Hari ini sudah seminggu terlewat sejak Habel sakit, setelah melewati hari hari dimana ia menjadi bocah yang lebih manja dan lebih rewel dari bisanya.
Kini ia sudah lebih baik, bahkan saat ini dirinya sudah bisa duduk sambil menonton TV di ruang keluarga sambil memangku setoples biskuit.
Saat sedang asik menonton kartun favoritnya di senin pagi ini, suara bel pintu yang dipencat berulang kali membuat Habel berdecak karena ketenangannya terganggu.
Dengan malas, Habel bangkit dari duduknya, ia meletakkan toples biskuit itu diatas meja dengan hati hati sebelum kemudian ia berjalan menuju pintu utama.
" iya sabar! " teriak Habel saat bel itu terus dipencat tanpa henti sejak tadi.
Saat Habel membuka pintu, hal yang pertama kali menyapa indra pengelihatan nya adalah Yessa yang sedang berdiri sambil melambaikan tangan kearahnya.
Anak itu masih memakai seragam sekolah lengkap, tapi sangat berantakan dengan kemeja yang tak ia masukkan, rambut yang acak acakan serta jas sekolah yang ia ikat dipinggang nya.
Habel menatapnya bingung, bukankah ini masih terbilang pagi? Tapi kenapa anak ini malah kesini?
" mommy dirumah nggak? "
" lo bolos ya?! "
Bukannya menjawab pertanyaan Yessa, Habel malah balik memberikan pertanyaan pada Yessa.
" hehehe.... iya " Yessa mengangkat kedua jarinya membentuk lambang victory.
" mommy dirumah nggak? " Yessa mengulang pertanyaan yang belum dijawab oleh Habel tadi.
Habel memutar bola matanya malas, ia menggelengka kepalanya sebagai jawaban, ia hendak mengatakan sesuatu namun belum juga Habel membuka mulutnya, Yessa sudah lebih dulu menarik anak itu masuk kedalam rumah.
" apaan sih tarik tarik! " kesal Habel sambil menghempaskan tangan Yessa yang menariknya.
Namun bukannya merespon, Yessa malah berjalan kembali menutup pintu rumah lalu menguncinya, kemudian ia mengintip dari Candela selama beberapa saat.
Setelah dirasa aman, ia menghembuskan nafas lega sebelum kemudian ia menghampiri Habel yang kini menatap datar kearahnya.
" hehehe "
Yessa mengaruk kepalanya yang tak gatal setelah melihat Habel yang mengabaikan dirinya, bocah itu kembali kearah ruang keluarga untuk melihat kartun favoritnya.
Yessa mengikuti langkah Habel, ia ikut mendudukkan bokongnya disamping Habel sambil ikut menonton kartun di TV, sesekali ia akan mencomot biskuit di toples Habel.
" udah mendingan? " tanyak Yessa masih mengambil biskuit di toples Habel.
" iya udah, besok dah mulai sekolah "
Yessa menganggukkan kepalanya, ia kembali mencomot biskuit itu.
Habel tentu saja kesal, saat Yessa hendak kembali mencomot biskuit itu, Habel memukul pelan tangan Yessa kemudian ia menjauhkan toples itu dari Yessa.
" pelit amat " kesal Yessa sambil mengelus tangannya yang baru saja dipukul oleh Habel.
Tidak sakit sebenarnya, namun ia hanya meng dramatis keadaan.
" biarin!, lagian lo juga langsung main comot aja nggak bilang bilang " balas Habel tak kalah kesal.
" ya udah, minta gue kalau gitu " ucap Yessa sambil hendak meraih toples itu.
Habel tentu saja langsung menyingkirkan toples itu dari Yessa, bahkan bocah itu sampai berdiri karena menghindari Yessa.
" ya elah bel, pelit amat "
KAMU SEDANG MEMBACA
Beloved Boy [ End ]
Novela JuvenilEnjoy this story guys! Publish : Maret 2024 End : Desember 2024
![Beloved Boy [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/379294865-64-k855811.jpg)