Thirty - Eighth

5.4K 420 4
                                        

      Siang ini langit tampak begitu gelap dengan rintik tipis - tipis yang mulai turun membasahi bumi.

Habel dan ketiga temannya yang tadinya sedang asik bersantai di atap sekolah pun memutuskan untuk turun ke bawah -- mencari tempat yang nyaman untuk bersantai.

Setelah lama menimang - nimang tempat mana yang cocok untuk mereka bersantai, akhirnya mereka pun memutuskan untuk duduk di tangga sekolah.

Mereka tampak asik bercakap - cakap sambil bermain ponsel dengan posisi miring tanpa menghiraukan bahwa jam pelajaran sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu.

Mereka bertiga tentu saja mengabaikan itu, lebih memilih memainkan game mereka daripada harus bosan mendengarkan pelajaran di kelas.

Kecuali Fahmi tentunya, karena tepat saat bel pertanda pergantian pelajaran berdering begitu nyarin seantreo sekolah, bocah itu langsung bergegas masuk kedalam kelas untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Maklum saja, dia kan ketua osis, jadi harus menjadi contoh yang baik untuk murid murid yang lain.

Beberapa guru yang kebetulan mengajar dilantai tiga tentu saja melewati tiga murid mereka yang sedang asik memainkan game itu, namun mereka tak ada niatan sama sekali untuk menegur mereka.

Karena jika ada guru yang menegur, yang ada Aaron akan mengamuk diruang guru dan akan membuat guru tersebut dipecat.

'' njing! serang yang bener napa bel! " kesal Sadewa pada Habel yang dari awal permainan terlihat begitu ogah - ogahan.

Padahal tadi anak itu yang mengajak dirinya dan Aaron untuk bermain game, tapi dia juga yang ogah-ogahana memainkannya.

" lo ada masalah? " tanya Aaron tepat setelah mereka menyelesaikan permainannya yang berakhir kalah.

Aaron dan Sadewa kini perhatikan raut wajah Habel yang begitu lesu.

Bukannya menjawab pertanyaan Aaron barusan, Habel malah memajukan bibir bawahnya sambil tunjukkan raut memelas pada dua sohibnya itu.

Sadewa yang faham bahwa sahabatnya ini sedang dalam mode manja pun akhirnya memutuskan untuk merangkul pundak Habel dan langsung direspon dengan bocah  itu yang menyandarkan kepalanya pada pundak Sadewa.

" lagi pengen manja nih anak kayaknya Wa " ucap Aaron pada Sadewa sambil terkekeh.

'' mau apa? " tanya Aaron pada Habel yang dari tadi terus melihat ke arahnya.

Habel menggelengkan kepalanya lalu menyembunyikannya pada dada bidang Sadewa.                                                                                                                                           Aaron menghela nafas panjang, sepertinya anak ini benar - benar sedang dalam mode manja.

Aaron perhatikan sekelilingnya. Hujan kini sudah terlihat cukup deras membasahi lingkungan sekolahnya, sangat tak mungkin dirinya akan membawa bocah itu keluar dari lingkungan sekolah yang sangat membosankan ini.

Harusnya sih bisa, mengingat tadi pagi Fahmi membawa mobil dan Habel yang imunnya sangat kuat sehingga tak akan langsung terserang demam jika ia bawa menerobos hujan ke arah parkiran, rasanya ia bisa saja pergi dari lingkungan sekolah saat ini.

hanya saja dirinya saat ini seang sangat malas menyetir mobil dan Sadewa juga tak akan mau menyetir jika dalam kondisi hujan saat ini, jadi lebih baik mereka menghabiskan waktu di sekolah saja.

" mau ke kantin nggak? " tawar Sadewa dengan lembut dan langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Habel.

" ruang osis? " tawar Aaron dan kembali Habel menggelengkan kepalanya.

Beloved Boy [ End ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang