mendekat. Nada bicaranya tinggi, dengan penekanan dan juga bentakan.

"Ini juga! Sok-sokkan belain sodaranya, udah tau salah! Ajarin sopan santun sama adek kamu! Masih kecil aja udah berani ngelawan orang tua!" lanjut ibu-ibu itu.

"Nenek lampir ini tadi pukul Barra, terus dorong Barra sampe jatoh, Kak!" seorang remaja tanggung yang tidak mau disalahkan membuka suara membela diri. Sejak tadi ia sudah bertengkar dengan wanita yang jauh lebih dewasa darinya.

"Jaga mulut kamu, anak kurang ajar!" kesal dengan ucapan itu, Kartika, nama ibu-ibu itu, menekan kuat kedua pipi remaja tanggung yang barusan mencelanya, menggunakan jari-jarinya. Kesabaran Kartika sudah habis karena anak itu.

"Tante, jangan!" melihat adiknya diperlakukan seperti itu, jelas saja Tama tidak diam. Ia langsung menarik kencang tangan Kartika agar lepas dari wajah adiknya.

"Kalo gak bisa ngurus mereka, kamu kunciin aja mereka di dalam rumah! Bisanya cuma cari ribut aja sama orang-orang! Urusin adik kamu yang bener!" setelah itu Kartika menarik satu putranya ke arah rumah mereka. Meninggalkan Tama dan adik-adiknya begitu saja.

Tama menghela napas. "Kamu gapapa?" tanyanya pada sang adik. Tangannya mengusap lembut pipi yang kemerahan itu, pasti sakit karena Kartika menekan pipinya sampai memerah. Jika tidak ada tekanan dari tangan Kartika, pasti tidak sampai memerah.

Remaja tiga belas tahun itu menepis tangan kakaknya. Ia segera pergi dari sana, berlari memasuki rumah meninggalkan dua saudaranya yang masih disana.

Lagi-lagi menghela napas. Ia menoleh pada seorang lagi. "Kamu diapain tadi?" tanya Tama. Ia melihat wajah sembab itu, yakin sekali adiknya tadi menangis.

"Dia pukul aku."

"Kenapa? Kamu ada buat masalah? Kata ibunya kamu lempar pake batu? Kenapa dilempar?"

"Aku mau pinjem sepedanya. Tapi dia gak bolehin."

"Kalo mau pinjem, bilangnya baik-baik. Kalo gak dikasih, gak usah paksa. Kamu salah, gak boleh berbuat kasar. Gak boleh ngelukain orang, pukul atau apapun itu."

"Tapi aku cuma mau pinjem sepedanya! Aku mau coba pake sepeda juga!" adik Tama yang tertinggal disana adalah Barra. Dia berteriak marah pada kakaknya karena tidak mau disalahkan.

SIBLINGSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang