"aku kangen banget sama kamu, vin."
kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut celine. shelly yang mendengarnya sontak terdiam. saat ini, bolehkah dia merasa kecewa?
suasana mereka yang berada di meja itu menjadi kaku. bahkan jacob saja jadi tidak berani bicara melihat muka kevin yang sudah tidak enak.
kevin benar-benar tidak tau apa yang ada di pikiran celine sekarang. kenapa dia bisa berbicara seperti itu di depan jacob, terutama shelly. padahal kevin sendiri sudah pernah mengatakan padanya tentang perasaan kevin.
"om, aku ke toilet dulu ya." shelly tiba-tiba berdiri dan meninggalkan meja.
"shell!"
kevin mengejar shelly dan berusaha untuk meraih tangannya.
"maafin aku, shell."
shelly menatap kevin sendu, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"kenapa om harus minta maaf? om gak ada salah sama sekali."
"aku merasa perlu untuk jelasin hal ini ke kamu, shell."
"gak ada alasan buat jelasin itu ke aku, om." shelly melepaskan genggaman tangan kevin dengan perlahan, tapi kevin menggenggamnya lagi.
"kamu pasti kaget kan karena dia tiba-tiba datang dan ngomong kayak gitu di depan kamu?"
memang shelly cukup kaget dengan kejadian itu, namun dia pernah memikirkan ini sebelumnya. tidak mungkin kevin tidak memiliki teman perempuan, bahkan mungkin pacar?
sepertinya cukup salah jika sedekat ini dengan kevin. apalagi dirinya bukan siapa-siapa bagi kevin, begitupun sebaliknya, kan?
"celine itu anak klien papa aku, shell. dia memang sempat mau di jodohin sama aku, tapi aku nolak. aku gak ada rasa sama sekali ke dia, dan dia juga tau itu. aku udah jelasin ke dia tentang perasaan aku, shell."
"mungkin kamu ngerasa aneh karena aku tiba-tiba bilang ini semua ke kamu, tapi memang ini kenyataannya, shell."
shelly tidak bereaksi sama sekali, dan dia pun tidak tau harus berkata apa. pikiran dan hatinya kini tidak sinkron sama sekali. perasaannya berkecamuk, dan dia pun mulai bertanya pada dirinya sendiri.
apakah benar bahwa perasaannya kepada kevin bukan sekedar kepedulian atau karena dia adalah orang pertama yang dia kenal begitu dia tiba di kanada?
"aku anterin kamu pulang, ya?" tanya kevin lembut.
"gak usah, om. aku mau pulang sendiri." kevin membiarkan shelly berlalu begitu saja dari hadapannya, berusaha memahami perasaan gadis itu.
meskipun begitu, dia tetap memantau shelly. kevin diam-diam mengikutinya.
kaki shelly terhenti di depan sebuah supermarket yang cukup besar di kota ini. sampai beberapa menit dia melangkah masuk ke dalam supermarket, mencari lemari pendingin dimana mereka menyediakan yoghurt kesukaannya.
kevin tetap menjaga jarak dari shelly. "kesukaan kamu dari dulu emang gak pernah berubah ya."
setelah itu, shelly duduk di kursi depan supermarket untuk menikmati yoghurt dan segarnya angin malam yang menerpa wajahnya. dan kevin masih setia memperhatikan shelly.
drrt..
drrtt..
handphone kevin bergetar, ada chat masuk dari jacob.
jacob
| lo kemana?
| si celine gak balik-balik karena nungguin elo
kevin berdecak sebal. dia tidak peduli tentang celine, sekarang dia hanya ingin fokus pada shelly. dia memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celana.
saat dia melihat kembali ke depan supermarket, matanya menangkap sosok laki-laki yang sedang berdiri di depan shelly.
laki-laki itu adalah mark.
"shelly..?"
gadis itu mendongak karena suara familiar yang memanggil namanya.
"eh, kak mark? kakak ngapain disini?"
"harusnya aku yang nanya gitu ke kamu. ngapain kamu duduk disini sendirian? malem-malem lagi." mark geleng-geleng kepala.
"aku cuma lagi nyari angin aja, kak."
mark duduk di samping shelly lalu menatap mata shelly sebentar. lalu mengalihkan pandangannya ke depan.
"bohong."
"hah?"
"mata kamu jelasin semuanya, shell."
shelly hanya diam.
"ada masalah, ya?" tanya mark.
"gak ada, kak. aku gak apa-apa."
mark mengembuskan napas. "yakin?"
shelly mengangguk pelan. "iya, aku yakin aku gak apa-apa."
"kenapa sih, kak? gak percayaan banget, aku beneran cuma nyari angin doang."
"nyari angin tapi stylenya oke banget ya."
gadis itu reflek terdiam. iya juga.
"lagi pengen make aja." sanggah shelly lagi.
"yaudah kalo gak mau cerita."
suasana di antara mereka hening sejenak.
"apapun masalah yang lagi kamu hadepin sekarang dan itu bikin kamu sedih atau kepikiran, aku harap kamu bisa cepat selesaiin ya, jadi kamu bisa balik ceria lagi. kalo kamu mau cerita ke aku juga boleh, kamu mau minta tolong apapun juga boleh."
"kamu boleh anggap aku kayak kakak kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
om kevin
Romancekatanya cinta tak pernah salah, tak kan pernah berubah walau kadang hati tersakiti oleh salah.
