18. Perfect Plan

209 29 3
                                        

-

"Apa sebenarnya yang terjadi di antara kami bertiga...?"

"Apa aku... pernah kehilangan sesuatu yang sekarang ingin kembali padaku?"

-

Di sisi lain istana.

Sebuah ruangan sunyi, tertutup tirai giok dan dupa cendana yang terbakar perlahan. Cahaya lilin menari lembut di dinding batu, memantulkan bayangan seorang pria yang tengah duduk bersila di atas tikar meditasi berlapis sutra merah tua.

Jing Yuan.

Tubuhnya tenang, tapi dahi dan pelipisnya dibasahi keringat. Kelopak matanya gemetar halus, dan tangannya yang terlipat rapi di atas lutut menggigil samar.

Tiba-tiba, darah menetes dari hidungnya, jatuh membasahi jubah putih dengan bordiran langit senja di dadanya.

Ia mimisan.

Tapi tidak bangkit. Tidak panik. Hanya menghela napas pelan, seperti orang yang sudah memperkirakan efek samping dari permainan yang sedang ia lakukan.

Ya, benar.

Sedari tadi ia berada di dalam mimpi Dongjun.

Atau lebih tepatnya, memasuki dan merekayasanya.

Dengan teknik terlarang yang hanya diwarisi di antara garis darah tertentu dari klan langit, Jing Yuan memanipulasi celah kesadaran Dongjun. Ia menyisipkan gambar, perasaan, bahkan kata-kata, membentuk ilusi yang samar antara ingatan dan kemungkinan.

Tujuannya bukan untuk mempermainkan hati.

Bukan karena ia mencintai Dongjun.

Tidak.

Ia hanya ingin Dongjun kebingungan.

Bimbang akan dirinya sendiri. Ragu pada masa lalunya. Dan pada akhirnya... ragu pada masa depannya dengan Dingzhi.

Karena jika pernikahan Dongjun dan Dingzhi benar-benar terlaksana, maka Yīn Léi Guó, kerajaan yang selama ini menjunjung keseimbangan antara darah manusia dan warisan langit akan memiliki penerus.

Dan jika penerus itu lahir...

Maka ramalan lama yang dijaga oleh para penjaga takdir akan menjadi nyata.

Dan Jing Yuan... akan kehilangan segalanya.

"Kau terlalu jujur, Dingzhi..." pikirnya sambil mengusap darah di bawah hidungnya. "Dan kau terlalu polos, Dongjun. Itu membuat kalian lemah. Terlalu mudah percaya pada takdir. Pada cinta."

Ia membuka mata perlahan, iris keemasannya kini tampak lebih gelap, seperti mata binatang malam yang menyusun strategi.

"Jika takdir memilih kalian, maka aku hanya perlu sedikit mengubah arah angin."

Senyum tipis muncul di bibirnya, bukan karena senang, tapi karena kemenangan terasa semakin dekat.

-

Malam belum usai.

Tapi kasur di sisi barat paviliun utama bergerak pelan, seperti ada gelombang gelisah yang terus bergulir di atas permukaannya. Dingzhi membuka mata perlahan. Ia bukan tipe yang mudah terbangun... tapi kali ini ada sesuatu yang tidak biasa.

Ia mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan pandangannya dengan cahaya remang-remang dari lentera kecil di sudut ruangan. Lalu ia menoleh ke samping-

Dan menemukan Dongjun, yang masih dalam tidurnya, tubuhnya bergerak tak tenang. Wajahnya berkeringat. Alisnya mengerut. Bibirnya bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tidak ada suara yang keluar.

Gelisah.

Dingzhi mengangkat tubuhnya perlahan, bersandar pada satu tangan. Ia memperhatikan Dongjun tanpa mengucap sepatah kata pun.

Detak jantung Dongjun cepat. Nafasnya tak teratur. Tangan kirinya mencengkeram selimut, sementara tangan kanannya menggenggam erat udara kosong... seolah ia mencoba memeluk sesuatu-atau seseorang-yang tidak ada di sana.

Dan yang paling membuat Dingzhi mengerutkan dahi adalah suara lirih yang akhirnya keluar dari mulut Dongjun.

"...Jing Yuan..."

Nama itu terdengar nyaris seperti helaan napas. Tapi cukup untuk menusuk dada Dingzhi.

Ia tidak langsung bereaksi. Hanya terdiam, menatap wajah Dongjun yang kini tampak lebih rapuh daripada sebelumnya. Rasa penasaran dan... rasa khawatir, mulai menggumpal di dadanya.

"Apa yang sedang kau lihat di dalam mimpi itu, Dongjun?" pikirnya.

Tanpa sadar, Dingzhi mengulurkan tangan dan menyentuh dahi Dongjun dengan punggung jari. Keringat dingin. Terlalu dingin. Terlalu dalam.

"Ini bukan mimpi biasa," gumamnya pelan.

Seketika itu juga, Dongjun menggeliat sedikit dan matanya terbuka lebar-terengah, seolah baru saja ditarik dari kedalaman laut yang hitam. Nafasnya memburu, dan matanya langsung bertemu mata Dingzhi.

"Dongjun?" tanya Dingzhi, pelan, nyaris seperti bisikan, tapi jelas mengandung kekhawatiran yang tidak ditutup-tutupi.

Dongjun tidak langsung menjawab. Ia masih terdiam, berusaha membedakan antara kenyataan dan mimpi. Tangannya masih mencengkeram selimut, dan tubuhnya sedikit gemetar.

"...Kau... terbangun?" Dongjun akhirnya bertanya, suaranya serak.

Dingzhi mengangguk. "Kau mengigau. Kau berkeringat. Seperti sedang melawan sesuatu yang tidak bisa kulihat."

Dongjun menunduk. Lalu menatap tangan kosongnya. Ia mengingat dengan jelas sensasi tubuh mungil yang ia peluk... suara Jing Yuan... kata-kata itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menyembunyikan rasa bingung yang nyata di wajahnya.

"Aku... aku tidak tahu apa yang baru saja kulihat. Tapi rasanya... terlalu nyata."

Dingzhi tetap menatapnya dalam diam, lalu berkata pelan, "Ceritakan padaku."

Dongjun menggeleng. "Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana..."

Lalu, dengan suara yang lebih kecil, nyaris seperti gumaman-

"Ada aku... dan ada seorang anak... dan... Jing Yuan. Tapi aku tidak tahu apakah itu masa lalu, atau masa depan. Atau... sesuatu yang bukan milik kita semua."

Dingzhi menegang. Tapi ia tidak menunjukkan keterkejutan apa pun. Ia hanya meletakkan tangannya di atas tangan Dongjun, lalu menatapnya serius.

"Aku tidak tahu apa yang kau lihat. Tapi jika itu bukan milik kita, maka pasti seseorang sedang mencoba memberikannya padamu. Atau lebih buruk... memaksakannya."

Dongjun menatap Dingzhi dalam-dalam. Dan untuk sesaat, ia merasa ada satu tempat yang membuatnya tetap waras. Dan itu adalah tatapan Dingzhi.

Namun dalam pikirannya... suara Jing Yuan terus bergaung.

"Anak kita tidak selemah itu."

-

To be continue

-

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Betrayed | YebaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang