Di sebuah rumah megah yang terletak di tepi bukit kota Seoul, dua pria duduk di balkon yang menghadap ke langit senja. Aroma kopi yang hangat memenuhi udara, sementara angin sore yang lembut menggerakkan daun-daun pohon di sekitar mereka. Yuka, seorang pria berusia pertengahan lima puluhan dengan rambut yang mulai memutih, menyeruput kopinya perlahan, matanya menatap sang keponakan yang duduk di sebelahnya.
"Kapan kamu akan pulang, nak?" tanya Yuka, nadanya lembut, namun penuh harap.
Aiden, seorang pria muda dengan tatapan tajam dan raut wajah penuh beban, menghela napas panjang sebelum menjawab. "Aku tidak tahu, Paman."
"Kamu tidak rindu dengan adikmu?" lanjut Yuka, sedikit mencondongkan tubuhnya, menatap keponakannya lebih dalam.
"Tentu aku rindu," Aiden membalas dengan suara serak, matanya menatap kosong ke cakrawala. "Kami terpisah selama 16 tahun... karena wanita itu."
Nada suaranya tiba-tiba berubah, penuh dengan kemarahan yang terpendam selama bertahun-tahun. Wajah Aiden mengeras saat mengingat sosok yang telah merusak hidupnya dan memisahkannya dari Aron, adik satu-satunya.
"Aku akan menemukannya," bisik Aiden , lebih pada dirinya sendiri daripada pada pamannya. "Aku harus..."
Malam itu, Aiden duduk di depan layar laptopnya di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya temaram dari lampu meja. Hujan turun perlahan di luar, membenturkan tetes-tetesnya ke jendela, seolah menambah beban pada pikiran yang berkecamuk di benaknya. Di layar, terpampang sebuah artikel tua yang memuat foto ibunya, Catherine, tersenyum bahagia di samping pria yang kini menjadi suaminya, Clouwi.
Jantung Aiden berdegup kencang, amarah perlahan membakar di dadanya. Tangannya gemetar saat dia menggenggam pinggiran laptop, hampir menghancurkannya. "Dia menikah dengan pria itu..." gumam Aiden pelan, suaranya hampir tertelan oleh dentingan hujan.
Tatapannya semakin tajam. Gambaran wajah ibunya bersama pria itu berputar-putar di benaknya, membuat luka lama yang belum sembuh kembali menganga. Pikirannya dipenuhi rasa sakit, kebencian, dan balas dendam.
"Lihat saja..." desisnya pelan namun penuh tekad. "Akan kuhancurkan hidup kalian berkeping-keping."
Aiden berdiri dari kursinya, menatap keluar jendela yang dipenuhi tetesan air hujan. Malam semakin larut, tapi pikirannya terus bekerja, merencanakan langkah selanjutnya. Tak ada lagi yang bisa menahannya kini. Dia akan mencari Aron, dan menghancurkan Catherine serta Clouwi, seperti mereka menghancurkan keluarganya.
Pagi itu, sinar matahari yang lembut menyelinap melalui tirai jendela, memecah kegelapan yang membebani pikiran Aiden semalaman. Dia duduk di meja dapur sambil menyeruput kopi paginya, tapi pikirannya melayang, penuh dengan pertanyaan tentang ayahnya yang sudah lama pergi. Ada sesuatu yang selalu mengganjal dalam dirinya tentang keadaan sang ayah.
"Om," Aiden akhirnya angkat bicara dengan suara rendah namun penuh harap. "Om pasti tahu kan, gimana kabar Papa di sana?"
Yuka, sang paman, yang tengah menyiapkan teh untuk dirinya, menoleh dengan pandangan yang tenang. Dia tahu pertanyaan itu akan muncul suatu hari, namun tak pernah menyangka akan secepat ini. "Papamu baik-baik saja di sana, Aiden," ucapnya sambil menaruh teh di atas meja. "Aron menjaga Papa dengan sangat baik."
Aiden terdiam, menatap cangkir kopinya yang mulai dingin. Perasaan lega bercampur rasa bersalah mengalir di dadanya. Di satu sisi, dia merasa lega karena tahu bahwa ayahnya tidak sendirian. Aron, adik yang sangat ia rindukan, setidaknya ada di sana untuk menjaga ayah mereka. Namun, di sisi lain, rasa bersalahnya semakin dalam karena ia sendiri belum bisa hadir untuk ayahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.