Episode 25

1.2K 130 11
                                        

Happy Reading!

*****
Aku merenggut kesal. Bagaimana tidak? Sudah satu jam semenjak kami memutuskan untuk benar-benar menangkap ikan di sungai, dan selama satu jam itu pula lah aku tidak mendapatkan apapun. Alias nihil.

Oke. Aku jelaskan terlebih dahulu.

Edgar. Pria itu secara tidak terduga meng-iyakan ajakan tidak masuk akalku. Kami berjalan hingga sampai di sebuah sungai yang sangat indah.

Pokoknya, tipe sungai-sungai yang ada di cerita dongeng. Ada air terjun mengalir dengan pelangi yang membentang indah.

Maaf, aku agak berlebihan ya?

Lalu kami membuat tombak dari peralatan yang seadanya. Dengan sebuah belati yang diikatkan pada ujung ranting pohon yang kira-kira cukup kokoh. Yah --seperti hidup di jaman batu lah istilahnya.

Dan begitulah aku dengan bodohnya mencoba menangkap ikan dengan tombak yang dibuat, namun sialnya Dewi Fortuna belum memihak padaku. Para ikan pun sepertinya memiliki dendam pribadi kepadaku hingga mereka merasa enggan untuk menghampiriku.

Aku menatap kesal.

Edgar --pria itu sudah menangkap lebih dari sepuluh ikan!

Yang benar saja?!

Disaat aku belum mendapatkan satu ikanpun, pria tampan itu malah terlihat begitu mudah menangkap ikan seolah-olah sedang membalikkan telapak tangan. Sangat mudah!

Dan yang paling membuatku kesal adalah tatapan Edgar seperti mengejekku! Pria itu menatapku seolah-olah aku ini pecundang kelas kakap karena tak dapat menangkap ikan satu pun dalam kurun waktu satu jam.

Tentu aku tidak menyerah.

Aku menatap air sungai yang mulai membuatku mati rasa dan menatap ikan-ikan yang melewatiku. Kufokuskan pandanganku dan di dalam hatiku aku rapalkan mantra

'Ayo! Mendekatlah'

'Tertangkaplah'

'Biarkan aku menyicipi daging lezat kalian'

'Ayolah!'

Kuulang mantra tersebut beberapa kali di dalam hati. Dan,

HAP!

Satu ekor ikan terlihat menggelepar karena tertusuk tombak milikku.

"YEAHHH!!!" refleks aku menjerit senang sembari mengacungkan tombakku yang berhasil menangkap satu ekor ikan.

Aku bahkan menari-nari diatas air saking senangnya. Perjuanganku tak sia-sia. Akhirnya aku bisa menangkap satu ekor ikan juga.

Disaat aku sedang merayakan kegembiraanku, pundakku ditepuk secara tiba-tiba dan hal itu mampu membuatku tersentak kaget.

"Jangan terlalu lama berada di dalam air."

"Nanti kau sakit."

Edgar --pria itu dengan beraninya mengganggu selebrasi kebahagiaanku dengan dalih mencegahku agar tak sakit.

Aku menatapnya sedikit kesal. Edgar jelas-jelas menatapku dengan tatapan mengejek tatkala aku tak berhasil menangkap seekor pun ikan. Dan tiba-tiba dia datang dan mengganggu selebrasi kegembiraanku.

Aku menghela napas kasar,

"Pangeran bisakah anda tidak mengganggu saya dulu?"

"Lihat! Saya bisa menangkap ikan besar ini dalam sekali tangkapan."

"Saya hebat, kan?"

Aku dengan jumawanya membanggakan diri di hadapan Edgar. Bodo amat soal dia yang berhasil mendapatkan seratus ikan pun. Lagipula ikan-ikan yang dia tangkap tak sebesar milikku.

ImpossibleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang