Bab 14 aron dan akselia

53 3 5
                                        

Pagi itu terasa tenang di rumah Aron. Setelah malam yang panjang, Aron memilih untuk memulai harinya dengan menyiapkan sarapan untuk Hierra dan Akselia, anak kecil yang begitu ia sayangi. Suara sendok beradu dengan panci menjadi latar yang menenangkan di dapur kecil mereka.

“Huh, masak sudah. Sekarang waktunya bangunin mereka,” gumam Aron sambil menyeka tangannya dengan kain lap.

Langkah Aron ringan saat ia berjalan menuju kamar tamu. Di depan pintu, ia mengetuk pelan, tak ingin mengejutkan kakaknya yang mungkin masih terlelap.

“Kak, bangun. Sudah pagi,” ucap Aron lembut.

“Iya, Ron. Makasih ya sudah bangunin kakak,” jawab Hierra, suaranya serak tanda baru terjaga.

Aron tersenyum kecil sebelum membalas, “Iya, Kak. Sama-sama.”

Setelah memastikan Hierra mulai bersiap-siap, Aron kembali ke dapur. Makanan yang tadi ia masak telah tersaji rapi di atas meja. Tak lama kemudian, ia bergegas menuju kamar tempat Akselia masih tertidur.

"Akselia sayang, bangun. Sudah pagi," bisiknya lembut di telinga gadis kecil itu.

Akselia mengeliat perlahan, matanya masih berat namun dengan senyum manis yang segera menyambut Aron. “Selamat pagi, Papa,” katanya dengan suara kecil.

“Pagi, sayang,” jawab Aron sambil mencium keningnya.

Dengan penuh kasih sayang, Aron menggendong Akselia dari tempat tidurnya, membawanya menuju kamar mandi. Ia dengan sabar memandikan Akselia, sambil berbicara pelan, menyapa pagi dengan percakapan ringan yang hanya mereka berdua pahami.

Momen kecil seperti ini adalah hal yang Aron hargai lebih dari apapun. Ini adalah saat-saat di mana ia merasa benar-benar terhubung dengan orang-orang yang ia cintai, terutama dengan Akselia yang telah menjadi pusat dunianya.

Setelah selesai sarapan, Aron dan Hierra duduk di balkon, menikmati udara pagi yang segar. Sinar matahari hangat menyinari keduanya, namun percakapan yang akan segera terjadi membawa suasana yang lebih berat.

"Ron," ucap Hierra perlahan, memulai.

"Iya, Kak?" balas Aron, matanya masih memandang jauh ke depan.

"Kakak mau ngomong soal Akselia," kata Hierra, suaranya terdengar hati-hati.

Aron mengalihkan pandangannya, menatap Hierra dengan sedikit was-was. "Kenapa, Kak?"

Hierra menarik napas dalam sebelum melanjutkan, "Kakak mau kamu kembalikan Akselia ke orang tuanya."

Aron mengerutkan dahi, hatinya mulai terasa sesak mendengar permintaan itu. "Akselia sudah nggak punya orang tua, Kak. Keluarganya juga semuanya sudah nggak ada," jawab Aron pelan, suaranya sedikit bergetar.

"Tapi, Ron... Akselia bisa ditaruh di panti asuhan. Mereka lebih tahu cara merawat anak-anak seperti dia," ucap Hierra dengan nada lembut, namun jelas dia mencoba memberikan solusi yang menurutnya lebih baik.

Aron menatap kakaknya dengan mata yang mulai dipenuhi emosi. "Aku nggak mau, Kak. Taruh Akselia di panti asuhan itu sama aja dengan meninggalkannya. Aku nggak bisa. Aku yang bakal ngerawat dia," katanya dengan tegas, meskipun ada sedikit keraguan yang terselip di dalam suaranya.

Hierra memandang Aron dengan tatapan prihatin. "Ron, merawat seorang anak itu bukan hal mudah. Apalagi dengan situasi kamu yang sekarang. Ini bukan cuma soal niat baik."

"Aku tahu, Kak," Aron memotong, suaranya mulai mengeras, "tapi aku udah janji sama diriku sendiri. Aku akan urus semua surat-suratnya. Aku akan jadi orang tua buat dia. Dia nggak akan merasa sendirian."

STEPBROTHERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang