Yuvia memegangi pergelangan tangannya yang baru saja dilepaskan oleh Edward.
Pergelangan tangannya yang putih mulus itu kini tampak memerah dengan jejak tangan Edward yang sangat ketara.
Menyadari kesalahannya, Edward mengusap wajahnya dengan kasar, ia hendak memegang tangan Yuvia namun wanita itu terus menghindari dirinya.
" Yuvi maaf, aku nggak sengaja nyakitin kamu " ucap Edward penuh penyesalan.
Mendengar itu bukannya merasa lebih baik, Yuvia malah meliriknya sinis, dan hal tersebut sukses buat Edward terdiam ditempatnya.
" Dari dulu juga udah nyakitin" sinis Yuvia sambil mengusap halus pergelangan tangannya yang memerah.
Edward yang berdiri didepannya kini terdiam, bingung hendak merespon seperti apa.
Mereka berdua saling diam, tak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu.
Cukup lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing sampai kemudian Edward membuka mulutnya, mengucapkan seutas kalimat yang kembali buat Yuvia tatap sinis dirinya.
" Aku nggak suka kamu sakiti anak kita sampai nangis kayak gitu" Yuvia diam, sama sekali tak ada niatan untuk membalas ucapan Edward barusan.
" Yuvi, harusnya kalau Habel buat salah, kamu nasehatin baik baik, jangan dimarahin sampai nangis kayak gitu, aku sakit lihat anak kita nangis kayak gitu, jangan sampai kamu menjadi ibu yang gagal untuk Hab—"
Ucapan Edward terhenti saat Yuvia memotong kalimatnya dengan tawa yang cukup nyaring.
Edward bingung namun ia bisa melihat ujung mata Yuvia yang kini menurunkan air mata.
" Yuvi, kamu —"
" Kamu bilang apa tadi?, kamu sakit lihat Habel nangis kayak tadi?" Tanyanya dengan tawa yang masih terdengar, bahkan cairan bening itu semakin banjiri pipi tirusnya.
" Kamu pikir aku nggak?, AKU JUGA SAKIT MAS!" teriak Yuvia, seketika kini tatapannya menajam menatap kearah Edward yang terdiam.
" Tadi kamu bilang apa?, aku? Ibu yang gagal?, KAMU MAS, KAMU AYAH YANG GAGAL!!"
" KAMU BILANG KAMU SAKIT LIHAT HABEL NANGIS KAYAK GITU?!, AKU JAUH LEBIH SAKIT MAS, aku yang udah besarin Habel, aku yang rawat dia penuh kasih sayang "
Yuvia diam sejenak, tangannya dengan kasar menyeka air mata di pipinya sebelum kemudian ia lanjutkan ucapannya.
" Tapi mas, aku jauh lebih sakit saat lihat punggung anak anakku penuh dengan luka cambukan, YANG TERNYATA KAMU SENDIRI PELAKUNYA "
Mendengar teriakan Yuvia barusan Edward semakin terdiam ditempatnya, ia tak dapat merespon satupun ucapan Yuvia.
" Tega kamu mas!, tega kamu nyakitin anak kamu sendiri padahal mereka darah. Daging. Kamu . sendiri!" Ucap Yuvia penuh penekanan sambil tangannya menunjuk dengan kasar tepat pada dada Edward.
'' aku pikir...setelah aku serahkan semua anak anakku padamu, kamu akan merawatnya dengan penuh kasih sayang....ternyata aku salah!''
'' jahat kamu mas!, setelah kamu sakiti aku!, TEGA KAMU SAKITI ANAK ANAK KAMU SENDIRI!!''
'' aku hancur mas....aku hancur lihat anakku penuh luka seperti ituu....''
Flashback onn
Yuvia menyambut empat putranya yang baru saja tiba dengan perasaan sangat bahagia. Ia menciumi pipi semua putra putranya satu persatu.
untung saja tak ada Habel, jika ada, bisa dipadtikan bocah itu pasti akan tantrum melihat sang mama yang mencium orang lain selain dirinya.
![Beloved Boy [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/379294865-64-k855811.jpg)