Fifth

11.7K 610 1
                                        

" besok besok kamu berantem lagi sama teman mu itu, biar biru biru lagi itu mukanya!" Mulut Yuvia sendari tadi terus mengomel sang buah hati.
Sementara di hadapannya sang putra tercinta itu hanya memberengut kesal sambil mengunyah nasi yang baru saja di suapkan kedalam mulut oleh Yuvia.

" mama jangan ceramah terus....kepala Habel pusing banget tau denger nya....!"

Memang tak sopan ucapannya, tapi begitulah kenyataannya.
Kepala Habel terasa pening karena demam yang menyerangnya sejak kemarin, dan mendengar sang mama yang terus mengomel dirinya dari tadi buat ia semakin pusing saja.

" salah sendiri, kenapa nakal"

" maaf...." Ucapnya penuh penyesalan.

Yuvia menghela nafas sambil sentuh pipi Habel yang bekas memarnya sudah mulai menghilang.

" jangan berantem sama teman mu lagi ya?, mama nggak tega lihat kamu kayak gini " ucap Yuvia dengan nada penuh kekhawatiran, mata Yuvia mulai mengembun.
Ia sungguh tak tega melihat kondisi putranya seperti ini, bahkan ia sudah menangis sejak kemarin.

Melihat kondisi Habel yang seperti ini selalu saja bisa buat ia merasa gagal jadi seorang ibu, ia selalu merasa menjadi ibu yang buruk saat Habel terluka ataupun sakit seperti ini.

Habel yang melihat sang mama yang hampir menangis buat bibirnya langsung melengkung ke bawah serta mata bulatnya yang langsung berkaca kaca.

" mama maaf...." Habel pegang jemari Yuvia yang buat Yuvia langsung tersadar, dengan cepat ia langsung usap buliran bening yang mulai mwluncur dari kelopak mata indahnya.

" jangan terluka lagi ya?" Pinta Yuvia yang dapatkan anggukan ribut dari Habel.

Melihat mata sang anak yang terus keluarkan cairan bening sampai sesenggukan buat Yuvia terkekeh gemas.

Hidung Habel yang memerah itu ia cubit pelan sebelum kemudian ia kecup seluruh wajah Habel yang sudah memerah karena terus menangis sejak tadi.

Yuvia bawa Habel kedalam dekapannya yang otomatis Habel lingkarkan kedua tangannya pada perut sang mama.

Yuvia bumbungkan kecupan bertubi tubi pada pucuk kepala Habel, buat anak itu semakin nyaman pada posisinya.











_Bocah Kesayangan_










Dua pasang manik mata berbeda warna itu saling menatap tajam satu sama lain, kedua alis berkerut serta tangan yang terkepal buat hawa disekitar mereka semakin terasa mencekam.

Beberapa penjaga yang berada disekitar sana bahkan tak ada yang berani mengeluarkan suara, kepala mereka tertunduk karena tak ingin bila dia tuan mereka yang sedang tak dalam kondisi yang baik itu berbalik menyerang mereka semua.

Tak selang lama dari dua mata tajam yang bertemu itu, salah satu dari mereka mulai melayangkan tinjauan buat sang lawan pun juga lakukan hal yang sama.

Mereka berdua terus saling beradu tinjuan, bahkan tendangan dan jambakan pun mereka lakukan buat para penjaga mulai panik dibuatnya.

Ingin melerai pun mereka tak bisa, karena pasti mereka akan kena impasnya, tapi jika tak di lerai pertikaian itu akan terus mereka lakukan sampai mereka berdua berakhir dilarikan ke rumah sakit.

Dari jarak yang tak jauh dari sana, seorang pria dewasa dengan surai berwarna dark blue itu hembuskan nafas lelah.

Sebenarnya hal ini memang bukan hal langkah terjadi, terlalu sering malahan.
Tapi tentu saja hal ini akan buat siapa saja yang melihatnya akan pusing dibuatnya.
Karena bukan hanya tinjuan yang mereka layangkan satu sama lain, mulut mereka pun juga ikut saling berikan umpatan yang begitu nyaring hingga buat siapa saja yang mendengarnya pasti ingin langsung sumpal mereka.

Pemuda dengan surai dark blue itu hampiri dua saudaranya yang saat ini sedang berguling guling pada halaman, buat baju mereka pun jadi ikut kotor di buatnya.

" anjing ya lo!"

" turun dari atas badan gue sialan!"

" kalau gue nggak mau gimana?" Seringaian tipis ia berikan, bahkan wajahnya pun terlihat begitu congkak, pemuda yang sedang di duduki nya itu bahkan sampai mengerang marah melihat itu.
Harga dirinya terasa terinjak injak!

Namun hal itu tak berlangsung lama, karena setelahnya tubuh pemuda yang sedang menduduki sang lawan itu terbanting ke samping saat pemuda dengan surai dark blue itu tendang lengan tangan kanannya.

Ia mengerang kesakitan saat badannya terbentur dengan kerasnya aspal, sementara orang yang menendangnya tadi hanya menampikan wajah datar.

Pemuda itu hendak marah, tapi melihat siapa yang baru saja menendangnya itu, ia jadi mengurungkan niatnya.
Bahkan pemuda yang ia duduki tadi tertawa terbahak bahak pun hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat sat ini.

" masuk!"

Perintahnya mutlak dan langsung buat dua saudara yang berkelahi itu lari terbirit birit masuk kedalam rumah.

Pemuda itu menghembuskan nafas panjang sebelum kemudian ia langkahkan kakinya masuk kedalam rumah, menyusul dua saudaranya yang kini malah melanjutkan pertikaian mereka di dalam rumah.

Melihat si sulung yang hadir di tengah pintu buat mereka langsung berdiri tegak dengan kepala menoleh kesana kemari dan bibir yang keluarkan siulan, bersikap seolah tak ada hal apapun yang terjadi diantara mereka.

Si sulung perhatian wajah mereka yang kini dipenuhi lebam, cukup parah pikirnya.

" masuk ke ruang bawah tanah "

Dua saudara itu membelalakkan mata mereka terkejut mendengar perintah sang kakak.

" tapi kan kak — "

" masuk!"

Hendak mengajukan protes pun mereka tak bisa saat mendengar perintah si sulung yang terdengar mutlak itu.

Mereka berdua pun akhirnya langkahkan kaki mereka dengan lesu menuju ruang bawah tanah, tempat dimana mereka akan dihukum setelah ini.

" berantem lagi?" Pertanyaan itu terdengar dari atas tangga, buat si sulung pun mendongak ke arah sumber suara.

Di sana ia lihat adik pertamanya sedang memperhatikan sambil menopang dagunya menggunakan kedua tangan.

Si sulung tak menjawab, hanya berdehem singkat yang tentunya tak dapat didengar karena posisinya yang berada di lantai dua.

" punya saudara gini amat " gerutunya sebelum kemudia ia langkahkan kakinya turun kr lantai dasar.
Mengikuti sang sulung yang kini sedang berjalan menuju ruang bawah tanah sambil bawa sebuah cambuk ditangannya.

Sepertinya menyenangkan.

Beloved Boy [ End ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang