10 : That's What I Want

4.5K 322 12
                                        

Rolls-Royce Phantom milik Fajar memasuki halaman rumah, ketika Lintang dan Neil baru saja pulang. Lelaki itu mengernyit, mendapati si kecil yang berada di gendongan sang istri. Bergegas Fajar turun lalu menghampiri Lintang.

Oh, ternyata tidur.

Fajar menghela napas lega.

Sementara Lintang langsung menghentikan langkah begitu menyadari kehadirannya. "Mas?"

"Sini, biar saya gendong," ujar Fajar, mengambil alih Neil dari gendongan Lintang, sedang Lintang mengambil alih tas kerja Fajar. Mereka melenggang masuk ke dalam dengan Lintang yang tidak lagi canggung menggamit lengannya. Fajar menoleh, memperlihatkan senyum tipis ketika Lintang mendongak, tersenyum padanya. "Neil nggak rewel, 'kan?"

"Enggak kok," geleng Lintang. "Malah dia happy main sama anaknya temen-temenku."

"Syukurlah," angguk Fajar, lega. Tapi bicara soal anak, sepertinya dia dan Lintang butuh waktu lebih lama untuk berdua. "Oh ya ..." Fajar mengalihkan topik, "minggu depan saya mau ajak kamu staycation ke Bali. Atau ... ya anggaplah honeymoon."

"Mas—"

"Kamu belum mandi, 'kan?" Fajar menyela cepat dengan mengalihkan topik.

Lintang mengangguk. "Udah, tapi sengaja pakai baju ini lagi. Tadi aku mandi di rumah Mami, karena sempet mampir ke sana." Atensinya disulihkan ke Neil. "Neil juga udah. Dan berhubung ada beberapa bajunya di sana, jadi aku gantiin pakai baju lain." Fajar manggut-manggut saat perhatian Lintang kembali padanya. "Mas, ada yang mau aku ceritain."

"Tentang apa?" tanya Fajar, mengerutkan dahi.

"Tentang—

"Akhirnya pulang juga kalian!" Fajar dan Lintang terlonjak mendengar suara heboh Selvi yang muncul dari arah dapur sambil membawa mangkuk. Wanita paruh baya itu mendekati mereka. "Ibu seharian di sini, nungguin Neil pulang. Ternyata sama kamu tho, Lin?" Bisa Fajar lihat senyum kaku Lintang. "Maaf ya, bukannya Ibu nggak percaya. Ibu malah seneng kalau kalian udah akrab gini. Tadi Ibu kira kalian cuma ke Indomaret atau ke mana gitu, nggak tahunya kata Mbak, kamu ajak Neil ketemu temen-temenmu."

"Maaf ya, Bu, aku ambil mainannya Ibu," gumam Lintang, merasa bersalah.

"No-no," bantah Selvi, diikuti gelengan. "It's okay. Neil is your son, so you are entitled to him."

Jawaban ibunya menerbitkan senyum di wajah Fajar maupun Lintang.

Selvi adalah orang yang paling antusias, ketika Fajar mengungkapkan keinginannya untuk meminta Lintang pada Risa dan Harry. Karena setelah sekian purnama Selvi menjodohkan—ah, ralat, memperkenalkan—Fajar dengan sederet wanita, tiba-tiba saja Fajar menjatuhkan perhatiannya pada sosok Renjana Lintang Muntaz. Tapi saat Fajar mengatakan itu, Lintang masih berhubungan dengan Langit. Oleh sebab itulah Harry menolaknya.

Usaha kedua setelah Lintang putus dari Langit, tapi Harry tetap menolaknya.

Bahkan bicara dengan Ares—kakak iparnya—pun tidak mengubah situasi.

Fajar akhirnya memberi jeda, sampai satu tahun kemudian, setelah kakak Lintang melamar seseorang lalu menikah, Fajar memberanikan diri untuk menikahi Lintang usai melakukan pendekatan selama enam bulan lamanya. Jadi kalau dibilang pernikahan singkat, Fajar akan dengan tegas membantah. Sebab perjuangannya menikahi putri kedua Harry Muntaz nggak segampang itu.

"Ya sudah, kayaknya kalian capek banget. Ibu pamit ya?" tukas Selvi.

"Ibu nggak makan dulu di sini?" Pertanyaan Lintang berhasil menginterupsi niat Selvi.

Slow Burn [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang