Habel terus menatap ke arah luar jendela sambil mengamati pemandangan yang dilewatinya.
Sementara di sampingnya, Yohan yang tengah menyetir itu bingung hendak memulai topik dari mana.
Karena daritadi Habel terus diam, tak mengeluarkan suara barang se huruf pun sejak tadi.
" Dek " panggil Yohan memulai pembicaraan. Namun seperti yang sudah sudah, Habel sama sekali tak merespon panggilannya.
Perasaan bersalah semakin menyelimuti dirinya, andai saja ia tak kelepasan membentak Habel seperti tadi, ia sangat yakin bahwa Habel tak akan seperti ini.
Sepertinya habis ini ia harus belajar untuk mengontrol emosinya supaya tak kelepasan seperti tadi.
" Dek, maafin Abang ya? Abang beneran nggak sengaja tadi, sumpah!" Ucapnya sambil mengangkat kedua jarinya membentuk lambang victory.
Namum Habel sama sekali tak menolehkan kepalanya, ia terlihat masih kukuh dalam pendiriannya, tak mau memaafkan abangnya itu.
Biar saja! Habis ini akan ia adukan kelakuan Abang pertamanya ini pada mamanya!
_Bocah Kesayangannya _
Sesampainya di halaman rumah Habel, bocah itu langsung turun dari mobil Yohan tepat setelah Yohan mematikan mesin mobil.
Bocah itu langsung berlari pada sang mama yang sedang merentangkan tangannya di depan rumah, sementara Yohan hanya bisa pasrah.
Saat dirinya keluar dari dalam mobil, Yohan dapat dengan jelas mendengarkan suara sang bungsu yang tengah mengadukan tentang dirinya di Bandung tadi.
" Pokoknya aku nggak mau sama Abang lagi! Dia galak aku nggak suka!" Kesalnya.
Sementara Habel sibuk mengadukan kelakuan sang kakak, Yuvia tampak mendengarkan sambil terkekeh gemas melihat anaknya yang sedang mengomel dengan bibir yang cemberut serta dahi yang mengkerut.
Baginya anaknya ini akan tampak begitu mengemaskan saat sedang mengomel seperti ini.
Setelah puas mengomel Habel mengeluarkan sesuatu dari plastik kresek hitam yang daritadi ia bawa.
Awalnya Yuvia penasaran, namun melihat benda yang dikeluarkan oleh Habel dari dalam kantung kresek itu, Yuvia tak bisa untuk menahan rasa terharunya.
" Tadi aku bikinin ini buat mama! " Ucap Habel riang sambil mengangkat mahkota bunga itu dihadapan wajahnya.
" Tapi bunganya layu..." Kembali cemberut Habel saat mengatakan kalimat itu.
" Nggak papa, makasih ya sayang "
Tangan Yuvia terulur hendak mengambil mahkota bunga tersebut, namun buru buru Habel menjauhkan mahkota itu dari tangan mamanya.
" No no no! Nggak boleh pakai sendiri, harus Habel yang pakaiin "
Hampir saja ia kecewa dengan sang anak, namun mendengar kalimat tersebut, rasanya hati Yuvia terasa begitu hangat.
Yuvia menundukkan kepalanya yang kemudian dipakaikan di atas kepala itu sebuah mahkota bunga yang tadi di rancang sedemikian rupa oleh Habel, meskipun kini bunga cantik itu sudah layu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beloved Boy [ End ]
Teen FictionEnjoy this story guys! Publish : Maret 2024 End : Desember 2024
![Beloved Boy [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/379294865-64-k855811.jpg)