Bab 15 kinan sakit

53 3 3
                                        

Sore itu, Aron sebenarnya berencana untuk langsung pulang, tetapi mendadak berubah pikiran. Bersama Angkasa, Reza, dan Alvaska, ia memutuskan untuk menjenguk Kinan.

Mereka berempat melaju menuju rumah Kinan dengan langkah ringan. Sesampainya di depan pintu, Reza langsung berteriak, "Kinan, kita datang!"

Namun, Aron segera memberikan pukulan pelan di bahunya. "Jaga sopan santun kalau di rumah orang," tegurnya dengan nada setengah bercanda.

Tak lama, pintu rumah terbuka. Kinan muncul di ambang pintu, menatap mereka dengan sedikit terkejut. "Kalian..." ucapnya lirih.

Aron tersenyum tipis. "Kita datang buat jenguk lu," katanya dengan nada lembut.

Kinan langsung mempersilakan teman-temannya masuk ke dalam rumah. "Kalian mau minum apa?" tanyanya sambil tersenyum tipis.

"Apa aja deh, kalau bisa jus stroberi, ya. Sama snack-nya juga," kata Alvaska dengan santai.

Angkasa melirik tajam. "Ngelunjak lu, Ka," komentarnya setengah bercanda.

Alvaska hanya nyengir lebar, tak menggubris sindiran temannya.

Kinan tertawa kecil mendengar percakapan mereka. "Ada lagi yang mau ditambahin?" tanyanya lagi.

Aron menggeleng. "Nggak ada, Nan. Cukup, kok."

Kinan mengangguk dan bergegas menuju dapur, meninggalkan mereka di ruang tamu.

Setelah selesai menyiapkan minuman dan snack, Kinan membawa semuanya ke ruang tamu dan mempersilakan teman-temannya untuk makan dan minum.

"Ahhh, segar banget!" seru Reza setelah meneguk jus stroberi.

"Cemilannya juga enak, Nan. Lu memang jago!" tambah Angkasa sambil mengunyah.

Alvaska tak mau ketinggalan berkomentar. "Iya, Nan. Jus lu enak banget! Nanti yang jadi istri lu pasti beruntung, punya suami yang jago masak, jago buat minuman, bisa ngerjain semua pekerjaan rumah," candanya sambil tersenyum lebar.

Kinan mendengar perkataan itu, tapi hanya terdiam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, meski senyum samar tergurat di wajahnya. Sebuah pikiran yang tak terucap tampak melintas di benaknya.

Mereka bertahan di rumah Kinan hingga sore. Suasana perlahan mulai hening saat jam menunjukkan pukul lima.

"Sudah jam lima, gue pulang duluan ya," kata Alvaska sambil berdiri.

Reza ikut bangkit dari duduknya. "Gue juga pulang duluan," ucapnya.

Angkasa menepuk bahu Kinan sebelum pergi. "Gue juga, Nan. Cepat sembuh, ya."

Mereka bertiga pun pergi meninggalkan rumah Kinan. Hanya Aron yang masih tetap duduk di sana.

Setelah beberapa saat, Aron bangkit dan berkata, "Gue pulang ya, Nan."

Namun, ketika Aron melangkah menuju pintu, tangan Kinan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dengan lembut.

"Ron, gue mohon... temenin gue di rumah. Lu tahu kan, gue takut sendirian," suara Kinan terdengar lirih, memohon.

Aron terdiam sejenak, menatap Kinan yang terlihat rapuh. "Ya, gue temenin lu," jawabnya dengan tenang.

Kinan tersenyum kecil, lega. "Makasih ya, Ron," ucapnya tulus.

Aron mengangguk sambil tersenyum tipis. "Sama-sama."

Pukul delapan malam, Aron sedang duduk menonton TV di ruang tamu. Suasana tenang, hingga dia mendengar langkah kaki mendekat. Aron menoleh, dan dilihatnya Kinan berjalan ke arahnya, mengenakan kaos oversize yang kebesaran dan celana pendek.

