𝑻𝒐𝒌𝒚𝒐 𝑵𝒐𝒊𝒓 𝑭𝒂𝒎𝒊𝒍𝒊𝒂 𝒙 𝑳𝒊𝒕𝒕𝒍𝒆! 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒆𝒓
Gadis kecil yang selalu dikenal dengan keramahan dan keimutannya. Hampir semua orang di Kota mengenal dirinya.
"Selamat pagi Kakak."
Dia yang selalu memanggil orang lain Kakak, membuat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kau bilang kau ingin merayakan tahun baru?"
"Jika Kakak memberi izin..."
Rache menatap adiknya yang menunduk. Baru saja dia masuk ke kamar untuk membawanya pulang, namun sebuah permintaan tidak terduga keluar dari mulut (name).
Dia setuju-setuju saja jika hanya perayaan tahun baru. Mengingat (name) yang selalu tidur setiap perayaan. Tapi, pertanyaannya adalah.
"Kenapa harus dengan mereka?" Rache berucap datar sembari menunjuk pintu kamar yang tertutup. Para gadis yang ketahuan menguping langsung kocar-kacir menjauhi kamar.
"Kita dapat merayakannya, berdua saja. Akan ku pastikan, ini menjadi perayaan paling terbaik yang pernah kau rasakan." Rache menunggu respon dari (name).
(Name) membalasnya sambil tersenyum, namun senyuman tampak berbeda. "Baiklah, selama ada Kakak, (name) tidak masalah."
Rache menatap tidak suka pada senyuman itu. "Kau lebih ingin merayakannya bersama mereka ya. Tak apa, ku beri izin."
"Bu-bukan begitu Kakak!" Padahal niat (name) berbeda dengan bayangan Rache. Sungguh kesalahpahaman yang tak ada habisnya.
Tangan mungilnya meremas selimut, (name) sedikit gugup. "(Name) tidak keberatan merayakannya berdua dengan Kakak. Hanya saja, (name) merasa akan lebih menyenangkan kalau lebih ramai."
"Iya. Kau boleh merayakannya bersama mereka. Aku tak keberatan." Perkataannya sangat berbeda dengan raut wajahnya. Gadis itu tidak menangkap maksud dari ucapan (name) yang sebenarnya.
"Kakak... ikut." Anak itu berbisik, kepalanya ditundukkan.
"Apa?" Rache mendengarnya, tapi dia takut salah dengar. Kemudian, (name) mendongak ke arah kakaknya. "(Name) mau Kakak ikut." Suara imut penuh ketegasan dipadukan dengan sorot mata yang berkilau penuh harap.
Sang kakak sampai mematung. Lalu ia menghalangi pandangannya dengan tangan, seraya menunduk. Dia tidak siap dengan serangan mendadak.
Rache berusaha menormalkan ekspresi wajahnya, dan kembali menatap (name). Hembusan napas panjang terdengar. "...Baiklah. Jika itu mau mu. Tapi kau yakin, mereka akan mengizinkanku untuk bergabung?"
(Name) mengangguk kecil. "Iya. Kakak yang lain sudah memberi izin. Mereka tidak keberatan."
"Oke. Aku akan ikut." Gadis itu mendekati ranjang, tangannya terulur mengusap surai (name). "Sudahkan? Sekarang kita pulang." Tangannya kini bersiap untuk mengangkat (name).
"Dedek, kalo nanti Rache mau bawa Dedek pulang, Dedek jangan mau ya."
Namun tangan kecil milik (name) menahannya. "Ada apa?" Rache bertanya bingung. "(Name) tidak mau kembali ke apartemen. (Name) mau di sini saja." Lirih adiknya.
'Mereka memanipulasinya sejauh mana?'
(Name) menarik tangannya dari Rache, dan kembali menggenggam selimut. Rache duduk di kasur. Aura dominannya membuat (name) takut. "Beri aku alasan."