Twenty - Fourth

7.3K 523 5
                                        

            Sepulang sekolah seperti biasa Habel dan ketiga temannya tak akan langsung pulang kerumah, mereka akan menghabiskan waktu untuk bersantai sejenak di kafe pertigaan sekolah. yang tampa sadar tempat itu kini bagaikan basecamp mereka saking seringnya mereka kesana.

dan seperti biasa pula, percakapan mereka tak akan jauh jauh dari gibah dan meroasting orang yang memangbpantas tuk dapatkan itu.

seperti halnya saat ini, Habel, Aaron dan Sadewa tampak begitu fokus mendengarkan Fahmi yang sedang menyuarakan kekesalannya pada salah satu anggota osisnya.

'' terus, jadi lo apain?" tanya Sadewa saat Fahmi menghentikan ceritanya.

'' gue suruh selesaiin malam ini juga tuh laporan, trus besok pagi gue tagih '' jawab Fahmi.

'' lagian orang lelet kayak gitu ngapain sih lo jadiin anggota osis?'' sebal Aaron.

'' awalnya gue juga nggak setuju, sempet gue tolak juga malahan '' balas Fahmi malas.

'' tapi kok bisa masuk?'' tanya Habel bingung sambil memiringkan kepalanya.

'' tuh orang kan masih kerabat si Gali, jadi ya dia bisa masuk, terpaksa aja sebenarnya gue terima tuh anak ''  jelas Fahmi dengan perasaan dongkol setengah mati.

tiga temannya angukkan kepala faham, sudah tak aneh lagi bagi mereka perilah kelakuan pak Gali yang satu itu.

Ia sangat terkenah dengan sifatnya yang suka seenaknya, selain itu ia juga sangat membeda bedakan muridnya.

Fahmi menggeser cheese cake dihadapannya, membahas tentang masalah osis membuatnya jadi tak berselera makan kue itu lagi, padahal ia sama sekali belum menyentuhnya.

Sementara di hadapannya, Habel yang notis bahwa Fahmi sudah tak menginginkan cake tersebut pun segera mengambilnya.

Dengan cepat ia langsung melahap cake tersebut, Fahmi yang melihatnya sontak saja langsung tertawa.

Melihat Habel yang ada ada saja tingkahnya entah mengapa dapat buat kekesalan Fahmi lenyap seketika.

" Mau lagi nggak bel, kalau mau gue pesenin lagi " Mendengar itu Habel gelengkan kepalanya.

" Kenapa?, biasanya juga mau ?" Tanya Fahmi.

" Ntar malah dimarahin mama " jawaban Habel buat mereka bertiga anggukkan kepalanya.

Sebenarnya bukan dimarahin, lebih tepatnya di nasehatin. Namun karena Habel yang emang perasa jadilah ia merasa bahwa ia sedang dimarahin.

Anak itu kalau sekarang makan banyak pasti nanti dirumah dia tidak akan mau makan, bahkan sampai jam makan malam pun ia tak mau makan.

Dan daripada membuat sang mama memarahinya, Habel lebih memilih makan sedikit saja meskipun tak kenyang, yang penting cukup mengganjal lapar.

" Si Serra bukannya bestian ya sama Jezza ?" Tanya Sadewa kembali pada topik obrolan tadi.

" Hm, sebelas dua belas lah sifat mereka " jawab Aaron.

" Sama nggak sih, mereka kan lelet plus pelupa " timpal Fahmi.

" Betul " Habel ikut menimpali dengan mulut yang belepotan krim.

" Hahahaha....tuh muka bersihin dulu bel, heran, jadi anak kok gemesin banget " ucap Aaron sambil berikan tisu pada Habel.

Habel nyengir, dan ia tetap mengambil tisu tersebut dari tangan Aaron.








_Bocah Kesayangan _










Beloved Boy [ End ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang