"Ma, Jenni pamit ke Bali ya. Mama jangan lupa istirahat, jangan telat makan biar cepat sembuh," ucap Jenni dengan lembut, sambil mengemas barang-barangnya.
"Iya, Nak. Kamu jaga diri baik-baik di sana, ya," balas Mama dengan suara serak, masih terbaring di tempat tidur, tersenyum kecil meski wajahnya terlihat lelah.
"Iya, Ma. Jenni pergi dulu."
Setelah pamit, Jenni pun segera berangkat menuju bandara menggunakan taksi yang telah ia pesan sebelumnya. Sepanjang perjalanan, pikirannya melayang, memikirkan liburannya kali ini. Namun, rasa khawatir pada kondisi ibunya masih saja ada di benaknya.
Sesampainya di bandara, Jenni memeriksa waktu. "Bentar lagi pesawat berangkat, tapi ini si Zahra sama Gisella mana sih? Katanya udah mau nyampe," gumamnya, sedikit kesal.
"Jenn!" teriak Gisella tiba-tiba dari kejauhan.
Jenni menoleh dan melihat Zahra serta Gisella yang berlari kecil ke arahnya. "Akhirnya kalian datang juga. Ayo, buruan check-in, udah mepet nih!" ucap Jenni, sambil menarik tasnya menuju konter check-in.
Setelah proses check-in selesai, mereka segera naik ke pesawat. Di dalam pesawat, Jenni tidak sengaja melihat Aron, duduk di kursi sebelah Gisella. Matanya melebar, dan hatinya berbisik, "Lah, si anaknya Mak Lampir kok mau ke Bali juga?"
Jenni berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresinya, namun Zahra yang sejak tadi memperhatikannya merasa curiga.
"Lu ngapain lihatin cowok itu terus? Suka, ya?" goda Zahra, menyenggol lengan Jenni.
"Nggak!" jawab Jenni cepat, hampir terlalu cepat.
Zahra menyipitkan mata, penasaran. "Terus kenapa lu liatin dia kayak gitu?"
"Mukanya kayak nggak asing aja, kayak pernah gue lihat, tapi di mana ya?" Jenni berusaha mengingat-ingat, tapi tetap tidak bisa menempatkan di mana ia pernah melihat Aron sebelumnya.
"Ooooh," sahut Zahra sambil memutar matanya, lalu memutuskan untuk tidur selama penerbangan.
Setelah beberapa jam penerbangan yang panjang, mereka akhirnya tiba di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Meski Zahra dan Gisella tampak semangat, pikiran Jenni tetap tertuju pada Aron.
"Apa jangan-jangan si Aron ke sini mau cari si Angel?" batin Jenni, tiba-tiba teringat dengan sosok yang sudah lama tak ia dengar kabarnya. Pikiran itu membuatnya semakin gelisah.
"Kalau iya, gue harus ikutin dia. Tapi, gimana caranya?" Jenni berpikir keras, berusaha mencari cara untuk memantau gerak-gerik Aron tanpa terlihat mencurigakan.
"Woy, Jen! Ngelamun aja lo! Mau makan nggak?" suara Gisella memecah lamunannya.
"Eh, iya, mau kok. Lu berdua mau pesan apa? Gue yang bayar," ucap Jenni cepat, mencoba mengalihkan pikirannya dari Aron dan fokus ke temannya.
Gisella dan Zahra menoleh bersamaan, mata mereka berbinar. "Beneran lu yang bayar?" tanya mereka serempak, tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini.
Jenni mengangguk, meski hatinya masih gelisah. "Iya, beneran. Cepetan pilih menunya, gue lagi nggak sabar mau makan juga."
Sambil melihat-lihat menu, Jenni berusaha tetap tenang. Meski di luar ia terlihat biasa saja, di dalam kepalanya berbagai rencana mulai muncul. "Gue harus cari tahu apa yang sebenarnya Aron lakukan di sini. Tapi jangan sampai Zahra sama Gisella curiga."
Setelah makan mereka bertiga jalan menuju hotel
"Akhirnya kita sampai hotel juga," ucap Zahra sambil meregangkan badannya setelah turun dari taksi.
KAMU SEDANG MEMBACA
STEPBROTHER
Actionmenceritakan tentang kehidupan Aaron Smith Orlando sebagai adek tiri Ainsley Hierra Clouwi dan sebagai kakak tiri dari Jenni Anavella Roan clouwi
