Twenty - sixth

6.8K 456 11
                                        

     Setelah puas bermain dirumah Sadewa selama seharian penuh, kini Habel sudah tampak riang pulang menuju rumahnya.

sesampainya dirumah, Habel langsung mandi karena ia tak mau membuat sang mama kesal sore ini, dan tentu saja tujuannya adalah supaya ia bisa dimanja manja oleh sang mama sepulang dari arisan nanti.

saat ini Yuvia memang sedang berada dikediaman Fahmi untuk melakukan rutinitas berupa arisan yang biasa dilakukan setiap minggu, katanya sih untuk mempererat hubungan kekeluargaan antara mereka.

setelah mandi dan menganti pakaiannya, Habel langsung turun kebawah saat telinganya mendengar suara bel yang dipecat berulang kali.

sebenarnya Habel cukup heran karena mamanya itu sangat jarang sekali memencat bel rumah, hampir tak pernah malahan, karena ini kan rumahnya sendiri.

Habel berusaha berfikir positif, ia berharap itu adalah mamanya dan bukan tamu, karena jujur saja ia tak bisa jika harus melayani tamu, dan Habel tak akan mau melakukannya.

dengan cepat Habel langsung membuka pintu rumahnya dengan senyum merekah, karena ia berfikir bahwa itu adalah Yuvia -- mamanya.

namun dalam sekejap senyuman manis yang terukir indah diwajah Habel langsung lenyap secara perlahan saat melihat siapa orang yang berdiri dihadapannya sekarang.

Habel menatap tajam orang dihadapannya ini meskipun tak terlihat menakutkan sama sekali, saat Habel hendak menutup kembali pintu rumahnya, pria itu segera menganjalnya dengan kaki, yang mana langsung buat habel kembali membuka pintu rumahnya yang kali ini terbuka lebar.

'' ngapain sih om?! '' kesal Habel.

Edward terdiam ditempatnya, rasanya sangat menganjal saat Habel memanggil dirinya dengan sebutan om, namun ia akan memakluminya, mungkin saja Habel masih canggung jika harus memanggilnya dengan sebutan daddy seperti putranya yang lain, begitu pikirnya.

'' habel, saya perlu ngomong sama mama kamu '' ucap Edward menyampaikan tujuannya datang lemari.

ia takut membuat putra bu gsunya akan merasa tak nyaman bila lama lama dengannya, setidaknya itulah yang ada dipikirannya saat ini.

Habel baru saja ingin menyuarakan kekesalannya, namun suara deruman mobil yang berhenti tepat dihalaman rumahnya membuat bocah itu tak lagi melanjutkan apa yag hendak ia katakan.

'' mau apa lagi kamu datang kesini?!'' pertanyaan dengan nada sinis itu terdengar saat Yuvia baru turun dari mobilnya.

dengan cepat ia langsung berdiri disanding putranya, bermaksud untuk melindungi putranya ini dari mantan suami yang agak gesrek otaknya ini.

'' Yuvi, saya mau bicara sama kamu, penting ''

'' saya udah nggak ada urus --- ''

'' ini tentang kesalahfahaman dimasa lalu  dan tentang anak anak kita ''

'' nggak ada bagian yang perlu dijelaskan mas, semuanya sudah selesai ''

'' yuvi....aku mohon, seteah ini kamu bebas mau benci saya atau nggak, terserah kamu, tapi izinkan aku meluruskan semuanya Vi...''

ucap Edward sambil memgenggam jari jemari tangan Yuvia, belum juga wanita itu menyingkirkannya tangan Edward langsung ditepis dengan kasar oleh Habel.

'' OM NGAPAIN PEGANG PEGANG TANGAN MAMA KU!, JANGAN SENTUH NANTI MAMA KESAKITAN LAGIII!!!'' teriak bocah itu dengan kaki yang dihentak hentakkan.

bukan tanpa alasan Habel mengatakan demikian, itu karena ia takut bila nanti tangan mamanya itu akan memerah seperti hari itu, jujur saja ia masih sedih jika melihat tangan mamanya yang memerah bekas cengkraman tangan saat itu.

Beloved Boy [ End ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang