𝑻𝒐𝒌𝒚𝒐 𝑵𝒐𝒊𝒓 𝑭𝒂𝒎𝒊𝒍𝒊𝒂 𝒙 𝑳𝒊𝒕𝒕𝒍𝒆! 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒆𝒓
Gadis kecil yang selalu dikenal dengan keramahan dan keimutannya. Hampir semua orang di Kota mengenal dirinya.
"Selamat pagi Kakak."
Dia yang selalu memanggil orang lain Kakak, membuat...
Baru saat pagi sistem selesai memproses data. Manik merahnya menatap datar pada nama-nama yang tertera di sistem keamanan. Merasa kenal dengan pemilik nama.
Ia mendengus, "Mereka sudah tau? Padahal aku sudah memberikan penawaran. Rupanya mereka tidak puas dengan itu." Rache memijat pangkal hidungnya. "Aku melupakan fakta kalau manusia bisa berubah."
Jari-jarinya dengan terampil mengotak-atik keyboard, hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Rekaman CCTV seminggu yang lalu, tepat setelah Rache meninggalkan unit (name).
Rache mengecek satu per satu rekaman dengan teliti. Mulai dari hari pertama, tidak ada kejanggalan. Hari kedua, tetap sama, hanya ada (name) yang sedang berbaring di kasur. Hari ketiga, masih sama seperti hari sebelumnya. Lanjut di hari keempat.
'Ini dia.'
Layar di depannya menampilkan sebuah rekaman yang menangkap lima orang tengah memasuki kamar (name). Empat perempuan dan satu laki-laki berambut hitam.
Iris ruby itu menyaksikan segalanya. Riji yang menendang Mao sampai kucing itu menghantam dinding, dan berakhir dengan si kucing tergeletak di lantai. (Name) yang menangis melihat Mao terluka. Anak itu bangun dari ranjang, berjalan mendekati Mao, hingga (name) pingsan sesaat setelah lima orang itu mendekat ke arahnya.
Rache lalu mengecek rekaman CCTV lain, namun tetap di hari yang sama. Terlihat jelas di lobby apartemen tidak ada penjaga satu pun. 'Cukup bersih juga cara main mereka.'
Jarinya mengganti channel CCTV yang mengarah ke garasi Alta. 'Rambut putih.' Rache dapat melihat seorang laki-laki bersurai putih, berdiri di antara dua mobil yang terparkir.
Tak lama kemudian, datanglah lima orang tadi. Mereka berlari mendekat ke arah si surai putih. Rache menatap (name) yang tidak sadarkan diri, gadis berambut abu tua gradasi putih menggendong (name).
Tangannya mengepal kuat begitu melihat kedua mobil itu pergi membawa (name), juga kucingnya. Aura mengerikan mengelilingi Rache, netranya menatap tajam pada mobil yang baru saja pergi.
BRAK!!
"Sialan kalian." Umpatnya setelah melampiaskan kekesalannya pada meja yang tidak bersalah. Rache memejamkan mata, berupaya meredakan emosinya. Dia tahu kelemahannya ketika marah. Tubuhnya akan bergerak sendiri mengikuti insting, dan biasanya selalu berakhir buruk.
Masih dengan mata yang terpejam, Rache mengambil napas dalam, lalu menghembuskan secara perlahan. Iris ruby yang semula bersembunyi kini mulai terlihat. Ia memandang dua tangannya yang menggenggam sisi meja, hingga hancur. "Aku merusaknya."