13 - Jujur Atau Tantangan

1.3K 175 5
                                        

Dingin sekali pagi ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dingin sekali pagi ini. Mungkin itu efek dari hujan yang tak kunjung berhenti. Hujannya awet sekali ya, bahkan sampai matahari terbit pun, langit masih saja menangis.

Gadis cantik bersurai hitam menatap jendela yang tirainya sedikit terbuka. Pemandangan yang sama seperti semalam kembali ia dapatkan. Matanya nampak lelah.

Rache tidak mendapatkan tidur yang cukup, semalaman dia menjaga (name) yang terus bermimpi buruk. Dan berakhir dengan mereka begadang sampai jam 3 pagi.

Cukup menyenangkan sebenarnya, mereka menghabiskan waktu dengan memasak camilan tengah malam, dan sedikit permainan kecil. Seperti Truth or Dare, salah satu game yang mereka sukai. Karena saat game itu dimulai, setiap pertanyaan dan tantangan yang diberikan harus dijawab dengan jujur dan dituruti.

Permainan ini merupakan salah satu cara mereka untuk mengungkapkan sesuatu yang mengganggu pikiran keduanya. Dengan begini, (name) dan Rache bisa mengenal satu sama lain dengan lebih baik.

Alasan lainnya juga, untuk mendistraksi (name) akan hal-hal menyeramkan dari kegiatan begadang.

"(Name), Truth or Dare?" Tanya Rache. Sekarang giliran (name) untuk memilih jujur atau tantangan.

"(Name) memilih jujur!" Anak itu berseru dengan girang. Rache memikirkan pertanyaan yang ingin dia tanyakan. (Name) menunggu dengan sabar, menerka-nerka pertanyaan apa yang akan ia dapatkan.

Rache melirik kucing yang sedang tidur di ujung kasur. Supaya kalian gak bingung, posisinya Rache dan (name) sedang duduk di lantai dengan karpet bulu lembut sebagai alas. Mereka juga memakai selimut untuk mengusir hawa dingin, sebab di luar sedang turun hujan.

(Name) mengikuti arah pandang Rache. 'Apa Kakak mau bertanya tentang Mao?' batinnya bertanya. (Name) kemudian menatap Rache, yang ternyata sudah lebih dulu menatapnya datar. Anak itu tersentak kecil, "A-ada apa Kakak?"

Jujur saja, Rache yang menatap dengan datar itu agak menakutkan. Meski ini bukan yang pertama kali, tetap saja (name) tidak terbiasa.

Rache terus menatapnya selama beberapa detik. (Name) menundukkan pandangan, menghindari mata yang menatapnya. "Kau membenciku ya?"

Pertanyaan yang Rache lontarkan lantas membuatnya kembali menatap Kakaknya. (Name) memiringkan kepala, menjadikannya terlihat lucu di mata sang lawan bicara. "Maksud Kakak apa?"

Rache hilang fokus sejenak, tapi dia kembali menjadi dirinya. "Kau ingat apa yang aku suruh saat kita pertama kali sampai di Kota ini?"

(Name) menggangguk, "Iya. Kakak meminta (name) untuk belajar bicara menggunakan bahasa yang lebih santai kan?" Rache membalas dengan anggukan juga. "Ya. Dan apakah kau sudah melakukan itu?"

"(Name) belum bisa melakukannya kalau pada penduduk Kota. Tapi (name) sedang belajar bicara pada Mao. Apa tidak apa-apa jika begitu Kakak?" (Name) menjelaskan sekaligus bertanya. Aduh, polos sekali anak ini.

꧁༒༺ 𝕆𝕦𝕣 𝕃𝕚𝕥𝕥𝕝𝕖 𝕊𝕚𝕤𝕥𝕖𝕣 ༻༒꧂  || 𝙏𝙉𝙁 𝙭 𝙍𝙚𝙖𝙙𝙚𝙧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang