16 tahun berlalu sejak tragedi mengerikan itu mengubah segalanya. Rumah yang dulunya dipenuhi tawa kini hanya menyisakan bayangan suram dari kehancuran keluarga. Catherine, sang mama, bukan lagi sosok yang dikenang oleh anaknya sebagai ibu yang lembut dan setia. Setelah perceraian yang mengguncang, ia memilih jalan hidup baru—jalan yang penuh kontroversi dan kemewahan.
Hari itu, gedung pernikahan di pusat kota berdiri megah, dipenuhi dekorasi mewah yang menyilaukan. Bunga-bunga mawar putih dan merah menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan suasana romantis. Para tamu, berpakaian glamor, saling berbisik. Bukan tentang keindahan pernikahan itu, tetapi tentang skandal yang menyelimutinya.
"Catherine benar-benar tidak tahu malu," bisik seorang wanita paruh baya.
"Bagaimana bisa dia menikah dengan pria beristri? Dia menghancurkan rumah tangga orang lain," balas yang lain sambil menggelengkan kepala.
Di tengah sorotan dan cemoohan, Catherine berdiri di altar, tersenyum penuh percaya diri. Gaun putih yang ia kenakan berkilauan di bawah lampu kristal. Di sampingnya, Clouwi, pria yang dulu hanya kekasih gelapnya, kini menjadi suaminya.
"Akhirnya kita menikah juga, sayang," bisik Clouwi dengan nada lembut, seakan dunia hanya milik mereka berdua.
"Iya, Mas. Aku senang banget," jawab Catherine dengan senyum lebar, meski matanya menyiratkan kebanggaan yang licik.
Namun, di sudut ruangan, tidak semua orang merayakan kebahagiaan ini. Katty, adik Catherine, hanya bisa menahan amarahnya.
"Ini benar-benar memuakkan," bisik Katty kepada temannya, Dewi.
"Aku nggak tahan di sini. Mau pulang aja," balas Dewi dengan ekspresi muak.
Tanpa berpamitan, mereka meninggalkan gedung, membiarkan Catherine merayakan kebahagiaannya sendiri.
Di sisi lain ruangan, seorang gadis muda berdiri dengan senyum licik di wajahnya. Dia adalah Hierra, anak pertama Anna, wanita yang pernah menjadi istri pertama Clouwi. Dendam yang terpendam selama bertahun-tahun kini memuncak. Hierra membawa segelas minuman yang telah ia siapkan khusus untuk Catherine.
"Ini hadiah kecil dari aku, Tante," gumam Hierra dalam hati sambil menahan tawa kecil.
Dengan langkah tenang, dia mendekati Catherine yang sedang sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu.
"Halo, Tante. Aku bawakan minuman ini. Tante pasti capek kan, acara segemerlap ini pasti melelahkan," ucap Hierra dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Oh, terima kasih, Hierra. Kamu memang anak yang baik," jawab Catherine tanpa curiga.
Hierra tersenyum tipis, memerhatikan Catherine meneguk minuman itu perlahan. Beberapa detik kemudian, Catherine memegangi kepalanya. Wajahnya yang tadinya bersinar kini berubah pucat.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Clouwi, panik melihat kondisi Catherine yang tiba-tiba melemah.
"Nggak tahu, Mas. Kepalaku pusing," jawab Catherine lemah, suaranya bergetar.
Clouwi membantu Catherine duduk di kursi terdekat. Tamu-tamu mulai memperhatikan, tetapi tidak ada yang mendekat. Mereka hanya memandang dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, seolah menunggu drama berikutnya.
Di sudut ruangan, Hierra berdiri diam, memperhatikan semuanya dengan senyum puas.
"Ini baru permulaan, Nyonya Catherine. Aku akan pastikan kamu merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kamu berikan pada Mama," gumamnya pelan sebelum berjalan menjauh.
Acara berakhir pukul sembilan malam, meninggalkan atmosfer berat yang tidak bisa diabaikan. Para tamu pergi dengan banyak pertanyaan di kepala mereka. Apakah Catherine benar-benar akan mendapatkan kebahagiaannya? Atau akankah dendam yang terpendam mulai menghancurkan hidupnya perlahan-lahan?
~stepbrother~
KAMU SEDANG MEMBACA
STEPBROTHER
Actionmenceritakan tentang kehidupan Aaron Smith Orlando sebagai adek tiri Ainsley Hierra Clouwi dan sebagai kakak tiri dari Jenni Anavella Roan clouwi
