Sudah terhitung seminggu semenjak kejadian hari itu, dan Habel sama sekali tak pernah nampak para kakak dan ayah yang baru beberapa hari dikenalnya.
Entahlah, mereka semua menghilang seolah ditelan bumi, tapi Habel tak perduli, karena ia masih sangat kesal dengan perilaku tak menyenangkan sang ayah.
Sebenarnya Habel tak tahu apa yang dilakukan oleh ayahnya tapi melihat pergelangan tangan sang mama yang memerah hari itu Habel meyakini bahwa ayahnya itu pasti sudah menyakiti mamanya.
Habel menghembuskan nafas panjang, daripada memikirkan hal itu ia lebih memikih bangkit lalu berjalan keluar kamarnya.
Bocah yang masih mengenakkan baju tidur berwarna hitam dengan motif beruang itu berjalan pelan menuruni setiap anak tangga rumahnya menuju kamar mandi.
Setelah beberapa saat kemudian kini Habek sudah terlihat rapi dengan seragam sekolahnya.
Ia kemudian menghampiri sang mama yang sudah menunggunya sambil fokus pada ipad ditangannya.
Melihat kedatangan sang putra, Yuvia buru buru mematikan benda tersebut, menyimpannya dengan rapi pada tasnya sebelum kemudian ia tarik kursi disampingnya.
Mempersilahkan Habel duduk disana.
" selamat pagi mama" sapanya dengan riang sambil duduk disamping Yuvia.
" selamat pagi juga sayang... "
Setelahnya, Yuvia pun ambilkan sepiring nasi untuk Habel beserta lauknya.
" mau disuapin atau makan sendiri? " tanya Yuvia meskipun ia sudah tau apa jawabannya.
" suapin "
Yuvia terkekeh, namun tak urung ia pun mulai menyuapi anak manisnya ini sambil sesekali menyuapi dirinya sendiri.
Setelah menyuapi Habel, Yuvia membereskan peralatan makan sementara Habel sendiri sedang menghabiskan susu miliknya.
" mama berangkat dulu ya, ingat, baik baik kamu disekolah dan terpenting, jangan bolos " peringat Yuvia sambil menciumi pipi bulat anaknya.
Habel menganggukkan kepala mengerti, setelahnya ia kembali fokus mengikat tali sepatunya setelah memperhatikan sangat mama dengan mobil putihnya yang mulai hilang dari pandangan.
Setelah memakai sepatu, Habel segera naiki motor Vario baru miliknya membelah padatnya jalanan pagi ini.
Meninggalkan motor sport birunya yang terparkir rapi di garasi.
Beberapa hari yang lalu, karena Habel yang sudah muak menaiki motor sport miliknya yang lebih besar dari badannya itu ia memutuskan untuk meminta Yuvia — mamanya membelikan ia motor vario.
Detik itu juga, Yuvia langsung menyetujui permintaan sangat putra, dan segera menuju dealer motor saat itu juga, mencari motor sesuai dengan keinginan Habel.
Jujur saja, sebenarnya Yuvia sangat tak tega ketika melihat putranya menaikan motor tersebut, namun karena itu keinginannya sendiri, jadi Yuvia pun menghargainya.
_Bocah Kesayangan_
Sesampainya di lingkungan sekolah seperti biasa bocah itu langsung jadi pusat perhatian orang orang yang berada disana.
Tak memperdulikan hal yang sudah biasa ia dapatkan itu, Habel segera menghampiri tiga sahabatnya yang sudah menunggu tak jauh dari parkiran.
" motor baru? " tanya Fahmi sambil mengangkat sebelah alisnya.
![Beloved Boy [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/379294865-64-k855811.jpg)