𝑻𝒐𝒌𝒚𝒐 𝑵𝒐𝒊𝒓 𝑭𝒂𝒎𝒊𝒍𝒊𝒂 𝒙 𝑳𝒊𝒕𝒕𝒍𝒆! 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒆𝒓
Gadis kecil yang selalu dikenal dengan keramahan dan keimutannya. Hampir semua orang di Kota mengenal dirinya.
"Selamat pagi Kakak."
Dia yang selalu memanggil orang lain Kakak, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit yang gelap itu sudah mulai bersinar terang. Sekarang waktunya sang mentari membawa kehangatan pada setengah dunia.
Operasi Rache berlangsung selama 4 jam, dari jam 2 dini hari sampai jam 6 pagi, lumayan untuk ukuran anak kecil. Namun setelah operasinya selesai dan peralatannya sudah dibereskan. (Name) lebih memilih untuk melakukan pekerjaan lain daripada beristirahat. Mulai dari melepas kalung Mao dan menyimpan 'barang' milik Rache.
"Mao tolong temani Kakak sebentar ya. (Name) harus memastikan semuanya bersih."
Belum sempat kucing itu menjawab, (name) sudah pergi ke luar unit-nya. Mao sebenarnya ingin memaksa (name) beristirahat tapi jika menyangkut tentang Rache, (name) akan menjadi sangat keras kepala.
"Mao..." Tersirat perasaan sedih campur kecewa dari kucing itu. Ia hanya bisa menatap tuan kecilnya yang berjalan keluar.
(Name) mengecek lorong yang di lewati Rache, takut jika robotnya melewatkan satu titik. Tidak lupa juga dia mengecek setiap sudut lift, berpikir kalau ada darah Rache di dinding lift, ia bisa segera membersihkannya.
(Name) terus melakukan gerakan-gerakan yang melelahkan, mengabaikan jarum jam yang terus berputar.
°❀.ೃ࿔°
(Name) sedang bersiap-siap untuk pergi keluar. Kaos putih lengan pendek yang sudah satu set dengan celana pendek berwarna pink pucat atau nama kerennya, warna salmon. Dengan motif kucing di kaos dan celananya.
Anak itu, apa dia tidak berpikir untuk beristirahat? Sedari pagi dia terus bergerak, dan sekarang dia masih ingin pergi keluar? Lihat saja jam-nya, jam 8 lewat 14 menit. Dia bahkan tidak sarapan.
Diraihnya ransel putih dengan aksen kucing imut di depannya, menggendong ransel itu di bahu. Lalu menatap Mao yang memperhatikannya sedari tadi.
"Untuk kali ini, Mao tidak perlu ikut ya."
"Mao?"
"Mao lihat keadaan Kakak, (name) ingin Mao menjaga Kakak di sini. Mau ya Mao?"
"Mao mao!"
Tentu Mao menentang keras ucapan (name). Mao tidak mungkin membiarkan (name) keluar sendiri, tanpa dirinya. Anak itu harus dilindungi, dan sudah menjadi tugas Mao untuk melindungi (name).
(Name) tahu Mao akan menolak. Tapi (name) tidak akan tenang jika harus meninggalkan Kakaknya yang terluka, sendirian. (Name) harus membujuk kucingnya.
"Mao, tolong hari ini saja. (Name) janji akan pulang dengan selamat. Percaya pada (name) ya?"
"Maooo!" Kucing itu meninggikan nada bicaranya, seolah berteriak.
"Mao tega meninggalkan Kakak sendirian di sini? Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada Kakak?"
"Maooo!"
"Mao tolong ya. (Name) janji akan kembali dengan cepat."