𝑻𝒐𝒌𝒚𝒐 𝑵𝒐𝒊𝒓 𝑭𝒂𝒎𝒊𝒍𝒊𝒂 𝒙 𝑳𝒊𝒕𝒕𝒍𝒆! 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒆𝒓
Gadis kecil yang selalu dikenal dengan keramahan dan keimutannya. Hampir semua orang di Kota mengenal dirinya.
"Selamat pagi Kakak."
Dia yang selalu memanggil orang lain Kakak, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah lewat beberapa jam semenjak kepolisian menerima alarm penembakan di gedung 392. Kini gedung itu di kelilingi police line milik kepolisian Tokyo Verse. Gedung itu sudah bersih dari officer yang bertugas. Sebelum pergi, mereka sudah memasang CCTV untuk mencegah pelaku datang kembali.
Tapi mari kita fokus pada sosok yang berjalan tertatih berusaha memasuki apartemen Alta.
'Ada penjaga.'
Tangannya bergerak mengambil 'kelereng' berwarna hitam dari saku bajunya. Dia melempar 'kelereng' itu melewati celah bawah pintu, sampai ke dekat pos penjagaan. Terjadi sedikit keretakan pada 'kelereng'.
Dan simsalabim, penjaga itu langsung tertidur di pos-nya.
Rache beralih mencengkram perutnya yang terbalut perban. Bukan hanya perut, seluruh badannya penuh dengan perban yang mengelilinginya. Pertanda dia memiliki luka. Tapi anehnya, pakaian yang ia pakai bersih tanpa noda darah sedikit pun.
'Ukh.. padahal aku sudah menyuntik penghilang rasa sakit pada tubuhku.Apa efeknya sudah hilang?'
Dia terus melangkah, hingga akhirnya berhasil sampai di depan pintu lift dengan susah payah. Sosok itu masuk ke dalam lift dan menekan lantai tujuannya, lantai 2.
Kakinya bergetar menahan sakit, luka tembak yang diterimanya membuat tubuhnya seketika bersandar pada dinding lift.
Pintu lift terbuka, menampilkan lantai 2 apartemen yang sepi. Dirinya berjalan dengan kaki gemetar.
Tes Tes Tes
Darah mengalir dari luka di punggung dan perutnya. Pakaian yang awalnya bersih, sekarang telah ternodai oleh darahnya. Ia mempercepat langkah, berhenti di pintu bertuliskan nomor unit 205. Satu tangannya mengetuk pintu itu, sementara tangan yang lain berusaha menekan pendarahan di perut.
Tok Tok
Ketukannya begitu pelan, ia harap penghuni di dalam mendengarnya. Rache melirik lorong yang tadi ia lewati, banyak darah yang mengotori lantai.
'Aku kembali merepotkannya.'
Raut wajah Rache menampakkan betapa kecewanya ia pada dirinya sendiri. Memikirkan dia yang selalu merepotkan anak itu. Kembali melihat pada pintu yang mengeluarkan suara tanda pintu dibuka oleh penghuni di dalam.
Cklek!
Mungkin kalian sudah tahu siapa yang membuka pintu itu. Yap, siapa sangka bahwa seekor kucing yang membukakan pintu untuk gadis itu.
"Mao?!"
Bahkan reaksinya seperti manusia. Kucing itu tampak kaget melihat gadis di depannya pulang dengan berlumuran darah. Wajahnya pucat, darah merembes sampai ke pakaiannya.
Mao masuk ke dalam, dengan niatan untuk membangunkan (name). Rache menginjakkan kakinya ke unit 205, berjalan ke arah anak kecil yang sedang tidur di dekat jendela. Melihat tingkah lucu Mao yang berusaha membangunkan tuannya.