Twenty - Nineth

7.5K 527 4
                                        

    Setelah mendapatkan ceramah panjang lebar dari mamanya tadi pagi, kini Habel tampak cemberut karena Aaron terus menceramahi dirinya semenjak ia bangun tidur tadi.

ingin minta bantuan pada Fahmi dan Sadewa pun dirinya tak bisa, karena dua orang itu tampak begitu cuek sambil memainkan ponsel mereka masing masing.

'' kayaknya lo sekarang jadi bandel banget deh bel ''

mendengar perkataan Aaron barusan, kepala Habel yang dari tadi menatap tembok itu beralih pada Aaron yang menatap datar ke arahnya,

'' Habel nggak bandel!'' kesal Habel.

Nada suara bocah itu terdengar begitu serak karena kebanyakan menangis disertai batuk sejak tadi.

'' kalau nggak bandel ngapain kamu main hujan hujanan kayak gitu semalam, jadi sakit kan sekarang?!''

Habel diam, bibir bocah itu langsung melengkung ke bawah sekarang, hampr saja suara tangisnya keluar namun perkataan Aaron menghentikannya.

'' nggak usah nangis, dah gede kok cengeng banget!"

saat kalimat itu meluncur dari mulut Aaron, Habel langsung mengatupkan bibirnya rapat, tak ada suara tangisan yang terdengar, yang ada hanyalah lelehan air mata bocah itu berserta suara isakan yang menandakan bahwa bocah itu menangis dalam diam.

Habel ketika sedang sakit memang akan sulit untuk mengendalikan emosinysa, perasaanya pun aka sangat sensitif, bocah itu akan menangis saat dirasa ia mendapatkan perkataan nyelekit dalam hatinya.

Sadewa menghembuskan nafas sebelum kemudian ia meletakkan asal ponselnya, langkah kaki bocah itu membawanya menghampiri ranjang Habel.

tanpa banyak mengeluarkan suara, Sadewa merogok kantung celana abu abunya, mengambil sebuah plaster penurun panas sebelum kemudia ia menempelkannya didahi Habel.

Bocah itu hanya terdiam sambil terdiam, menikmati bagaimana plaster penurunan panas itu mulai tertempel di dahinya.

'' maaf... maafin Habel...maaf...'' lirih anak itu sambil sesenggukan.

tangan Habel mencengkram ujung seragam putih Sadewa, sementara Sadewa yang memang gampang luluh denag bocah itu sama sekali tak ada niatan untuk membalikkan badannya yang memang sudah berbalik, hendak meninggalkan Habel.

'' maaf...beneran maaf...janji besok beok udah nggak gitu lagi...''

suara Habel sudah kembali melirih, sangat pelan dengan mata memerah sayunya yang sungguh ketara.

tak lama kemudian, cengkraman pada seragam Sadewa terlepas, yang memadakan bahwa bocah itu sudah kembali menjelajah alam mimpinya.

Sadewa berbalik, tangannya terulur untuk membelai halus rambut lepek Habel sebelum kemudian Sadewa kembali duduk disofa.

" Langsung pulang nggak nih?, mami dah nelfon gue soalnya" tanya Fahmi sambil mengangkat ponselnya.

Dilayar ponselnya itu tertera nama ' mami' dengan emoticon love berwarna pink disampingnya. Sedang menelfon, dan seperti perkataan Fahmi barusan, sepertinya beliau menyuruh anak itu pulang.

Aaron tak menjawab pertanyaan Fahmi barusan, tatapan mata anak itu masih terfokus pada Habel yang tampak damai dalam tidurnya.

" Lo mau disini aja Ron?" Tanya Sadewa.

Tanpa mengeluarkan suara, Aaron menganggukkan kepalanya, setelahnya Sadewa dan Fahmi pun berpamit pulang karena waktu yang sudah hampir gelap.

Setelah kepergian Sadewa dan Fahmi, Aaron tampak terdiam sambil memandangi wajah Habel yang sedang tertidur.

Beloved Boy [ End ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang