𝑻𝒐𝒌𝒚𝒐 𝑵𝒐𝒊𝒓 𝑭𝒂𝒎𝒊𝒍𝒊𝒂 𝒙 𝑳𝒊𝒕𝒕𝒍𝒆! 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒆𝒓
Gadis kecil yang selalu dikenal dengan keramahan dan keimutannya. Hampir semua orang di Kota mengenal dirinya.
"Selamat pagi Kakak."
Dia yang selalu memanggil orang lain Kakak, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sinar matahari menembus masuk melalui celah-celah di jendela. Cuaca hari ini begitu terik, seolah sang mentari sedang menghukum manusia dengan cahayanya. Memaksa setiap rumah menyalakan pendingin ruangan untuk mengusir hawa panas itu.
Termasuk juga pada kamar unit 205 di apartemen Alta. Pendingin ruangan di kamar itu menyala, membuat udara kamar menjadi sejuk. Namun rasa sejuknya tidak cukup untuk membuat anak itu tidur dengan nyaman.
Tubuhnya penuh dengan keringat dingin. Napasnya berderu tak beraturan. Isakan kecil terdengar disertai dengan air mata yang mengalir dengan bebasnya.
Kelihatannya anak itu bermimpi buruk.
Kucing yang tidur di sebelahnya terbangun, manakala ia mendengar (name) menangis. Mao berusaha membangunkan (name) dari tidurnya. Sekarang hanya tinggal mereka berdua di apartemen, Rache sedang pergi keluar dari beberapa waktu lalu. Mau tak mau, kucing itu harus memberikan perhatian pada (name).
Mao menatap kasihan pada (name). Kucing itu jelas tahu apa yang dimimpikan si gadis kecil. Bahkan setelah (name) bebas, mereka masih saja mengganggu tuannya.
"Mao.."
Kucing itu mengeong sedih, melihat (name) terbangun dengan raut wajah ketakutan. Matanya bergetar, air mata yang sempat berhenti kini mengalir kembali. Tangan mungilnya menarik Mao dalam pelukannya, memeluknya dengan erat.
Di sela tangisannya ia berkata dengan nada yang bergetar. "Mao... (Name) takut.. hiks.. bagaimana jika mereka... berhasil menemukan (name)?" Tiap katanya selalu disertai dengan bulir air mata.
Kucing itu diam mendengarkan, Mao juga tidak ingin (name) diseret paksa untuk kembali ke tempat itu. Mao akan melakukan yang terbaik, agar tidak ada orang jahat yang berani mendekati (name). Mao berjanji akan selalu melindungi (name), dimana pun (name) berada.
°❀.ೃ࿔°
"Aku gak bisa kasih tau siapa itu. Terserah kalian juga mau percaya atau tidak. Tapi kalau kalian mati. Jangan menyalahkan ku." Rache berucap santai.
Ia lalu mengecek pergelangan tangannya, mengamati jam yang tersembunyi di balik lengan bajunya. Jam yang awalnya hanya terisi dengan angka-angka, perlahan menampilkan video anak kecil yang sedang menangis sembari memeluk seekor kucing.
'Dia sudah bangun.'
Lalu Rache mengalihkan pandangannya pada Rion. "Aku harus pergi. Pikirkan baik-baik tawaranku. Sampai jumpa." Rache berlalu pergi begitu saja. Berjalan pelan menuju pintu kaca yang langsung mengarah ke kolam renang keramat.
Mereka hanya memperhatikan gadis itu berjalan pergi. Seolah diri mereka tersihir untuk tidak menghentikan kepergian Rache.
Tepat setelah Rache menghilang dari pandangan, mereka dapat kembali bergerak. Rion dengan cepat berlari ke arah pintu kaca, berharap masih menemukan Rache di sana.