17 - Maaf

1.1K 160 14
                                        

"(Name) mohon, tolong maafkan Kakak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"(Name) mohon, tolong maafkan Kakak. Kakak sebenarnya tidak berniat untuk menyakiti Kakak-kakak semua. Kakak hanya salah paham. (Name) mohon, terima permintaan maaf Kakak ya."

Seluruh atensi kini tertuju pada anak kecil yang sedang mewakilkan kakaknya untuk minta maaf. Mereka mendengar apa yang (name) ucapkan. Namun mereka tidak bisa memberikan jawaban.

Diamnya mereka sudah memberi Rache jawabannya. 'Mereka tak akan memaafkan ku.'

Gadis itu lalu berbisik pada anak yang digendongnya. "Kau sudah berusaha. Biar ku lakukan dengan caraku."

(Name) menoleh pada kakaknya, ia menggeleng. "Tidak mau. (Name) tidak menyukai cara Kakak. (Name) akan meminta maaf sampai mereka mau menerima maaf Kakak. Kakak percaya pada (name) kan?" Bisiknya meyakinkan.

Tanpa sadar seutas senyum tipis terukir di wajah Rache. Ia menjawab dengan berbisik. "Iya. Kakak percaya pada (name)."

(Name) senang mendengar itu, perkataan Rache semakin meningkatkan semangatnya. Hingga ia lupa perihal sakit di kepalanya.

Anak itu tak kenal lelah. Dia meminta maaf atas nama Rache berulang kali pada anggota TNF. Berharap mereka akan menerima permintaan maaf kakaknya.

Egois memang, tapi dia harus apa. Dirinya hanya seorang adik yang mengharapkan kebaikan untuk kakaknya.

Rion mengapresiasi kegigihan (name), akhirnya dia memutuskan bicara mewakilkan semua anggota keluarganya. "Oke. Gue maafin."

"Papi! Tapi Rache udah lukain Papi dan keluarga kita! Mia ga terima kalo dia dimaafin gitu aja!" Mia menyela kesal. Setelah semua rasa sakit yang dialami keluarganya. Mana mungkin Mia akan melepaskan Rache begitu saja.

Si surai putih sebenarnya bingung dengan keputusan yang diambil Rion. Karena biasanya, setiap ada satu anak yang disakiti, Rion pasti akan membalas hal itu berkali-kali lipat lebih kejam. Namun kali ini, si Papi seperti orang yang berbeda.

Rion mengisyaratkan anak-anaknya untuk diam, rupanya selain Mia, ada banyak anaknya yang tidak setuju dengan keputusannya. Rion memandang (name) yang berusaha menahan air matanya. "Kalo mau nangis, nangis aja. Gak usah ditahan gitu."

Sontak (name) menoleh pada pemilik suara. "(Name) tidak menangis—!" Anak itu terkejut, tubuh mungilnya mulai bergetar ketika mengetahui Rion sedang menatapnya.

Rache menyadari itu, dengan sigap memalingkan wajah (name) untuk beralih menatap dirinya. "Kau diam saja. Selanjutnya biar aku yang menangani."

"Tidak. Kakak sudah percaya pada (name). Jadi (name) harus berhasil. (Name) tidak mau kepercayaan Kakak sia-sia." (Name) menolak dengan keras. "Tapi kau ketakutan. Sudahlah berhenti. Lagi pula, menurutku kau sudah berhasil. Kepalamu masih sakit kan. Tidur saja."

Karena disinggung Rache, membuat rasa sakit di kepalanya kembali ia rasakan. Rache mengelus surai emas adiknya, berniat membuat (name) tidur.

Sebelum (name) benar-benar tertidur, Rache sempat berbisik padanya. "Tidurlah dengan tenang. Setelah kau terbangun, semuanya akan selesai. Sesuai keinginan mu." Sampai akhirnya (name) pun tertidur lelap digendongan Rache.

꧁༒༺ 𝕆𝕦𝕣 𝕃𝕚𝕥𝕥𝕝𝕖 𝕊𝕚𝕤𝕥𝕖𝕣 ༻༒꧂  || 𝙏𝙉𝙁 𝙭 𝙍𝙚𝙖𝙙𝙚𝙧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang