17. Dream's

151 34 1
                                        

Dongjun menatapnya, kali ini tak ada senyum, hanya keheningan yang mendalam di antara mereka.

Sesuatu sedang berubah.

Keheningan kembali menggulung ruangan, kali ini bukan karena ketegangan, tapi karena sesuatu yang lebih rapuh—lebih jujur. Waktu terasa melambat.

Dingzhi berdeham pelan, seperti seseorang yang baru saja tersadar dari mimpi yang terlalu dekat dengan kenyataan.

Dongjun segera memalingkan wajah, pura-pura tertarik pada vas bunga plum di sudut ruangan. Jemarinya mencengkeram kain bajunya sendiri, berusaha menenangkan degup jantung yang entah kenapa tak bisa dia kendalikan.

Tak ada yang berbicara. Tapi udara terasa penuh dengan hal-hal yang tidak diucapkan.

Dan di luar jendela yang setengah terbuka, Jing Yuan berdiri diam di balik pohon plum yang meranggas. Sebagian wajahnya tertutup bayangan, tapi mata itu.. mata yang selalu tenang dan mengamati.. menyiratkan pemahaman yang lebih dalam daripada yang ia tunjukkan selama ini.

Senyum tipis menggantung di sudut bibirnya.

Bukan senyum mengejek.

Bukan pula senyum senang.

Melainkan… senyum seseorang yang tahu persis bahwa permainan telah berubah arah.

Sesuatu sedang bergerak perlahan, seperti pion yang tak sengaja melangkah ke garis musuh. Sesuatu yang lebih sulit dikendalikan dibanding konspirasi politik, lebih berbahaya daripada racun yang tak terlihat.

Perasaan.

Dan dalam bayang-bayang sore itu, Jing Yuan tetap berdiri diam, membiarkan angin menyapu rambut panjangnya yang terikat rapi, sementara matanya tak pernah lepas dari dua sosok di dalam paviliun yang kini berdiri terlalu dekat—dan terlalu tak sadar akan apa yang telah mereka mulai.

Dingzhi akhirnya memalingkan wajah lebih dulu. Ia melangkah ke arah pintu, tapi berhenti di ambang.

“Kau sebaiknya beristirahat,” katanya, tanpa menoleh. Suaranya datar, tapi ada kelembutan samar yang menyusup di sela-selanya. “Aku masih harus mengurus sesuatu malam ini.”

Dongjun menatap punggung itu, diam beberapa saat, sebelum akhirnya membuka suara pelan, tapi tegas.

“Tak apa... kalau kita berbagi tempat tidur malam ini.”

Langkah Dingzhi terhenti.

Kesunyian langsung merayap masuk, seakan waktu menahan napasnya sendiri.

Dongjun melanjutkan, kali ini dengan nada yang sedikit lebih ringan, meski matanya tetap serius, “Ruangan ini tidak besar, dan aku juga tidak akan mengambil banyak tempat. Lagipula, ini bukan pertama kalinya kita berbagi ranjang, kan?”

Ia mencoba tersenyum, senyum yang tampak biasa, tapi terlalu halus untuk disebut menggoda, terlalu tulus untuk disebut basa-basi.

Dingzhi menoleh perlahan, menatapnya dalam diam. Ada keraguan di matanya, tapi bukan karena takut… lebih karena kewaspadaan atas dirinya sendiri.

Dongjun menunduk, sedikit menghindari tatapan itu. Suaranya merendah, nyaris seperti bisikan.

“Kalau aku tidur sendirian malam ini… kurasa aku tak akan bisa benar-benar tidur.”

Dingzhi menatapnya cukup lama untuk menyadari bahwa ini bukan hanya soal tempat tidur. Ini soal rasa aman atau mungkin, soal keberadaan satu sama lain.

Akhirnya, ia menghela napas, pelan.

Betrayed | YebaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang