Habel nampak berjalan lesu sambil menundukkan kepalanya ke jalanan yang begitu becek sisa hujan tadi siang. Gerimis tipis-tipis juga nampak turun namun tak sanggup tuk basahi seragam sekolah Habel.
Sepulang sekolah tadi, ia menolak tawaran dari teman temannya yang ingin mengantarkannya pulang, bahkan paksaan mereka pun Habel balik dengan ancaman.
Jadi berakhir seperti inilah dirinya sekarang. Berjalan seorang diri menuju rumahnya yang memiliki jarak lumayan dari sekolahnya.
Tepat saat ia sampai di belokan rumahnya, Habel berhenti sejenak pada mamang penjual es teh dipersimpangan jalan yang sedang tampak begitu senang menghitung uang hasil dagangannya hati ini.
" bang " panggil Habel sambil duduk di salah satu bangku depan kedainya.
Mamang penjual es teh tersebut menoleh sambil tersenyum pada Habel — pelanggan favoritnya, karena Habel tak pernah absen membeli es di tempatnya.
" ada apa dek? " tanya abang penjual es tersebut.
" numpang duduk sebentar ya "
" silahkan, nggak mau beli es teh nya "
" iya bang, manisnya biasa aja ya "
" sip "
Penjual es teh tersebut beranjak membuatkan pesanan untuk Habel sementara dirinya sendiri sibuk menatap pada halaman rumahnya yang tampak penuh dengan mobil dari sini.
" nih dek es nya ''
Melihat Habel yang tak merespon seperti biasanya, akhirnya mamang penjual itu pun mengikuti arah pandang Habel.
" bapak lo main ke rumah lagi? " tanya si penjual membuyarkan lamuan Habel.
Habel menatap sinis si penjual karena sudah mengejutkan dirinya, sementara si pelaku hanya menunjukkan dia jarinya sambil terkekeh kecil.
" kenapa? " tanya si penjual saat ia menyadari raut wajah Habel yang terlihat murung.
" nggak papa " singkat Habel.
" kalau lo mau jawab, nih es teh gua kasih gratis "
" serius? "
" iya, serius "
Habel menarik nafasnya sejenak sebelum mengeluarkan isi pikirannya, lumayan kan ia akan mendapatkan es gratis dengan modal cerita?
" jadi gue tuh bingung bang "
" bingung kenapa? " tanya si penjual yang sudah mulai kepo.
" mama sama papa tuh keliatannya pengen balikan deh bang, tapi gue tuh bingung "
" loh, bingung kenapa? Bagus dong kalau orang tuanya mau balikan, dimana-mana tuh orang seneng kalau orang tuanya mau balikan, ini malah bingung. Kenapa, papa lo orang jahat ya? "
" bukan gitu... "
" terus gimana? "
" gue tuh sebenarnya takut bang"
" takut kenapa? "
" kalau keluarga papa belum ada ada yang nerima mama gimana? Kalau mereka nyakitin mama gimana? Kalau papa bikin mama nangis gimana? "
Raut wajah bocah itu terlihat sangat sedih dan banyak pikiran, si penjual sampai menggelengkan kepalanya tak habis fikir.
" sejauh ini emang pernah ya papa kamu nyakitin mama kamu? "
Habel menggelengkan kepalanya.
" yakin sama gua, keluarga papa lo pasti udah nerima mama lo, kalau belum, ngapain papa lo tiap hari main ke rumah mama lo? "
Habel terdiam, jika dipikir pikir benar juga kata penjual es teh ini, jika memang keluarga papanya belum menerima sang mama, pasti neneknya akan ke rumahnya untuk melabrak atau paling parah menyuruh mamanya untuk menjauhi sangat papa. Seperti yang biasa ia lihat di sinetron.
Namun selama ini belum pernah, keluarga papanya belum ada satupun yang melabrak mama nya, apakah ini berarti sangat mama sudah diterima oleh keluarga papanya?
Lalu kenapa mereka belum juga balikan, apakah mereka masih menunggu dirinya?
Jika iya, berdosa sekali dirinya karena telah menjadi penghambat kebahagiaan kedua orang tuanya.
" kayaknya bener deh bang "
" kan?! Apa gue bilang " ucap penjual es teh itu dengan banga.
" kalau gitu gue pulang dulu bang, yang lain pasti udah nungguin "
" yoi, salam buat mama cantiknya ya "
Habel melayangkan tatapan sinis pada si penjual es teh dan dibalas dengan kekehan oleh orang tersebut.
Sepertinya Habel tau apa yang harus ia lakukan setelah ini.
_Bocah Kesayangan_
" nak, kamu yakin? " tanya Yuvia sekali lagi pada sang anak, memastikan jika Habel tak akan menyesal dengan keputusannya nantinya.
" Habel yakin kok mah, kalau itu yang akan menjadi kebahagiaan mama nantinya "
" kalau Habel belum siap, mama juga nggak papa kok kalau nggak usah "
" ma... Habel nggak papa kok, Habel malah seneng soalnya nanti tinggal sama papa dan abang abang "
" beneran? "
Habel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dan detik itu juga Yuvia langsung memeluk dengan erat tubuh sangat anak yang saat ini sudah beranjak dewasa.
" mama harus selalu bahagia, supaya Habel juga bahagia " bocah itu balik memeluk sangat mama dengan tak kalah erat.
Sementara itu, di jendela rumah, tampaknya Edward berserta putra putranya yang lain memperhatikan pasangan ibu dan anak itu yang saling berpelukan.
" kayaknya sudah deh bang " ucapan sang ayah mendapatkan tatapan tak percaya dari para anak anaknya.
" serius dad? "
" serius. Liat aja nanti "
Edward masih terpaku dengan pemandangan indah didepannya semetara anak anaknya yang lain tampak ber selebrasi karena sebentar lagi mereka akan satu rumah dengan mommy dan adik gemasnya.
" kayaknya gue harus naikin gaji karyawan deh buat rasa sukur gue " celetuk Yohan mendapatkan anggukan setuju dari para saudaranya.
" gue juga mau traktir temen temen gue nanti " ucap Mahameru tak mau kalah.
" gue ikut bang! "
" yeee... Lo mah apa apa juga ikut sa " ucap Javier sambil merangkul adik bungsunya yang tak akan menjadi bungsu lagi setelah ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beloved Boy [ End ]
Novela JuvenilEnjoy this story guys! Publish : Maret 2024 End : Desember 2024
![Beloved Boy [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/379294865-64-k855811.jpg)