Aron terdiam sejenak, matanya tanpa sadar tertuju pada paha Kinan yang terlihat jelas. "Wow... mulus banget," batinnya spontan.

Namun, pikiran lain segera muncul. "Nggak, Ron. Lu nggak boleh tergoda. Lu nggak boleh jatuh cinta sama Kinan. Ingat, lu sama Kinan itu sama-sama laki-laki," batinnya mencoba menahan diri.

Tiba-tiba, dering telepon memecah konsentrasinya. Aron segera mengangkatnya. "Halo, Bi, ada apa?" tanyanya.

"Tuan, Nona Akselia menangis dari tadi, menunggu Tuan pulang," jawab suara bibi di seberang telepon.

Aron terdiam sejenak, teringat sesuatu. Astaga! Dia lupa bahwa hari ini dia sudah berjanji merayakan ulang tahun Akselia.

"Sekarang Akselia ada di mana, Bi?" tanyanya cepat.

"Non Akselia tadi bermain bersama perempuan yang dia panggil Mama," jawab bibi lembut.

Aron menghela napas lega. "Oh, begitu ya, Bi. Tolong sampaikan ke mereka berdua kalau hari ini saya nggak bisa pulang."

"Baik, Tuan," jawab bibi sebelum telepon ditutup.

Setelah selesai menelepon dengan bibi, Aron berbalik ke arah Kinan dan bertanya, "Nan, gue tidur di mana malam ini?"

Kinan, yang sudah terlihat mengantuk, menjawab dengan santai, "Tidur di kamar gue aja."

Mereka berdua pun berjalan menuju kamar Kinan. Kinan langsung berbaring di kasurnya dan dengan cepat tertidur di samping Aron. Namun, Aron masih terjaga, pikirannya melayang ke berbagai hal. Dia menoleh ke arah Kinan yang terlelap di sampingnya.

"Cantik sih... coba aja lu perempuan, gue pasti udah pacarin lu, Nan," gumam Aron pelan, nyaris tak terdengar.

Dia tersenyum kecil, lalu kembali menatap langit-langit kamar, pikirannya berkecamuk di antara batas persahabatan dan perasaan yang tak boleh muncul.

Pagi harinya, Aron bangun lebih dulu dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi. Suara gemericik air membuat Kinan terbangun. Ia mengucek matanya dan segera bangkit dari tempat tidur.

"Gue masak aja, deh," gumam Kinan sambil melangkah ke dapur.

Sesampainya di dapur, ia membuka kulkas untuk melihat bahan makanan yang tersedia. "Ayam ada, ikan ada, udang juga ada... Hmm, masak udang sama ayam aja, deh," ucap Kinan pada dirinya sendiri.

Tanpa ragu, ia mulai menyiapkan bahan-bahan dan memasak sarapan. Setelah beberapa saat, hidangan pun siap. Kinan menata makanan di atas meja dengan rapi.

Selesai menyiapkan semuanya, ia berjalan menuju kamar mandi dan memanggil Aron yang masih mandi. "Aron, ayo sarapan!" seru Kinan dari luar.

Kini, Aron dan Kinan duduk bersama di meja makan, menikmati sarapan pagi yang sudah disiapkan Kinan. Suasana tenang, hingga tiba-tiba ponsel Aron berbunyi, menampilkan sebuah notifikasi.

Aron membuka pesan dan membaca dengan serius.

"Ron, kamu kapan pulang? Akselia sakit," pesan dari Hierra, kakak tirinya.

Aron segera mengetik balasan, "Nanti siang aku sudah pulang, Kak."

Kinan yang memperhatikan perubahan ekspresi Aron, bertanya dengan penasaran, "Pesan dari siapa, Ron?"

"Dari kakak tiri gue," jawab Aron singkat, sambil menutup ponselnya dan kembali fokus pada sarapannya.

















































Jangan lupa vote dan komennya sayangku 💕




         ~stepbrother~     

STEPBROTHERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang