Episode 28

1.6K 132 15
                                        

Aku senang sekali.

Karena apa? Tentunya karena semua yang aku inginkan akan dibayarkan oleh kedua pangeran ini. Haha.

Apa aku ini cewek matre? Tapi, semua hal butuh duit. Sering aku lihat entah di dunia nyata atau di dunia novel, semuanya tetap butuh duit. Kalau mau ke toilet umum saja kita harus bayar, apalagi untuk berbelanja seperti ini.

Jika dibayangkan Edgar dan Evan merupakan anak pemilik perusahaan bonafide yang tampan dan rupawan. Yang satu berambut perak , dan yang satu lagi berambut hitam seperti bulu gagak. Dan nantinya sudah pasti mereka akan menempati posisi masing-masing. Yang satu jadi pemilik perusahaan menggantikan sang ayah, dan yang satu lagi akan membangun perusahaan dan akan merintis perusahaannya agar semakin besar.

Aku sepertinya agak ngelantur.

Mereka kini sedang memilih sesuatu di toko pernak-pernik yang katanya mereka berdua akan dibelikan pernak-pernik agar terlihat semakin imut.

Aku kan tidak pernah memaksa siapapun untuk membayarkan belanjaanku. Tapi, tetap saja aku masih merasa segan terhadap mereka,

"Lihat kuncir rambut ini! Pasti lucu di kamu." Aku menatap sang pangeran, Evan. Dialah yang heboh memilih ini dan itu. Padahal niatnya kami berbelanja hanya untuk keperluan berperang Edgar.

"Pangeran, sudah cukup ya." Aku menyeret pria itu menjauh dari penjual pernak-pernik. Pria ini sangat merepotkan. Sungguh.

Edgar malah tersenyum, ah tidak --dia tertawa melihatku kesulitan untuk menghadapi sang adik. Umurnya baru enam belas, tapi badannya bukan main. Aku yakin ada otot-otot manja yang tersembunyi dibalik bajunya.

Yap --dia seumuran denganku. Tapi tubuhnya sudah tinggi besar. Wajahnya juga tampan bersinar khas tipe-tipe pemeran utama pria. Kinclong seperti piring habis dicuci. Haha.

"Tapi.. itu lucu untukmu, Yara." Aku menghela napas lelah. Melihat tingkahnya sama persis dengan orang utan yang baru keluar hutan, bekeliaran tak tahu arah.

"Ayolah, Yara!" Dia bahkan menggoyangkan tanganku seperti anak kecil minta dibelikan mainan. Kekanakkan sekali. Mana bisa Evan jadi pemeran utama? Perasaan aku menggambarkannya sebagai sosok yang keren deh. Tubuh gagah, tinggi semampai hingga rahang tegas. Kenapa sifatnya malah menjadi seperti ini?

"Hush! Jangan memaksanya seperti itu." Edgar memerintah dan mengusir persis seperti mengusir nyamuk, mengibas-ngibas tangan besarnya.

"Yara pasti suka boneka teddy bear ini." Lanjutnya. Pria itu menunjukkan boneka teddy bear berwarna coklat dengan topi ala pelaut menempel di kepalanya.

gubrak!

Ya Tuhan, bisa aku berubah menjadi batu saja? Aku terlalu malas menghadapi dua pangeran gila ini. Satu saja sudah stre, ini ditambah satu lagi. Bisa mati berdiri aku.

********

Aku serius soal ingin membebaskan Edgar dari 'kutukannya'.

Iblis?

Manusia lebih seram daripada iblis,

Aku sudah mencari informasi tentang penyihir yang ada di dunia ini. Di novel ini, hanya saja keberadaannya dianggap tabu dan terlarang. Hanya sedikit penyihir yang bisa bertahan dengan kejamnya masyarakat. Mereka menyembunyikan identitas mereka agar tak diamuk massa. Orang yang pergi ke penyihir pun tetap diamuk massa,

Aku bergidik nyeri. Aku harus sembunyi-sembunyi dalam mendatangi penyihir. Aku sudah dapat informasi dari sebuah buku lapuk yang ada di perpustakaan. Pustakawan yang menjaga perpustakaan tengah tertidur lelap saat aku menyelinap masuk ke dalam perpustaan. Kalian harus ingat kalau aku ini hanyalah rakyat biasa, bahkan ada bangsawan yang membenci rakyat jelata tanpa alasan yang jelas. Jika ketahuan mencuri sepotong roti untuk makan, maka kamu akan dilempari batu hingga terluka

ImpossibleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang