(FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA UNTUK MEMBUKA BAB YANG DI PRIVATE ACAK!)
Tak kunjung mendapatkan pekerjaan, Ruby menerima tantangan dari kedua sahabatnya untuk mengajak tidur laki-laki acak yang berada di bar di mana mereka sedang minum-minum. Sebagai...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara tamparan terdengar begitu nyaring menusuk telinga. Agnes menatap Chris dengan wajah memerah. “Kau bajingan, Chris! Kau apakan, Ruby?! Jawab bajingan!”
Chris hanya bisa diam. Dia juga tidak tahu dengan apa yang terjadi kepada Ruby. “Aku bercinta dengannya.”
“Brengsek!” Agnes kembali melayangkan tamparan pada Chris. “Kau memaksanya?!”
“Agnes, sudah.” Elsa mencoba menjauhkan Agnes dari Chris.
Agnes melepaskan tangan Elsa yang memegangi tangannya. “Aku menyesal mengizinkanmu menemui, Ruby. Kau memaksanya untuk memuaskan nafsu bejatmu itu!”
“Kau benar-benar memaksanya, Chris?” tanya Irfan, memastikan. Meskipun merasa heran dengan kondisi Ruby yang pendarahan, di paksa pun, harusnya Ruby tidak pendarahan seperti itu.
“Aku tidak tahu jika aku akan melukainya.” Chris tampak begitu kebingungan saat ini. Ruby menikmati permainannya tadi, perempuan itu mendesah. Chris memasuki Ruby saat perempuan itu sudah basah, dan gerakannya juga sudah sering mereka lakukan.
“Dia hamil, bajingan!” teriak Agnes. Tidak tahan untuk menyembunyikannya dari Chris lagi.
Chris menatap Agnes terkejut. “Apa maksudmu? Ruby mengaku padaku jika dia sudah menggugurkannya.”
Agnes mengusap rambutnya, menatap ke arah pintu di mana Ruby sedang di periksa oleh Dokter. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada bayi yang ada di dalam kandungan Ruby? Agnes berteriak, menendang-nendang dinding dengan kakinya.
“Agnes!” Elsa menahan Agnes yang menendang dinding. Hal itu hanya akan membuat Agnes kesakitan. “Ruby akan baik-baik saja.” Elsa mencoba menenangkan Agnes.
“Jelaskan padaku! Apa maksudmu?! Aku dengar dengan jelas Ruby mengatakan anakku sudah tidak ada,” desak Chris, meminta kejelasan dari Agnes dan Elsa. Chris menatap kedua teman Ruby secara bergantian.
Elsa menatap Chris, hendak membuka mulutnya untuk menjelaskan semuanya kepada Chris. Tapi, Elsa mengurungkan niatnya saat Dokter yang memeriksa Ruby keluar dari dalam ruangan. “Bagaimana keadaan teman Saya, Dok?” tanya Elsa, menghampiri Dokter laki-laki itu.
Dokter itu menatap ke arah keluarga pasien, dan menemukan dua orang laki-laki di sana. “Siapa suami dari pasien?”
“Saya, Dok.” Dengan cepat Chris mendekati Dokter. Dia kekasih Ruby, iya, Chris masih menganggap dirinya sebagai kekasih Ruby. Dan orang yang di cari Dokter sudah pasti dirinya.
Dokter menatap Chris dengan senyuman penuh arti. Matanya meneliti penampilan Chris yang acak-acakan dengan kancing kemeja yang terpasang secara asal-asalan, terlihat jelas jika yang bersangkutan memasangnya dengan buru-buru. “Bayi dalam kandungan istri Anda baik-baik saja, Pak. Tapi, ada hal yang ingin Saya sarankan. Saya tidak bermaksud melarang Bapak untuk berhubungan seksual dengan istri Anda, tapi kegiatan itu ada baiknya di lakukan dengan hati-hati.” Dokter itu menjeda ucapannya, mencari kata-kata yang cocok untuk di sampaikan kepada suami dari pasiennya. “Mungkin sebelum istri Anda hamil, Anda bisa melakukannya dengan penuh semangat, tapi sekarang ada bayi di dalam rahim istri Anda, dan Saya sarankan untuk lebih pelan saat mengentak.”