Waktu terasa begitu cepat sekali berlalu, dan kini sudah terhitung dua bulan Edward melakukan pendekatan dengan si bungsu yang cukup berjalan lancar.
Meskipun pada awalnya Habel terasa sangat sulit untuk didekati, ia akhirnya bisa menaklukan anak manja keras kepala itu.
Bahkan kini Habel sudah berani meminta sesuatu pada sang ayah dan mau memanggilnya papa, tidak seperti awal mereka bertemu dahulu.
Seperti halnya saat ini, Habel tampak begitu menikmati es krim di tangannya sambil berjalan lambat di depan Edward yang sedang menyangking beberapa makanan tak sehat milik bocah itu.
Sebenarnya Edward ingin melarang dikarenakan makanan ini yang sangat tak sehat untuk di komsumsi, namun melihat betapa antusiasnya bocah itu ketika mengeret tangannya tadi, Edward jadi tak tega sendiri.
'' papa, mau duduk di situ '' belum sempat Edward membuka mulutnya untuk menjawab Habel, bocah itu sudah lebih dahulu berjalan cepat lalu duduk di rerumputan bawah pohon.
'' dek, itu kotor '' peringat Edward yang tak didengarkan oleh Habel.
Edward tau bahwa Habel mendengarkan perkataannya barusan, tapi bocah itu malah berpura pura tak mendengar.
'' pa, mana telur gulungnya?! '' pinta Habel sambil mengangkat sebelah tangannya.
Edward tanpak terdiam sesaat sebelum kemudian ia menyerahkan salah satu keresek yang malah mendaptkan decakan dari bocah itu.
'' itu Sempol pa! bukan telur gulung! '' kesal Habel sambil mencebikkan bibirnya.
Edward yang melihat betapa mengemaskannya raut wajah sang anak tak bisa untuk tak mencubit gemas pipinya.
Habel yang mendapatkan serangan mendadak seperti itu tentu saja langsung merengek kesal.
'' papa jangan gituu! '' kesal Habel sambil menepis tangan sang papa.
Edward tertawa, bukannya merasa kesal dengan perbuatan sang anak, Edward malah gemas dengan tingkah sang anak yang tampak semakin menggemaskan saat sedang kesal ini.
'' maafin papa ya dek...''
Edward mengacak pucuk kepala Habel dengan gerakan mengusap, kemudian ia berikan sekantung makanan berbahan dasar telur itu pada Habel.
Bocah itu tentu saja langsung sumringah, melupakan fakta bahwa ia tadi sedang kesal dengan ayahnya ini.
Edward tampak bahagia ketika menatap anaknya yang begitu lahap memakan makanan tersebut meskipun Edward tau bahwa makanan itu sama sekali tak sehat.
Setelah cukup lama mereka menikmati jajanan tak sehat itu, kini Habel mengajak sang papa menuju salah satu gerai es krim yang masih buka di sebrang jalan.
Setelah membeli satu cup es krim, kini mereka berdua tampak terlibat percakapan ringan didalam mobil yang bergerak menuju rumah Habel.
Tepat setelah mesin mobil itu dimatikan, bocah itu -- Habel. Langsung turun dari dalam mobil.
Edward menggelengkan kepalanya saat melihat betapa manjanya sang bungsu yang saat ini sedang memeluk penuh sayang sang mama yang menyambutnya di depan rumah.
Yuvia tampak tersenyum kearah Edward yang juga melakukan hal yang sama. Namun hal itu tak berlangsung lama sebab Habel dengan terburu menarik tangan Yuvia masuk ke rumah.
Saat Habel masuk kedalam rumah, diruang tengah tampak para saudaranya yang tengah asik bercanda tawa sambil memainkan game di ponsel mereka.
Javier yang melihat kedatangan Habel dan Yuvia sontak saja langsung keluar dari permainan yang mana hal itu membuat para saudaranya mengeram marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beloved Boy [ End ]
Novela JuvenilEnjoy this story guys! Publish : Maret 2024 End : Desember 2024
![Beloved Boy [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/379294865-64-k855811.jpg)